Info Seminar: An International Seminar on IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

February 12, 2013 at 2:01 am | Posted in Seminar-seminar | 8 Comments

Info Seminar: An International Seminar on IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

Leave a comment

February 11, 2013 by zainabzilullah

Husain Heriyanto

Bismillahi wa billahi w-alhamdulillah,

Salam rekan-rekan ACRoSS – aktivis peradaban, pencinta ilmu pengetahuan, pengkhidmat kebijaksanaan
Juga Penasehat ACRoss: Pak Haidar Bagir, Pak Osman Bakar, Pak Zainal Abidin Bagir

Izinkan saya kirimkan Surat Undangan dan Poster sebuah Seminar Internasional tentang Sains-Teknologi-Budaya Republik Islam Iran yang akan diselenggarakan di FIB-UI pada 18 Pebruari 2013 nanti.

Insya Allah, buku saya -dengan kapasitas Direktur ACRoSS- berjudul “Revolusi Saintifik Iran” (UI Press, 2013) akan diluncurkan pada kesempatan yang sama. Disamping itu akan ada Eksibisi Foto dan Film tentang Perkembangan Sains dan Teknologi Rep. Islam Iran; juga pertunjukan musik tradisional Iran.

O ya, khusus untuk aktivis ACRoSS, saya bocorkan sebuah info bahwa akan ada bagi-bagi hadiah (door prize) buku “Revolusi Saintifik Iran” bagi 150 pendaftar seminar pertama.

Sampai jumpa di Gedung IX FIB-UI, Depok tgl 18 Peb. nanti, insya Allah.

Terima kasih
Wassalam
Husain Heriyanto

 

Izinkan saya untuk mengelaborasi sedikit latar belakang dan tujuan penyelenggaraan seminar ini. Tema seminar memang tentang Iran, khususnya mengenai perkembangan sains-teknologi yg spektakuler di negeri itu dalam kondisi yg sulit. Namun, konteks seminar adalah bagaimana Indonesia bisa mengambil pelajaran dari fenomena unik ini dan terdorong untuk menjalin hubungan saintifik dan budaya antara kedua negara Muslim yg non-Arab ini. Pembicara pun sebagian besar adalah sarjana Indonesia, yg secara alamiah tentu akan membahas Iran dalam perspektif Indonesia. Jadi, seminar ini bukan hanya mengundang sarjana Iran untuk menceramahi kita; tetapi bagaimana kita secara aktif belajar dari Iran untuk kemajuan sains-teknologi Indonesia.

Sebagaimana yg kerap dikemukakan almarhum Cak Nur, umat Islam Indonesia perlu menggali salah satu akar penting tradisi intelektual Islam, yaitu Persia (Iran). Dalam peradaban Islam yg lalu, para sarjana Muslim Iran yang membangun sains, filsafat, tasawuf dan sastra; sementara orang-orang Arab sibuk berkutat dalam masalah politik dan kekuasaan. Dan sekarang, setelah Revolusi Islam 1979, Iran kembali masuk dalam jajaran terdepan dalam kemajuan sains-teknologi.

Iran bisa menjadi partner yang dapat diandalkan untuk pengembangan sains-teknologi tanah air kita untuk masa depan. Selama ini bangsa kita berkiblat kepada negara-negara Barat (AS dan Eropa) dan Jepang, lalu Korea Selatan, Taiwan, dan China. Hasilnya: sudah 67 tahun merdeka kita masih bergantung kepada pihak asing dalam iptek. Negara-negara asing ini enggan mentransfer sains-teknologi terutama yg dianggap bernilai ilmiah dan praktis tinggi. Saya sempat berdiskusi dengan sejumlah pengamat dan peneliti di bidang industri teknologi tinggi dan kami temukan bahwa perusahaan2 asing yang menggunakan teknologi tinggi tidak pernah mengangkat sarjana Indonesia sebagai pimpinan/direksi bidang R&D (riset dan pengembangan). Hampir semua direksi/manajer/pimpinan yang diisi oleh tenaga Indonesai adalah berurusan dengan marketing atau PR atau semacam itu; tapi, urusan rahasia dapur industri mengenai sanis-teknologi dikuasai oleh orang asing.

Oleh karena itu, banyak tamatan ITB atau ITS yg bekerja di bidang perminyakan dan pertambangan tetapi urusan marketing atau PR. Jadi, ilmuwan/insinyur/tenaga ahli kita hanya dipakai untuk menjual barang mereka ke pasar kita sendiri (atau internasional) dan juga tameng (sbg PR) untuk berhadapan dengan pemerintah/masyarakat kita sendiri. Coba saja tengok perusahaan2 seperti Newmont, ExxonMobil, Freeport dll, sarjana2 Indonesia lebih banyak dipakai di lini yg tak berkaitan langsung dengan penguasaan sains-teknologi; kalaupun ada biasanya hanya sebagai lapisan pendukung. Kita juga masih ingat bagaimana perusahaan Black Berry (BB) hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produk-produk mereka tetapi bikin pabrik di negeri lain. Negeri kita memang hanya dianggap pasar empuk barang2 asing.

Beberapa kawan saya malah menduga kuat bahwa hal itu (pembonsaian kapasitas iptek Indonesia) memang didesain sejak dini agar bangsa Indonesia -yg sangat kaya sumber daya alam – tetap bergantung kepada asing. Menurut hemat saya, analisis ini tentu saja tidak menafikan faktor keengganan kita sendiri selaku bangsa untuk menekuni penguasaan sains-teknologi. Terlepas dari apakah hal itu memang desain atau tidak, yg pasti adalah bangsa kita kenyataannya masih jauh dari kemandirian dalam iptek terutama untuk sains2 dasar dan teknologi tinggi. Fakta lainnya adalah tawaran2 beasiswa dari negara2 Barat umumnya hanya berlaku untuk program2 studi seperti demokrasi, pluralisme, politik liberal, feminisme, terorisme dan semacamnya. Jangan sekali-kali berharap Harvard University atau Oxford University, misalnya, menawarkan beasiswa terbuka untuk sains bioteknologi, nanoteknologi atau nuklir.

Nah, berbeda dengan negara2 Barat, Iran sangat terbuka untuk berbagi pengetahuan ilmiah kepada negara2 berkembang apalagi dunia Muslim. Hal ini sudah dinyatakan beberapa kali oleh pemimpin Iran bahwa prestasi sains-teknologi Iran adalah juga milik negeri-negeri Muslim. Pada bulan November 2012 lalu, Wapres Iran urusan Sains dan Teknologi, Dr. Nasrin Soltankhah, mengumumkan diluncurkannya program “Great Prophet World Prize”, semacam Hadiah Nobel dwi tahunan untuk ilmuwan/peneliti Muslim seluruh dunia dalam tiga bidang: kedokteran, bioteknologi, dan nanoteknologi. Wapres perempuan Iran itu pun menawarkan bantuan dan kerjasama sepenuhnya bagi negara-negara Muslim untuk mengembangkan sains dan teknologi. Di lapangan, Iran sudah membantu negara2 tetangganya Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Irak, Turki, Suriah, Lebanon, Azerbaijan, Armenia, dan Sudan membangun pembangkit listrik. Menurut Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN kita, yang pernah berkunjung ke Iran ketika menjabat direktur PLN, Iran adalah satu-satunya negara Islam yg bisa membuat turbin dan pembangkit listrik sepenuhnya secara mandiri.

Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, pasti memiliki daya tarik yang kuat bagi Iran untuk melakukan kerjasama di bidang iptek. Dan Iran sudah sering menunjukkan niat itu. Sayangnya, kita tidak merespons kesempatan emas itu. Entah kenapa, para pejabat kita lebih memilih sebagai broker perusahaan2 asing Barat yang mengeksploitasi kekayaan alam kita… lebih memilih sebagai perakit produk2 Jepang…lebih memilih penjual produk2 China.

Kenapa kita tidak menyambut tawaran Iran untuk bersama-sama sebagai negara pencinta kemerdekaan dan perdamaian mengembangkan sains-teknologi guna membangun bangsa yg berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan? Bukankah hal itu sejalan doktrin Bung Karno tentang TRISAKTI? Bukankah realitas Republik Islam Iran yang teguh dengan prinsip independensi, kedaulatan dan martabat bangsa sejalan dengan cita-cita proklamator kita?

Wassalam
Husain Heriyanto

Catt.
Berikut saya lampirkan latar belakang dan tujuan seminar.

An International Seminar on
IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE
For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

1. BACKGROUND
Indonesian Vice President Boediono, in a meeting with Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei on the sidelines of the 16th NAM in Tehran last August, said there are many grounds for economic and cultural cooperation between Iran and Indonesia. While Indonesian Foreign Minister Marty M. Natalegawa in a meeting with his Iranian counterpart Ali Akbar Salehi underscored the importance of the expansion of his country’s ties with Iran, and called for the development of Tehran-Jakarta relations in line with the two nations’ common interests.
Indonesian Ambassador to Tehran Dian Wirengjurit underlined the necessity for the further expansion of relations with Iran, and said there are abundant common grounds between the two countries in various fields of culture, religion and economy. Wirengjurit mentioned that Iran has made good progress in building the country’s infrastructure for supplying water, electricity, natural gas, telecommunication, road and rail; in this regard, Jakarta is willing to take technological help from Iran.
In reference to those intentions for expanding cooperation between Iran and Indonesia, Iranian President Mahmoud Ahmadinejad highlights that the Iranian nation’s progress in science and technology will serve the interests of human society. Iran has sought scientific progress and technological achievements not to dominate other nations but to promote friendship, love and justice among nations to maintain the ultimate goal of advancing the human society.
Iran has made huge achievements in various fields of science and technology, from nuclear science and technology to stem cell, biotechnology and nanotechnology. Royal Society published its report in 2011 that Iran is the fastest growing country for science. Iran has the fastest rate of increase in scientific publication in the world in which its output rose 18-fold between 1996 and 2008, from 736 published papers to 13,238. While a 2010 report by Canadian research firm Science-Metrix has put Iran in the top rank globally in terms of growth in scientific productivity with a 14.4 growth index followed by South Korea with a 9.8 growth index. According to the Institute for Scientific Information (ISI), Iran increased its academic publishing output nearly tenfold from 1996 to 2004, and has been ranked first globally in terms of output growth rate.

2. OBJECTIVES
Based on the above-mentioned description, the Faculty of Humanities, University of Indonesia in cooperation with the Islamic Republic of Iran’s Embassy in Jakarta, will convene an international seminar with the objectives as follows;
1. To establish cultural and scientific cooperation between Indonesia and Iran.
2. To expand further cooperation between two countries in the development of science and technology
3. To promote good relationship and friendship between two countries
4. To share Iran’s scientific progress and technological achievements
5. To help bridge cooperation between Indonesian universities and Iranian universities in the academic and scientific enterprises.

Advertisements

World Philosphy Day by UNESCO

December 1, 2010 at 2:13 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

Bismihi Ta’al

Dear all researchers of ACRoSS

Salam

Sebagaimana yang dimaklumi, saya baru saja turut serta dalam Kongres Hari Filsafat Dunia, World Philosophy Day 2010 di Tehran (21-24 Nov). Sejak tahun 2005, World Philosophy Day (WPD) setiap tahun diselenggarakan oleh UNESCO dalam upaya memperkenalkan filsafat  sebagai media dialog antar kebudayaan dan peradaban. Setelah tahun lalu di Rusia, tahun ini diselenggarakan di Tehran – Iran , dengan tema “Philosophy: Theory and Practice”.

Hadir sekitar 100 tamu undangan dari 42 negara seperti China, Korea, Jepang, USA, UK, Hungaria, Rusia, Polandia, Jerman, Perancis, Kanada, Swiss, Italia, Brasil, Nigeria, Libanon, Tunisia, Kenya, Mesir, Maroko, negara2 Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara di samping dari Iran sendiri yg paling banyak.

Continue Reading World Philosphy Day by UNESCO…

Philosophy Emerging from Culture: Islamic Thought and Indonesian Culture

December 31, 2008 at 2:40 am | Posted in Seminar-seminar | 1 Comment

A Set of Conferences across Java

(Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang)

5 – 15 January 2009

 

Philosophy Emerging from Culture:

Islamic Thought and Indonesian Culture

 

Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, in cooperation with The Council for Research in Values and Philosophy (CRVP), the Catholic University of America, Washington, the International Society for Islamic Philosophy (ISIP) and Mizan Publisher, is organizing a series of conferences in 10 host institutions:

Continue Reading Philosophy Emerging from Culture: Islamic Thought and Indonesian Culture…

Islamic Thought and Indonesian Culture

December 23, 2008 at 8:19 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

Philosophy Emerging from Culture:

Islamic Thought and Indonesian Culture

A set of conferences across Java

(Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang)

January 2009 Java, Indonesia

Background

Global times now endow — and challenge – us with a broad diversity of cultures and civilizations. At the same time the progressive deepening of human concerns reaches beyond what is clear and distinct to what is of meaning and value, and beyond what is universal and necessary to the free human creativity of diverse peoples. This directs attention to the way persons and communities, working cumulatively over time and space have generated their cultural traditions. These two dimensions: one of global breadth and the other of the depth of the human spirit, now combine to open new sources for the human spirit.

There is a need to “rethink philosophy” in order to enable the vision of philosophy to be more inclusive and profound. In this light, there is an opportunity of many world cultures and civilizations to formulate their own heritages their philosophical insights and contributions. The goal will be to enrich philosophical awareness so that its horizons can be broad enough for all peoples to be truly at home therein

Continue Reading Islamic Thought and Indonesian Culture…

After Darwin

November 29, 2008 at 6:08 am | Posted in Artikel: Wawasan, Seminar-seminar | Leave a comment

http://www.big-picture.tv/transcripts/Elisabet Sahtouris.pdf

The following is mirrored from its source at: http://www.big-picture.tv/transcripts/Elisabet Sahtouris.pdf

After Darwin

Dr. Elisabet Sahtouris talks to Big Picture about reuniting
spirituality with science in order to form a new world view
30 August 2003
Wasan Island, Canada
a Barbara Luna Production

Part One:
Humanity in crisis, sustainability, learning from living systems

You may wonder what an evolution biologist is doing on a “World Commission for Global Consciousness and Spirituality” and that certainly is an interesting question. Because I wouldn’t have guessed myself that I would be doing this kind of work. But trained as a western scientist I came to feel that the world view I was taught was too narrow, like a suit one had outgrown, and was searching for the broader context for what a Western science would be. I’ve been working on that now for quite a few decades and have come to the view that consciousness is not a late emergent product of a material evolution but the exact opposite, the source of all material evolution. So I’ve come to believe that spirituality and science were separated only for historic reasons and that it’s time now to reunite them in a single world view that can encompass the best of our spiritual traditions and the best of our scientific traditions.

Continue Reading After Darwin…

Dr. Fanaei Eskhevari on Islamic Philosophy of Politics

November 20, 2008 at 9:06 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

picture-004In November 13, 2008, Dr. Fanaei Eshkevari, a scholar from Imam Khomeini Education and Research Institute, gave a public lecture in the University of Paramadina. This program is conducted by ACRoSS in a collaboration with Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina. The theme of the lecture is “Relation between Religion and Politics: Islamic Perspective.”

In the lecture, Dr. Fanaei started with the explanation that before we elaborate politics from philosophical perspective or the political philosophy, we should understand what philosophy is; it is just because the political philosophy is a branch of the philosophy. Philosophy is, Dr Fanaei explained, rational thinking about everything. Science starts from empirical observation, but philosophy doesn’t. Philosophy is a rational analysis and logical argumentation.

Continue Reading Dr. Fanaei Eskhevari on Islamic Philosophy of Politics…

Sains dan Pencarian Makna

September 22, 2008 at 4:04 am | Posted in Seminar-seminar, Uncategorized | 1 Comment

Sains dan Pencarian Makna

Menyiasati Konflik Tua antara Sains dan Agama*

Dr. F. Budi Hardiman

Di samping agama dan filsafat, sains merupakan salah satu bentuk pengetahuan manusia yang gigih mencari makna. Mungkin sains tidak menuntaskan banyak misteri kehidupan manusia, seperti misteri asal-usul kehidupan dan misteri kematian, namun langkah-langkah untuk memecahkan enigma-enigma seperti itu tampaknya berjalan progresif dalam sains. Kesan bahwa sains ingin menyaingi agama atau bahkan menggantikannya dalam perannya sebagai juru tafsir dunia cukuplah beralasan. Sains berambisi menjadi sistem pandangan dunia menyeluruh, dan itulah yang terjadi dalam scientism. Di dalam saintisme kesahihan agama dalam memaknai dunia ditolak. Di tengah-tengah dominasi saintistis itu di abad ke-20 terjadi suatu tren yang sebaliknya: Kesahihan sains dalam memaknai dunia juga dipersoalkan.

Secara garis besar ada tiga posisi untuk memahami hubungan antara sains dan agama dalam pencarian makna. Dengan “makna” di sini dimaksudkan terutama ‘kebenaran’. Pertama, sains dan agama memiliki teritorium yang berbeda dalam pencarian makna. Kedua, agama dan sains dapat dibawa ke dalam arena yang sama dalam pencarian makna. Dan ketiga, agama dan sains menerangi realitas yang sama namun dengan perspektif yang berbeda. Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bagaimana filsafat sains kontemporer bergerak ke posisi kedua dalam pencarian makna. Setelah itu saya ingin memberi evaluasi dengan mempertahankan posisi ketiga.

Continue Reading Sains dan Pencarian Makna…

Science, Cultures and the Future of Humanity

August 1, 2008 at 1:58 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

News and events

Second International Forum

Science, Cultures and the Future of Humanity :

Could Knowledge, Spirituality and Action Re-Shape the World?


Doha, May 30th – June 1st 2008

Organized by the Aljazeera Centre for Studies
and the Interdisciplinary University of Paris
in partnership with the “Science and Religion in Islam” Research Group

http://www1.aljazeera.net/acs/sciencecultures.html

International Conference Science, Technology, and Human Values in Asian Development

August 1, 2008 at 1:04 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

July 27 – 29, 2008
National University of Singapore

Hosted by: Department of Philosophy, National University of Singapore (NUS)
with support from: Science, Technology and Society Research Cluster, NUS
and the Religion Research Cluster, NUS

Organizers: Dr Edward Omar Moad (Main Organizer), Dr Loy Hui Chieh, Dr Axel Gelfert (Co-Organizers)

Venue:
USP Conference Room, Block ADM Level 7

Continue Reading International Conference Science, Technology, and Human Values in Asian Development…

Notulensi Seminar: KULTUR SAINTIFIK DAN RASIONALITAS DALAM ISLAM

July 21, 2008 at 4:36 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

Notulensi Seminar:

‘Kultur Saintifik dan Rasionalitas Dalam Islam’

Aula Nurcholish Madjid

Senin, 26 Februari 2007

KASET I

Moderator

Assalamualaikum Wr. Wb.

Izinkanlah saya di sini untuk membawakan acara. Acara pertama adalah pembukaan. Marilah kita buka acara ini dengan mengucapkan Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Berlanjut ke acara kedua adalah sambutan. Sambutan yang pertama akan disampaikan oleh panitia yaitu Aan Rukmana.

Aan Rukmana

Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Osman Bakar, bapak Mulyadhi Kartanegara, bapak Nirwan Ahmad Arsuka, bapak Husein Heriyanto, kepada bapak-bapak dan ibu-ibu serta semuanya. Insyaallah hari ini kita akan mengadakan public discussion yang akan diisi oleh Prof. Dr. Osman Bakar dan akan ditanggapi oleh Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Nirwan Ahmad Arsuka, dan Husain Heriyanto. Acara hari ini merupakan gabungan dari PSIK, Avicenna Center for Religion and Science Studies (ACROSS) ICAS dan CIPSI.

Moderator

Terima kasih saudara Aan. Untuk sambutan selanjutnya dari Chairman Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Dr. Yudi Latif. Kepadanya kami persilahkan.

Dr. Yudi Latif

Assalamualaikum Wr. Wb. Pertama saya berjumpa kembali dengan Dr. Osman Bakar ketika ada seminar di Strasbourg. Tentu kehadiran beliau di sini sangat bermakna karena salah satu dari sedikit ilmuan Islam di Asia Tenggara yang sangat konsisten dalam mengembangkam pemikiran-pemikiran Islam, terutama dengan pemikiran filsafat Islam. Saya kira juga di sini ada yang lain yaitu Prof. Mulyadhi, cuma beliau yang masih tawadhu di tengah hiruk pikuk politik Indonesia dan masih bisa menelurkan karya, tidak tergoda dengan angin modernitas yang sedang meniup angin intelektual di Jakarta. Pak Mulyadhi ketika muda sudah produktif, di umur 30an dan tentu saja ini memberi teladan yang baik bagi kita yang muda.

Continue Reading Notulensi Seminar: KULTUR SAINTIFIK DAN RASIONALITAS DALAM ISLAM…


Entries and comments feeds.