Info Seminar: An International Seminar on IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

February 12, 2013 at 2:01 am | Posted in Seminar-seminar | 8 Comments

Info Seminar: An International Seminar on IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

Leave a comment

February 11, 2013 by zainabzilullah

Husain Heriyanto

Bismillahi wa billahi w-alhamdulillah,

Salam rekan-rekan ACRoSS – aktivis peradaban, pencinta ilmu pengetahuan, pengkhidmat kebijaksanaan
Juga Penasehat ACRoss: Pak Haidar Bagir, Pak Osman Bakar, Pak Zainal Abidin Bagir

Izinkan saya kirimkan Surat Undangan dan Poster sebuah Seminar Internasional tentang Sains-Teknologi-Budaya Republik Islam Iran yang akan diselenggarakan di FIB-UI pada 18 Pebruari 2013 nanti.

Insya Allah, buku saya -dengan kapasitas Direktur ACRoSS- berjudul “Revolusi Saintifik Iran” (UI Press, 2013) akan diluncurkan pada kesempatan yang sama. Disamping itu akan ada Eksibisi Foto dan Film tentang Perkembangan Sains dan Teknologi Rep. Islam Iran; juga pertunjukan musik tradisional Iran.

O ya, khusus untuk aktivis ACRoSS, saya bocorkan sebuah info bahwa akan ada bagi-bagi hadiah (door prize) buku “Revolusi Saintifik Iran” bagi 150 pendaftar seminar pertama.

Sampai jumpa di Gedung IX FIB-UI, Depok tgl 18 Peb. nanti, insya Allah.

Terima kasih
Wassalam
Husain Heriyanto

 

Izinkan saya untuk mengelaborasi sedikit latar belakang dan tujuan penyelenggaraan seminar ini. Tema seminar memang tentang Iran, khususnya mengenai perkembangan sains-teknologi yg spektakuler di negeri itu dalam kondisi yg sulit. Namun, konteks seminar adalah bagaimana Indonesia bisa mengambil pelajaran dari fenomena unik ini dan terdorong untuk menjalin hubungan saintifik dan budaya antara kedua negara Muslim yg non-Arab ini. Pembicara pun sebagian besar adalah sarjana Indonesia, yg secara alamiah tentu akan membahas Iran dalam perspektif Indonesia. Jadi, seminar ini bukan hanya mengundang sarjana Iran untuk menceramahi kita; tetapi bagaimana kita secara aktif belajar dari Iran untuk kemajuan sains-teknologi Indonesia.

Sebagaimana yg kerap dikemukakan almarhum Cak Nur, umat Islam Indonesia perlu menggali salah satu akar penting tradisi intelektual Islam, yaitu Persia (Iran). Dalam peradaban Islam yg lalu, para sarjana Muslim Iran yang membangun sains, filsafat, tasawuf dan sastra; sementara orang-orang Arab sibuk berkutat dalam masalah politik dan kekuasaan. Dan sekarang, setelah Revolusi Islam 1979, Iran kembali masuk dalam jajaran terdepan dalam kemajuan sains-teknologi.

Iran bisa menjadi partner yang dapat diandalkan untuk pengembangan sains-teknologi tanah air kita untuk masa depan. Selama ini bangsa kita berkiblat kepada negara-negara Barat (AS dan Eropa) dan Jepang, lalu Korea Selatan, Taiwan, dan China. Hasilnya: sudah 67 tahun merdeka kita masih bergantung kepada pihak asing dalam iptek. Negara-negara asing ini enggan mentransfer sains-teknologi terutama yg dianggap bernilai ilmiah dan praktis tinggi. Saya sempat berdiskusi dengan sejumlah pengamat dan peneliti di bidang industri teknologi tinggi dan kami temukan bahwa perusahaan2 asing yang menggunakan teknologi tinggi tidak pernah mengangkat sarjana Indonesia sebagai pimpinan/direksi bidang R&D (riset dan pengembangan). Hampir semua direksi/manajer/pimpinan yang diisi oleh tenaga Indonesai adalah berurusan dengan marketing atau PR atau semacam itu; tapi, urusan rahasia dapur industri mengenai sanis-teknologi dikuasai oleh orang asing.

Oleh karena itu, banyak tamatan ITB atau ITS yg bekerja di bidang perminyakan dan pertambangan tetapi urusan marketing atau PR. Jadi, ilmuwan/insinyur/tenaga ahli kita hanya dipakai untuk menjual barang mereka ke pasar kita sendiri (atau internasional) dan juga tameng (sbg PR) untuk berhadapan dengan pemerintah/masyarakat kita sendiri. Coba saja tengok perusahaan2 seperti Newmont, ExxonMobil, Freeport dll, sarjana2 Indonesia lebih banyak dipakai di lini yg tak berkaitan langsung dengan penguasaan sains-teknologi; kalaupun ada biasanya hanya sebagai lapisan pendukung. Kita juga masih ingat bagaimana perusahaan Black Berry (BB) hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produk-produk mereka tetapi bikin pabrik di negeri lain. Negeri kita memang hanya dianggap pasar empuk barang2 asing.

Beberapa kawan saya malah menduga kuat bahwa hal itu (pembonsaian kapasitas iptek Indonesia) memang didesain sejak dini agar bangsa Indonesia -yg sangat kaya sumber daya alam – tetap bergantung kepada asing. Menurut hemat saya, analisis ini tentu saja tidak menafikan faktor keengganan kita sendiri selaku bangsa untuk menekuni penguasaan sains-teknologi. Terlepas dari apakah hal itu memang desain atau tidak, yg pasti adalah bangsa kita kenyataannya masih jauh dari kemandirian dalam iptek terutama untuk sains2 dasar dan teknologi tinggi. Fakta lainnya adalah tawaran2 beasiswa dari negara2 Barat umumnya hanya berlaku untuk program2 studi seperti demokrasi, pluralisme, politik liberal, feminisme, terorisme dan semacamnya. Jangan sekali-kali berharap Harvard University atau Oxford University, misalnya, menawarkan beasiswa terbuka untuk sains bioteknologi, nanoteknologi atau nuklir.

Nah, berbeda dengan negara2 Barat, Iran sangat terbuka untuk berbagi pengetahuan ilmiah kepada negara2 berkembang apalagi dunia Muslim. Hal ini sudah dinyatakan beberapa kali oleh pemimpin Iran bahwa prestasi sains-teknologi Iran adalah juga milik negeri-negeri Muslim. Pada bulan November 2012 lalu, Wapres Iran urusan Sains dan Teknologi, Dr. Nasrin Soltankhah, mengumumkan diluncurkannya program “Great Prophet World Prize”, semacam Hadiah Nobel dwi tahunan untuk ilmuwan/peneliti Muslim seluruh dunia dalam tiga bidang: kedokteran, bioteknologi, dan nanoteknologi. Wapres perempuan Iran itu pun menawarkan bantuan dan kerjasama sepenuhnya bagi negara-negara Muslim untuk mengembangkan sains dan teknologi. Di lapangan, Iran sudah membantu negara2 tetangganya Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Irak, Turki, Suriah, Lebanon, Azerbaijan, Armenia, dan Sudan membangun pembangkit listrik. Menurut Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN kita, yang pernah berkunjung ke Iran ketika menjabat direktur PLN, Iran adalah satu-satunya negara Islam yg bisa membuat turbin dan pembangkit listrik sepenuhnya secara mandiri.

Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, pasti memiliki daya tarik yang kuat bagi Iran untuk melakukan kerjasama di bidang iptek. Dan Iran sudah sering menunjukkan niat itu. Sayangnya, kita tidak merespons kesempatan emas itu. Entah kenapa, para pejabat kita lebih memilih sebagai broker perusahaan2 asing Barat yang mengeksploitasi kekayaan alam kita… lebih memilih sebagai perakit produk2 Jepang…lebih memilih penjual produk2 China.

Kenapa kita tidak menyambut tawaran Iran untuk bersama-sama sebagai negara pencinta kemerdekaan dan perdamaian mengembangkan sains-teknologi guna membangun bangsa yg berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan? Bukankah hal itu sejalan doktrin Bung Karno tentang TRISAKTI? Bukankah realitas Republik Islam Iran yang teguh dengan prinsip independensi, kedaulatan dan martabat bangsa sejalan dengan cita-cita proklamator kita?

Wassalam
Husain Heriyanto

Catt.
Berikut saya lampirkan latar belakang dan tujuan seminar.

An International Seminar on
IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE
For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

1. BACKGROUND
Indonesian Vice President Boediono, in a meeting with Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei on the sidelines of the 16th NAM in Tehran last August, said there are many grounds for economic and cultural cooperation between Iran and Indonesia. While Indonesian Foreign Minister Marty M. Natalegawa in a meeting with his Iranian counterpart Ali Akbar Salehi underscored the importance of the expansion of his country’s ties with Iran, and called for the development of Tehran-Jakarta relations in line with the two nations’ common interests.
Indonesian Ambassador to Tehran Dian Wirengjurit underlined the necessity for the further expansion of relations with Iran, and said there are abundant common grounds between the two countries in various fields of culture, religion and economy. Wirengjurit mentioned that Iran has made good progress in building the country’s infrastructure for supplying water, electricity, natural gas, telecommunication, road and rail; in this regard, Jakarta is willing to take technological help from Iran.
In reference to those intentions for expanding cooperation between Iran and Indonesia, Iranian President Mahmoud Ahmadinejad highlights that the Iranian nation’s progress in science and technology will serve the interests of human society. Iran has sought scientific progress and technological achievements not to dominate other nations but to promote friendship, love and justice among nations to maintain the ultimate goal of advancing the human society.
Iran has made huge achievements in various fields of science and technology, from nuclear science and technology to stem cell, biotechnology and nanotechnology. Royal Society published its report in 2011 that Iran is the fastest growing country for science. Iran has the fastest rate of increase in scientific publication in the world in which its output rose 18-fold between 1996 and 2008, from 736 published papers to 13,238. While a 2010 report by Canadian research firm Science-Metrix has put Iran in the top rank globally in terms of growth in scientific productivity with a 14.4 growth index followed by South Korea with a 9.8 growth index. According to the Institute for Scientific Information (ISI), Iran increased its academic publishing output nearly tenfold from 1996 to 2004, and has been ranked first globally in terms of output growth rate.

2. OBJECTIVES
Based on the above-mentioned description, the Faculty of Humanities, University of Indonesia in cooperation with the Islamic Republic of Iran’s Embassy in Jakarta, will convene an international seminar with the objectives as follows;
1. To establish cultural and scientific cooperation between Indonesia and Iran.
2. To expand further cooperation between two countries in the development of science and technology
3. To promote good relationship and friendship between two countries
4. To share Iran’s scientific progress and technological achievements
5. To help bridge cooperation between Indonesian universities and Iranian universities in the academic and scientific enterprises.

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dear Pak Husain,

    Terima kasih atas undangannya. Acaranya memang bagus. Tapi alasannya perlu dicermati kembali.
    Tentu, menjadikan Iran sebagai partner saintifik sangat bermanfaat. Tapi, menjadikan alasan bahwa perkembangan sains-teknologi Indonesia yang mengacu pada negeri Barat dan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China sama sekali hanya menghasilkan kebergantungan perlu ditelaah ulang. Apa yang dimaksud berkiblat di sini? Budaya kultural saintifiknya? Atau budaya pemasaran produk dari hasil riset sains-teknologinya? Negeri-negeri Asia seperti Korea, China dan Taiwan pada kenyataannya juga banyak mengambil acuan perkembangan sains-teknologi dari USA dan Eropa. Jika mereka bisa maju, kenapa Indonesia tidak?

    Soal anak ITB dan sarjana sains-teknologi dari kampus lain yang hanya menjadi marketing dan PR, tampaknya terlalu gegabah. Kawan kami dan data-base dari Ikatan Ilmuwan Internatisonal Indonesia menunjukkan hal sebaliknya, Mereka menjadi peneliti di luar negeri. Untuk beasiswa pun sekarang banyak kok kampus luar negeri yang membuka disiplin ilmu di luar humaniora.

    Untuk menyebut satu contoh saja, laboratorium pemodelan sand box dalam bidang geologi struktur di Asia Tenggara pioneernya dari ITB.

    Sekali lagi, acaranya bagus. Tapi alasannya tidak faktual.

    Dan, ada yang terlewat, alasan teologis tidak disebutkan di sini. Dari paparan Pak Husain alasan teologis juga terlihat jelas untuk bermitra dengan Iran. Harusnya ini diakui juga sehingga bisa menjadi variabel tambahan dalam memetakan perkembangan suatu sains dan teknologi di suatu negeri seperti Indonesia dan Iran lebih gamblang dan bisa menjawab apa sebenarnya urusan teologis bisa mendorong perkembangan sains dan teknologi.

    Selain itu, sains dan teknologi satu hal dan produk utk end-user dari perkembangan sains-tek itu faktor soal upah tenaga kerja dan infra-struktur perlu diperhatikan juga.
    Sebagai contoh, biaya pengiriman barang dari China ke Jakarta itu lebih murah dibanding biaya kirim dari Jakarta ke Papua misalnya. Jika di Indonesia tenaga kerjanya lebih murah daripada China, dan infrastrukturnya mendukung serta serikat pekerja dihapuskan, tentu pabrik-pabrik yang memproduksi barang jadi yang digunakan oleh masyarakat dunia akan menjadikan Indonesia sebagai lahan pabrik baru.

    Salam

    “You can access my papers on the Social Science Research Network (SSRN) at: http://ssrn.com/author=1351918
    “You can visit our official blog at: http://hikmahperennial.blogspot.com/
    “Silakan baca makalah-makalah saya di Social Science Research Network (SSRN): http://ssrn.com/author=1351918
    “Silakan lawat ke blog resmi lembaga penelaahan kami di: http://hikmahperennial.blogspot.com/
    From: Husain Heriyanto
    To: Pak Haidar Bagir ; “across_icasjkt@yahoogroups.com” ; Prof. Osman Bakar
    Cc: Zainal Abidin Bagir ; Achmad Rifki ; Aan Rukmana ; erliyani manik ; ilham d. sannang ; hadi risman ; Dani Nur Pajar ; “herazahra@yahoo.com” ; Muhammad Nur ; Muhammad Darraz ; matahari muhammad ; nano warno ; Salman Parisi ; Zubaidah Yusuf ; Endang Rahayu ; Gerardette Philips ; Moh Monib ; Rezha Rochadi ; ahmad sahidin ; “ahmad.baiquni@gmail.com” ; Ahmad Samantho ; Nirwan Ahmad ; Bagus Takwin ; Ema Rachman ; Edward Omar Moad ; Ust. Agus ; Andya Primanda ; Agus Syafii ; Asna Husin ; Karim CROW ; Munif Chatib ; oman abdurahman ; Sulfikar ; Syafiq Basri ; Redaksi Qur’an ; Irwan Amrizal ; Abdul Hadi WM ; Raden anis ; Radhar Dahana ; Ust. Husein Syahab ; Ust. Muhsin Labib ; Ust. Umar Shahab ; Ust. Hassan Daliel
    Sent: Sunday, February 10, 2013 4:51 AM
    Subject: Bls: Undangan & Poster Seminar ttg Sains-Teknologi-Budaya Iran

    Salam

    Alhamdulillah, terima kasih atas tanggapan apresiatif Pak Haidar dkk termasuk belasan respons via japri. Menjawab pertanyaan Humaidi, waktu seminar tertera dalam Surat Undangan, yi, pk, 08.30 – 16.00

    Izinkan saya untuk mengelaborasi sedikit latar belakang dan tujuan penyelenggaraan seminar ini. Tema seminar memang tentang Iran, khususnya mengenai perkembangan sains-teknologi yg spektakuler di negeri itu dalam kondisi yg sulit. Namun, konteks seminar adalah bagaimana Indonesia bisa mengambil pelajaran dari fenomena unik ini dan terdorong untuk menjalin hubungan saintifik dan budaya antara kedua negara Muslim yg non-Arab ini. Pembicara pun sebagian besar adalah sarjana Indonesia, yg secara alamiah tentu akan membahas Iran dalam perspektif Indonesia. Jadi, seminar ini bukan hanya mengundang sarjana Iran untuk menceramahi kita; tetapi bagaimana kita secara aktif belajar dari Iran untuk kemajuan sains-teknologi Indonesia.

    Sebagaimana yg kerap dikemukakan almarhum Cak Nur, umat Islam Indonesia perlu menggali salah satu akar penting tradisi intelektual Islam, yaitu Persia (Iran). Dalam peradaban Islam yg lalu, para sarjana Muslim Iran yang membangun sains, filsafat, tasawuf dan sastra; sementara orang-orang Arab sibuk berkutat dalam masalah politik dan kekuasaan. Dan sekarang, setelah Revolusi Islam 1979, Iran kembali masuk dalam jajaran terdepan dalam kemajuan sains-teknologi.

    Iran bisa menjadi partner yang dapat diandalkan untuk pengembangan sains-teknologi tanah air kita untuk masa depan. Selama ini bangsa kita berkiblat kepada negara-negara Barat (AS dan Eropa) dan Jepang, lalu Korea Selatan, Taiwan, dan China. Hasilnya: sudah 67 tahun merdeka kita masih bergantung kepada pihak asing dalam iptek. Negara-negara asing ini enggan mentransfer sains-teknologi terutama yg dianggap bernilai ilmiah dan praktis tinggi. Saya sempat berdiskusi dengan sejumlah pengamat dan peneliti di bidang industri teknologi tinggi dan kami temukan bahwa perusahaan2 asing yang menggunakan teknologi tinggi tidak pernah mengangkat sarjana Indonesia sebagai pimpinan/direksi bidang R&D (riset dan pengembangan). Hampir semua direksi/manajer/pimpinan yang diisi oleh tenaga Indonesai adalah berurusan dengan marketing atau PR atau semacam itu; tapi, urusan rahasia dapur industri mengenai sanis-teknologi dikuasai oleh orang asing.

    Oleh karena itu, banyak tamatan ITB atau ITS yg bekerja di bidang perminyakan dan pertambangan tetapi urusan marketing atau PR. Jadi, ilmuwan/insinyur/tenaga ahli kita hanya dipakai untuk menjual barang mereka ke pasar kita sendiri (atau internasional) dan juga tameng (sbg PR) untuk berhadapan dengan pemerintah/masyarakat kita sendiri. Coba saja tengok perusahaan2 seperti Newmont, ExxonMobil, Freeport dll, sarjana2 Indonesia lebih banyak dipakai di lini yg tak berkaitan langsung dengan penguasaan sains-teknologi; kalaupun ada biasanya hanya sebagai lapisan pendukung. Kita juga masih ingat bagaimana perusahaan Black Berry (BB) hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produk-produk mereka tetapi bikin pabrik di negeri lain. Negeri kita memang hanya dianggap pasar empuk barang2 asing.

    Beberapa kawan saya malah menduga kuat bahwa hal itu (pembonsaian kapasitas iptek Indonesia) memang didesain sejak dini agar bangsa Indonesia -yg sangat kaya sumber daya alam – tetap bergantung kepada asing. Menurut hemat saya, analisis ini tentu saja tidak menafikan faktor keengganan kita sendiri selaku bangsa untuk menekuni penguasaan sains-teknologi. Terlepas dari apakah hal itu memang desain atau tidak, yg pasti adalah bangsa kita kenyataannya masih jauh dari kemandirian dalam iptek terutama untuk sains2 dasar dan teknologi tinggi. Fakta lainnya adalah tawaran2 beasiswa dari negara2 Barat umumnya hanya berlaku untuk program2 studi seperti demokrasi, pluralisme, politik liberal, feminisme, terorisme dan semacamnya. Jangan sekali-kali berharap Harvard University atau Oxford University, misalnya, menawarkan beasiswa terbuka untuk sains bioteknologi, nanoteknologi atau nuklir.

    Nah, berbeda dengan negara2 Barat, Iran sangat terbuka untuk berbagi pengetahuan ilmiah kepada negara2 berkembang apalagi dunia Muslim. Hal ini sudah dinyatakan beberapa kali oleh pemimpin Iran bahwa prestasi sains-teknologi Iran adalah juga milik negeri-negeri Muslim. Pada bulan November 2012 lalu, Wapres Iran urusan Sains dan Teknologi, Dr. Nasrin Soltankhah, mengumumkan diluncurkannya program “Great Prophet World Prize”, semacam Hadiah Nobel dwi tahunan untuk ilmuwan/peneliti Muslim seluruh dunia dalam tiga bidang: kedokteran, bioteknologi, dan nanoteknologi. Wapres perempuan Iran itu pun menawarkan bantuan dan kerjasama sepenuhnya bagi negara-negara Muslim untuk mengembangkan sains dan teknologi. Di lapangan, Iran sudah membantu negara2 tetangganya Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Irak, Turki, Suriah, Lebanon, Azerbaijan, Armenia, dan Sudan membangun pembangkit listrik. Menurut Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN kita, yang pernah berkunjung ke Iran ketika menjabat direktur PLN, Iran adalah satu-satunya negara Islam yg bisa membuat turbin dan pembangkit listrik sepenuhnya secara mandiri.

    Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, pasti memiliki daya tarik yang kuat bagi Iran untuk melakukan kerjasama di bidang iptek. Dan Iran sudah sering menunjukkan niat itu. Sayangnya, kita tidak merespons kesempatan emas itu. Entah kenapa, para pejabat kita lebih memilih sebagai broker perusahaan2 asing Barat yang mengeksploitasi kekayaan alam kita… lebih memilih sebagai perakit produk2 Jepang…lebih memilih penjual produk2 China.

    Kenapa kita tidak menyambut tawaran Iran untuk bersama-sama sebagai negara pencinta kemerdekaan dan perdamaian mengembangkan sains-teknologi guna membangun bangsa yg berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan? Bukankah hal itu sejalan doktrin Bung Karno tentang TRISAKTI? Bukankah realitas Republik Islam Iran yang teguh dengan prinsip independensi, kedaulatan dan martabat bangsa sejalan dengan cita-cita proklamator kita?

    Wassalam
    Husain Heriyanto

    Catt.
    Berikut saya lampirkan latar belakang dan tujuan seminar.

    An International Seminar on
    IRANIAN ACHIEVEMENTS IN SCIENCE, TECHNOLOGY, AND CULTURE
    For Bolstering Scientific and Cultural Relation between Indonesia and Iran

    1. BACKGROUND
    Indonesian Vice President Boediono, in a meeting with Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei on the sidelines of the 16th NAM in Tehran last August, said there are many grounds for economic and cultural cooperation between Iran and Indonesia. While Indonesian Foreign Minister Marty M. Natalegawa in a meeting with his Iranian counterpart Ali Akbar Salehi underscored the importance of the expansion of his country’s ties with Iran, and called for the development of Tehran-Jakarta relations in line with the two nations’ common interests.
    Indonesian Ambassador to Tehran Dian Wirengjurit underlined the necessity for the further expansion of relations with Iran, and said there are abundant common grounds between the two countries in various fields of culture, religion and economy. Wirengjurit mentioned that Iran has made good progress in building the country’s infrastructure for supplying water, electricity, natural gas, telecommunication, road and rail; in this regard, Jakarta is willing to take technological help from Iran.
    In reference to those intentions for expanding cooperation between Iran and Indonesia, Iranian President Mahmoud Ahmadinejad highlights that the Iranian nation’s progress in science and technology will serve the interests of human society. Iran has sought scientific progress and technological achievements not to dominate other nations but to promote friendship, love and justice among nations to maintain the ultimate goal of advancing the human society.
    Iran has made huge achievements in various fields of science and technology, from nuclear science and technology to stem cell, biotechnology and nanotechnology. Royal Society published its report in 2011 that Iran is the fastest growing country for science. Iran has the fastest rate of increase in scientific publication in the world in which its output rose 18-fold between 1996 and 2008, from 736 published papers to 13,238. While a 2010 report by Canadian research firm Science-Metrix has put Iran in the top rank globally in terms of growth in scientific productivity with a 14.4 growth index followed by South Korea with a 9.8 growth index. According to the Institute for Scientific Information (ISI), Iran increased its academic publishing output nearly tenfold from 1996 to 2004, and has been ranked first globally in terms of output growth rate.

    2. OBJECTIVES
    Based on the above-mentioned description, the Faculty of Humanities, University of Indonesia in cooperation with the Islamic Republic of Iran’s Embassy in Jakarta, will convene an international seminar with the objectives as follows;
    1. To establish cultural and scientific cooperation between Indonesia and Iran.
    2. To expand further cooperation between two countries in the development of science and technology
    3. To promote good relationship and friendship between two countries
    4. To share Iran’s scientific progress and technological achievements
    5. To help bridge cooperation between Indonesian universities and Iranian universities in the academic and scientific enterprises.

    Dari: Haidar Bagir
    Kepada: Husain Heriyanto
    Cc:
    Dikirim: Rabu, 6 Februari 2013 6:54
    Judul: Re: Undangan & Poster Seminar ttg Sains-Teknologi-Budaya Iran

    Masya Allah. Bagus sekali acaranya, khususnya penerbitan buku karya Pak Husain. Sayang saya berada di LN pada tangal itu, insya Allah. Semoga sukses besar. Jazakumul-Lah, Pak Husain.

    2013/2/5 Husain Heriyanto

    Bismillahi wa billahi w-alhamdulillah,

    Salam rekan-rekan ACRoSS – aktivis peradaban, pencinta ilmu pengetahuan, pengkhidmat kebijaksanaan
    Juga Penasehat ACRoss: Pak Haidar Bagir, Pak Osman Bakar, Pak Zainal Abidin Bagir

    Izinkan saya kirimkan Surat Undangan dan Poster sebuah Seminar Internasional tentang Sains-Teknologi-Budaya Republik Islam Iran yang akan diselenggarakan di FIB-UI pada 18 Pebruari 2013 nanti.

    Insya Allah, buku saya -dengan kapasitas Direktur ACRoSS- berjudul “Revolusi Saintifik Iran” (UI Press, 2013) akan diluncurkan pada kesempatan yang sama. Disamping itu akan ada Eksibisi Foto dan Film tentang Perkembangan Sains dan Teknologi Rep. Islam Iran; juga pertunjukan musik tradisional Iran.

    O ya, khusus untuk aktivis ACRoSS, saya bocorkan sebuah info bahwa akan ada bagi-bagi hadiah (door prize) buku “Revolusi Saintifik Iran” bagi 150 pendaftar seminar pertama.

    Sampai jumpa di Gedung IX FIB-UI, Depok tgl 18 Peb. nanti, insya Allah.

    Terima kasih
    Wassalam
    Husain Heriyanto


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: