KEBERANIAN MENGAFIRMASI REALITAS MENUJU BUDAYA UNGGU

May 11, 2012 at 7:45 am | Posted in Artikel: Wawasan | Leave a comment

KEBERANIAN MENGAFIRMASI REALITAS  MENUJU BUDAYA UNGGUL

Husain Heriyanto[1]

Hanya melalui cita-cita etik yang berdasarkan nalar, manusia dan masyarakat dapat mengadakan hubungan yang layak dengan realitas.  Tanpanya, kita akan disapu oleh apa saja yang terjadi.

(Albert Schweitzer)[2]

Terima kasih Alam Semesta!  Terima kasih Sejarah!

Bangsa Indonesia tak putus-putusnya menerima pelajaran yang teramat mahal: “terapi ontologis dan epistemologis” oleh kosmos dan sejarah.  Semesta alam, ibu kandung yang menyapih potensi kemanusiaan kita, tak henti-hentinya menyapa bangsa ini dengan ragam modus, mulai dari yang paling ramah hingga yang amat kasar.  Arus zaman bertubi-tubi membangunkan tidur panjang kita, terkadang menyubit lembut kadang keras, sekali waktu menyoraki  kita lain waktu menempeleng keras wajah kita.

Alam menyapa kita melalui banjir tahunan karena tata ruang yang acak kadut, banjir karena penggundulan hutan, letusan gunung berapi, badai, tanah longsor, gempa, hingga gelombang tsunami di ujung Banda Aceh yang amat dahsyat itu.  Tangan-tangan alam, yang selalu bekerja tiada henti mengoperasikan hukum-hukum kodratnya, juga menghardik kita dengan pelbagai penyakit, mulai dari polio, layuh otot, kusta (peringkat tiga terbanyak di dunia), kebutaan (terparah kedua di dunia), hepatitis, demam berdarah, anthraks, hingga flu burung yang berpotensi menjadi pandemi (hingga detik ini tercatat sebagai korban yang terbanyak di dunia).  Berkolaborasi dengan tangan besi hukum-hukum sosial dan sejarah, alam mengejutkan kita dengan pelbagai bencana buatan seperti busung lapar, gizi buruk, kematian karena buruknya sanitasi dan pelayanan kesehatan, kecelakaan lalu lintas karena buruknya manajemen transportasi, hingga krisis kelangkaan BBM karena tak cakap mengelola kekayaan minyak bumi, anugerah alam raya.

Dunia pun membuat tidur kita tak pernah nyenyak.  Kisah Timor Timur adalah tragedi sejarah yang menghantui perjalanan bangsa kita seusai pertarungan panjang diplomatik yang dimenangkan oleh retorika kolonialis Portugis yang berhasil merangkul Amerika Serikat dan Australia berbalik arah untuk mengkhianati kita.  Kisah yang sama berpotensi terulang kembali di Papua jika kita tak piawai mensiasati strategi Australia dan Amerika Serikat yang penuh hasrat.  Sejumlah negara tetangga semacam Malaysia dan Singapura pun telah menyentak kesadaran kita bahwa “kebesaran” bangsa kita rupanya tidak diperhitungkan oleh mereka (merujuk, misalnya, kasus Ambalat dan penolakan Singapura terhadap ekstradisi koruptor kelas kakap kita).   Kita telah diperlakukan, mengutip ungkapan kekhawatiran mendiang Cak Nur 15 tahun lalu, sebagai “halaman belakang Asia” yang lemah, pesakitan, dan tak bermartabat.

ALAM DAN SEJARAH: LATAR EKSISTENSI

Terima kasih Alam!  Terima kasih Sejarah!

Detik pertama ketika terlempar ke dunia yang tak bernama ini, cahaya menembaki mata kita yang mungil-rentan itu dengan foton-foton yang melatih kecakapan selaput kornea mengidentifikasi warna-warna yang dengannya kita mampu membedakan hal-hal yang berbeda di dunia sebagai hal yang berbeda. Saat keluar dari dunia primordial rahim ibu biologis kita, alam lingkungan mengajari kita untuk mengaktifkan sistem pernapasan kita sendiri dengan mengolah udara yang tak bertuan; alam melecut kita agar mengunyah sendiri pangan dan memprosesnya menjadi energi agar kita bisa merangkak, berdiri tegak dan berjalan dengan tangan dan kaki sendiri, yang sudah dipersiapkan oleh Alam dengan penuh perencanaan.  Evolusi kosmos selama 15 milyar tahun memang telah dirancang untuk menyambut kehadiran makhluk cerdas, Bani Adam, agar eksistensi kosmos itu sendiri menggondol makna.  Pujangga–filsuf Muhammad Iqbal bersyair, “Wahai manusia, Engkau adalah bunga alam semesta; tujuan puncak evolusi kosmos.”  Terima kasih Alam!

Tetapi, kita bukanlah anak Alam semata, melainkan, bahkan lebih sebagai, anak Sejarah.  Kehadiran kita di dunia tidaklah mungkin tanpa proses sosial budaya dan sejarah kemanusiaan.  Rahim ibu kita telah meringkas 15 milyar tahun evolusi kosmos menjadi hanya sembilan bulan dan sesaat setelah lahir ayah bunda mengajari kita berpakaian, bertutur kata, mengulum senyum, berterima kasih, bergembira, dan menyapa dunia.  Guru-guru dengan latar sosial budaya dan sejarah tertentu melanjutkan proses pemanusiaan kita melalui pengenalan konsep di balik kata, makna di belakang simbol, maksud di seberang kalimat, pemahaman di dalam paragraf, dan pesan sebuah sajak.

Maka, jadilah kita seorang manusia yang bersiap mengemban amanat Sejarah kemanusiaan, yakni memaknai alam semesta dan melanjutkan evolusi kosmos dengan mentransformasikannya menjadi sebuah evolusi intelek-etis-estetis sehingga kita betul-betul berbeda dengan saudara primordial kita dalam evolusi kosmos sebelumnya, yaitu, keledai dan kera.  Pujangga-filsuf kebanggaan kita, Sutan Takdir Alisyahbana (1908 – 1994) berdendang, “Kami telah meninggalkan kalian, tasik yang tenang tiada beriak.  Ombak ria berkejar-kejaran di gelanggang biru bertepi langit, tebing curam ditantang diserang.”   Terima kasih Sejarah!

MEMICING REALITAS: DIRI, SEJARAH  DAN ALAM

Entah dari mana kita mesti mulai dan bagaimana pula sebuah proses panjang pembentukan karakter sebuah bangsa hendak dideskripsikan, yang pasti adalah bahwa kita mesti mengafirmasi kenyataan yang amat telanjang di hadapan kita bahwa bangsa kita masih merangkak belajar memasuki sejarah dunia sebagai subyek yang otonom.  Kita masih tertatih-tatih mencari identitas kebudayaan nasional yang kita banggakan untuk dipresentasikan ke pentas dunia.

Diplomasi nasional kita amat terbata-bata mengartikulasikan apa yang hendak kita ekspektasikan dari dunia dan apa yang hendak kita sumbangkan untuk dunia, bahkan kerapkali hampir melulu jatuh dalam sikap reaktif yang lugu.  Kita selalu kalah cepat dari negara-negara berkembang, katakanlah Malaysia atau Vietnam, dalam merespon setiap kesempatan yang terhampar di gelanggang dunia bisnis dan sains-teknologi.

Kekuatan eksekutif kita masih lebih tertarik membangun legitimasi dari jaringan dukungan negara-negara kuat daripada menggalang kekuatan kehendak rakyat yang sadar dan tercerahkan, terlepas dari proses dialektika kedua poros ini (efektivitas pemerintahan dan kesadaran rakyat).  Sementara badan legislatif masih euphoria mengenyam kekuasaan yang baru diperoleh seraya abai terhadap amanat mengartikulasikan kehendak rakyat melalui proses legislasi yang produktif, visioner, argumentatif, dan matang.

Kita pun masih enggan memikul amanat Alam untuk mengelola kekayaan alam yang melimpah ruah, dan bahkan cukup berpuas diri dengan mengundang investor asing mengeksploitasi pelbagai jenis tambang, minyak, dan gas alam kita.  Kisah-kisah kekalahan yang terjadi di penambangan Blok Cepu oleh Exxon, Papua oleh Freeport, dan Teluk Buyat oleh Newmont merupakan bait-bait terakhir dari sebuah lagu panjang keengganan kita mengeksplorasi alam dengan kepala dan tangan sendiri.

Sungguh sangat ironis bagaimana dua hal yang amat penting dalam percaturan dunia modern ini, yaitu kemajuan sains dan penguasaan teknologi bersama etos ilmiah sebagai latar budaya, masih tercecer jauh di belakang.   Gerakan reformasi yang telah hampir satu dasawarsa pun, alih-alih ikut membangun kesadaran saintifik, kenyataannya komitmen dan perhatian kepada pengembangan riset sains dan teknologi justru makin parah dan kini berada pada titik nadir sebagaimana laporan LIPI awal bulan ini (Kompas, 5 April 2006).  Dan baru-baru ini Economist Intelligence Unit (EIU) melaporkan bahwa Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam kesiapan implementasi Teknologi Informasi (TI), menempati ke-62 dari 68 negara, kalah jauh dari Malaysia yang berada pada posisi 37 (detikInet, 28 April 2006).

Merujuk kepada kenyataan-kenyataan tersebut, bagaimana mungkin kita bisa menjadi pelaku sejarah yang terhormat?  Mungkinkah bangsa yang hanya bersandar kepada kemurahan alam tanpa wawasan saintifik dapat mengemban amanat Kosmos memaknai alam lingkungan semesta?  Masuk akalkah bangsa yang gemar menadah tangan berhutang dan terperangkap dalam lembah KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) serta masih amatir dalam manajemen bernegara (yang terancam menjadi failed state) dapat mengemban amanat Sejarah kemanusiaan di percaturan dunia?

Jauh dari maksud menghembus angin pesimisme yang tak perlu, esai ini hendak mengajukan sebuah tesis bahwa bangsa kita telah terlalu lama menjalani hidup seadanya dengan memicing realitas: ketaksanggupan mengafirmasi diri, kehidupan, sejarah, dan alam.  Anak-anak bangsa kita sejak dini telah menghirup sistem nilai ‘budaya non-unggul’, katakan saja begitu,  yang abai terhadap kemuliaan diri, hidup, sejarah, dan alam raya sedemikian sehingga seakan telah menjadi sebuah modus eksistensi bangsa ini untuk terus menerus mengelak mengafirmasi realitas, meninggalkan lapangan kehidupan, mengangkangi sejarah, dan menelantarkan lingkungan alam semesta.

Perlu sedikit uraian bahwa yang dimaksud dengan frase “mengelak mengafirmasi realitas” bukanlah semacam kemampuan khas manusia dalam “menegasikan” relasi satu entitas dengan yang lain (yang merupakan bentuk lain dari afirmasi), dan bukan pula dalam pengertian “neantir” (menidak) sebagaimana Jean-Paul  Sartre (1905-1980) maksudkan, yaitu sebagai salah satu cara berada manusia dalam relasi intensional dengan yang tidak ada.  Makna frase “mengelak mengafirmasi realitas” itu pun tidak mengacu kepada pengertian asketisme yang secara sadar menolak kemuliaan dunia sebagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Telah kutalak tiga, engkau, wahai dunia!” Sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki Tajul ‘Arifin (puncak orang-orang bijak) itu justru pernah memarahi pengikutnya yang secara salah kaprah memaknai asketis sebagai pelarian dari tanggung jawab hidup di dunia yang amat berarti ini.

Makna frase “mengelak mengafirmasi realitas” yang dimaksudkan adalah sebuah bentuk kepasifan netral: tidak afirmatif dan sekaligus tidak negatif.  Ini merupakan sebuah bentuk pra-kesadaran yang membiarkan realitas begitu saja tanpa kesanggupan membangun relasi yang menegaskan dan sekaligus menegasikan. Belum ada kesadaran “mengiyakan” dan sekaligus “menidakkan”, dalam jenis kesadaran primordial ini.   Oleh karena itu, penulis lebih menyukai term “memicing” daripada “menolak”, “mengelak”, “menepis” atau “menampik” dalam merespons realitas.  Karena, term-term yang terakhir ini memuat makna sebagai ‘penolakan’ atau ‘penegasian’, yang lahir dari kesanggupan mengafirmasi realitas.   Mungkin term yang lebih populer yang memiliki makna yang mirip dengan term ‘memicing’ itu adalah ‘cuek’.

Apa yang dimaksud dengan ‘memicing’ atau ‘mencueki’ realitas?  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2005), term ‘memicing’ punya dua arti, yaitu (1) memejamkan mata dan (2) tidur.  Kedua pengertian ini sangat berdekatan, tapi berbeda.  Tidur pasti memejamkan mata, tapi memejamkan mata tidaklah identik dengan tidur.   Seseorang bisa memejamkan mata tanpa harus tidur untuk menonaktifkan pandangannya atau mengalihkan perhatian dari semua yang terbentang di hadapannya.  “Memejamkan mata” juga bisa terjadi ketika seseorang dicekam rasa takut yang berlebihan sehingga tidak berani menatap realitas di hadapannya.  Gejala ‘memejamkan mata’ ini juga bisa mengindikasikan keadaan seseorang yang tengah tenggelam dalam kenikmatan menghayati kesatuan dirinya dengan obyek tertentu yang meleburkan kesadaran identitas dirinya di tengah lautan realitas.

“Memicing realitas”, dengan demikian, adalah suatu falsafah hidup yang cenderung lari dari realitas, ketidaksanggupan mengambil jarak (distansi), keengganan memperhitungkan realitas, pengingkaran Diri, dan pengelakan tanggung jawab dalam pelbagai modusnya.  Karena, tanpa keberanian menyatakan Diri rasa tanggung jawab (sense of responsibility) akan kehilangan basis ontologis.  Itulah sebabnya mengapa falsafah “memicing realitas” itu menyemai nilai-nilai budaya non-unggul yang menafikan Diri, melecehkan makna kehidupan, melupakan sejarah beserta prinsip-prinsip filosofis yang menggerakkannya, dan membelakangi alam seraya mengabaikan hukum-hukum ilmiah yang bekerja padanya..

Gagasan “kehidupan adalah sebuah karunia yang gratis”, misalnya, telah tertanam lama dalam kesadaran kolektif kita selaku bangsa.  Demikian pula, proposisi “alam yang kaya merupakan hibah yang turun dari Langit” adalah rukun iman kedua bangsa kita.   Bertemali dengan kedua rukun iman itu, banyak tradisi lokal non-unggulan yang menjejali kita sejak dini bahwa “hidup adalah sebuah permainan wayang” dengan menegasikan kehendak Diri (the self, khudi) sang lakon bahwa “aku bukanlah pencipta kisahku, aku hanya pelakon kisah sang dalang”.

Ada sistem semiotika yang tersembunyi dalam budaya tradisional non-unggul kita yang mengharamkan “prestasi Diri” demi “kebersamaan komunitas”, yang seringkali palsu.  Sejalan dengan burung garuda, lambang kebanggan negara kita, yang digambarkan menoleh ke samping, tidak berani menatap ke depan, anak-anak bangsa kita pun sejak lahir telah diindoktrinasi untuk “melihat kanan dan kiri” dalam berpikir dan berlaku.  Akibatnya, otentisitas Diri, yang salah satu implikasinya adalah kejujuran, merupakan kualitas dan karakter yang paling amat sulit dicari di negeri ini.  Sebaliknya, “manusia massa”, “politisi oportunis”, “sarjana pragmatis” hingga “pengkhutbah selebritis” mengeremuni setiap pelosok negeri ini.

Sejak dini anak-anak bangsa kita dibiasakan untuk melihat kehidupan di dunia sebagai sebuah nasib yang terberikan begitu saja (taken for granted) tanpa tugas memaknainya secara sungguh-sungguh.  Mereka disuguhi pandangan bahwa kehidupan di muka bumi ini adalah skenario Langit yang cukup dijalankan saja tanpa perlu dipertanyakan.  Mempertanyakan makna kehidupan dianggap tak praktis dan hanya bikin sakit kepala.  Pencarian sendiri makna kehidupan, yang kerap jatuh dalam banalitas, dipandang sebagai sebuah dosa besar terhadap tradisi yang sudah menyediakan sejumlah resep bagaimana memandang dan menjalani hidup.

Lebih kita sesali bahwa pandangan teologis yang mengafirmasi Tuhan Pemilik Sejati kehidupan dipahami secara ortodoks sebagai sebuah bentuk penegasian terhadap kehidupan kemanusiaan kita.  Pandangan ortodoks ini menyerukan kepercayaan kepada Tuhan melalui ketidakpercayaan kepada manusia dan alam, mengkhutbahkan keistimewaan “dunia sana” (akhirat) dengan merendahkan makna kehidupan “dunia sini” sebagai wahana aktualisasi potensi-potensi kemanusiaan kita, dan lebih tertarik membincangkan “bagaimana menjemput kematian” dengan melupakan “bagaimana mengisi kehidupan”.

Pola pikir semacam itulah yang dikritik tajam oleh budayawan besar ST Alisyahbana.  Ia berdendang, “Wahai, kasihan aku kepadamu.  Mempunyai mata, tiada bermata.  Dapat melihat, tak pandai melihat.  Lenyaplah segala mata yang layu.  Punahlah engkau segala yang lesu.  Aku hendak melihat api hidup dahsyat bernyala, menyadar membakar segala jiwa.  Aku hendak mendengar jerit perjuangan garang menyerang, langit terbentang hendak diserang.  Aku hendak mengalami bumi berguncang orang berperang.  Urat seregang mata menantang.

ST Alisyahbana, sang pemikir progresif, sayangnya telah disalahpahami oleh banyak koleganya dan juga ditelantarkan oleh anak-anak bangsa.  Alih-alih mempromosikan materialisme sebagaimana yang secara salah dituduhkan kepadanya, sesungguhnya ST Alisyahbana menyuarakan pandangan yang berani menyatakan Diri dan mengafirmasi kehidupan dengan segenap peluang kemuliaan yang bakal kita raih.  Dia tidak meniru buta renaisans Barat tetapi lebih bagaimana kita menjemput sebuah kebudayaan baru yang progresif, rasional, dan humanistis. Penolakan sementara budayawan kita dan tak memadainya apresiasi anak-anak bangsa terhadap gagasan-gagasan besar dan visioner ST Alisyahbana bukanlah sebuah kebetulan melainkan suatu indikasi yang nyata betapa kita selaku bangsa masih tertidur lelap menikmati kelembaman kebudayaan lama yang cenderung menegasikan kehidupan dan rasionalitas.

Tentang sejarah, mari kita lihat bagaimana bangsa kita memandangnya.  Sejarah dipahami tak lebih dari kumpulan cerita dan rentetan peristiwa masa lalu yang terisolasi dan terputus secara kausal dari masa kini dan masa depan.  Lihatlah anak-anak didik kita yang bosan dengan pelajaran Sejarah karena hanya berkutat pada hapalan-hapalan tentang waktu dan tempat peristiwa-peristiwa tanpa elaborasi yang memadai untuk memahami pola dan dinamika ideasional-sosiologis peristiwa-peristiwa masa lalu sehingga bisa dikaitkan dengan keadaan hari ini dan hari esok.

Fakta lain yang memedihkan Diri kita adalah kepasifan kita dalam menuliskan sejarah kita sendiri.  Bangsa kita amat pemalas mendokumentasikan kisah kehidupan ke dalam teks, mentransformasikan speech menjadi language, mengabstraksikan laku menjadi kata, menafsirkan tindakan ke dalam argumentasi.  Cukup ironis bahwa sejarah bangsa kita lebih banyak ditulis oleh orang-orang asing, termasuk oleh penjajah Belanda.  Bahkan ensiklopedi tentang kebudayaan Indonesia yang diterbitkan sesudah kita merdeka 60 tahun sebagian besar disusun oleh orang asing, seperti ensiklopedi Indonesian Heritage (Jakarta, 2002).

Sejumlah sarjana kita mengakui kelemahan strategis bangsa kita ini, yakni lemahnya kesadaran sejarah pada anak-anak bangsa kita.  Sejarawan kita, Taufik Abdullah, pernah menyarankan agar kita menghidupkan kembali “collective memory” sebagai sebuah langkah strategis membangun solidaritas nasional, yang amat dibutuhkan saat ini karena saran itu mengandung dua pesan sekaligus: hidupkan sejarah dan bangun visi masa depan.  Sayangnya, para politisi kita, eksekutif dan legislatif, gagal memahami pesan yang sarat makna ini.

Mengapa saran itu bisa mengemuka?  Bagaimana mungkin sebuah bangsa, terlebih nation state seperti bangsa kita, bisa bertahan tanpa kesadaran sejarah kolektif yang dimiliki bersama?  Bukankah eksistensi kita selaku bangsa berakar pada sejarah sehingga Bung Karno mewanti-wanti “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” ?  Tidakkah sejarawan menyatakan “sejarah adalah guru kehidupan” (Historia Magistra Vitae) ?

Banyak sarjana kita yang akhirnya mengakui bahwa kita selaku bangsa memang mengidap “short memory”, ingatan pendek terhadap sejarah kita sendiri.  Guru bangsa kita, Cak Nur, punya istilah sendiri untuk menggambarkan fenomena itu, yaitu gejala “ketertawanan oleh situasi kekinian dan kesinian”.

Bagaimana pula fenomena mudah lupa terhadap sejarah kita sendiri bisa terjadi dan dijelaskan?  Apakah daya ingat bangsa kita terkebelakang sehingga kita acapkali tersandung oleh kesalahan yang berulang?  Apakah inteligensi anak-anak bangsa kita tergolong rendah sedemikian rupa sehingga begitu mudahnya mereka melupakan bahwa kandidat presiden itu atau calon gubernur ini atau calon legislatif itu adalah koruptor, pelanggar HAM atau politisi busuk di masa lalu?

Tentu, sama sekali tidak.  Selain inteligensi anak-anak bangsa kita tergolong cerdas dan patut dibanggakan (lihat misalnya bagaimana pelajar-pelajar kita memenangkan seri Olimpiade Sains atau banyaknya sarjana/profesional kita yang ilmunya dimanfaatkan oleh mancanegara), fenomena ‘memori pendek’ ini juga tak terkait dengan kapasitas inteligensi secara teknis.  Kita akhirnya terdorong untuk mengakui kenyataan bahwa fenomena sosial-kultural ini merupakan sebuah implikasi alamiah dari lemahnya kesadaran akan sejarah.

Nah, bisakah kelemahan kesadaran sejarah itu sendiri dijelaskan?  Mari kita tengok kembali pendapat ST Alisyahbana.  Menurut ayatullah kebudayaan ini, sistem nilai kebudayaan lama kita memang memosisikan sejarah sebagai sesuatu yang asing dalam kehidupan kita; bahwa kita bukanlah pelaku aktif yang menciptakan sejarah melainkan penonton belaka yang hadir belakangan; bahwa kita semata-mata adalah produk sejarah; bahwa kita adalah pengada a-historis. Model kebudayaan seperti inilah, kata ST Alisyahbana, yang memperlemah rasa tanggung jawab pada anak-anak bangsa kita.

Agaknya itulah sebab mengapa di negeri ini kaum penguasa, politisi atau pemilik wewenang di setiap level kekuasaan terbiasa mem-blow up pengaruh faktor-faktor eksternal yang berada di luar kontrol mereka guna dijadikan dalih atas kegagalan program-program mereka.  Alih-alih menyajikan rencana program mereka secara transparan beserta sistem kriteria evaluasi yang accountable,  mereka cenderung menisbahkan tanggungjawab mereka kepada kondisi yang seakan terberikan begitu saja, entah itu kondisi yang dikategorikan sebagai skenario lawan, asing atau sebuah skenario Langit.   Fenomena  “mencari kambing hitam” yang telah menjadi gejala umum di negeri ini dapat ditafsirkan sebagai salah satu bentuk implikasi alamiah dari kebudayaan fatalistik-ahistoris, yang non-unggul itu.

Pernah beberapa waktu lalu saat terjadinya banjir dan longsor di sejumlah tempat di negeri kita, seorang pejabat eselon satu Departemen Lingkungan Hidup dalam sebuah program TV nasional berkilah bahwa banjir dan longsor itu adalah takdir Tuhan, dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa yang kerap dikategorikan sebagai “bencana alam” itu terjadi karena kehendak Tuhan secara langsung.  Lebih ironis, sang wartawan pun manggut-manggut dan berhenti mengelaborasi sebab-sebab alamiah kemunculan “bencana alam” itu; suatu petanda kuat bahwa paradigma sang pejabat itu memang milik bersama (shared values) anak-anak bangsa kita.  Padahal, longsor di sejumlah wilayah di negeri ini kerap terjadi karena praktek illegal logging dan penggundulan hutan.  Begitu pula banjir, sebuah ritual tahunan, lebih sering terjadi karena amburadulnya tata letak kota dan manajemen perencanaan tata ruang, yang makin ruwet akibat praktek kolusi antara pengembang dan pejabat pemda.

Selanjutnya, jika kita kontemplasi sebentar saja, maka kita akan sampai pada proposisi bahwa kita selaku bangsa tidak mungkin bisa memiliki kesadaran sejarah yang kokoh jika kita masih menganut pandangan lama yang menolak mengafirmasi diri dan kehidupan atau berkecenderungan memicing realitas.  Karena, sejarah adalah teks, buah tangan kemanusiaan kita dalam merespons realitas dan mengafirmasi kehidupan.  Selama kita masih memendam konsep ‘nasib’ sebagai bentuk kepasrahan dan ketidakberdayaan (impotensi) kita dalam merancang masa depan  dan  menentukan diri sendiri berdasarkan kesadaran dan kehendak-rasional, maka selama itu pula kita akan berkubang dalam kehidupan paria, tanpa kehormatan dan martabat.

Dengan renungan yang lebih jauh lagi, kita temukan bahwa gagasan ‘nasib’ merupakan ungkapan lain dari cara-pandang yang melihat eksistensi manusia sebagai makhluk ‘de facto’, yaitu suatu cara-berada yang sudah ditentukan sebelumnya.  Ia seakan terlempar ke dunia secara de facto tanpa mampu menangkap makna atas keterlemparannya itu sedemikian rupa sehingga ia mempersepsi kehidupan sebagai permainan wayang.  Peran dan lakonnya dalam kehidupan telah dipatok sebelumnya, dan ia cukup menjalaninya tanpa kemampuan mengajukan pertanyaan. Dalam hubungan dengan kesadaran sejarah, ide ‘nasib’ ini memosisikan  diri kita sebagai pelengkap penderita atau obyek sejarah, bukan pelaku yang menggerakkan sejarah.

Kalau boleh mengutip pandangan Murtadha Muthahhari (Masyarakat dan Sejarah), sejarah semestinya tidak diperlakukan sebagai pengetahuan tentang “maujud” (fakta, pengada statis) melainkan sebagai “hal menjadi”.  Ia adalah teks yang belum selesai sebagaimana kehidupan manusia itu sendiri. Sejarah yang hidup memungkinkan kita berani menatap sejarah masa lalu, menentukan peristiwa hari ini, dan menciptakan masa depan.  Dan keberanian menatap sejarah itu merupakan salah satu bentuk kesanggupan kita mengafirmasi realitas, menyatakan Diri dan menyambut rekonstruksi masa depan.

Oleh karena itu, tanpa keberanian melihat jejak-jejak kita sendiri, kita tidak bisa berdiri tegak sekarang ini dan berjalan ke depan dengan penuh optimisme.  Oleh karena itu, kita harus berani membongkar semua peristiwa masa lalu dengan gagah berani, entah itu G-30S PKI, Supersemar, kasus Soeharto, dan semua catatan pahit dan gelap masa lalu tentang pelanggaran hukum dan HAM di seantero negeri tanpa pandang bulu.

Kita juga secara moral imperatif mesti melunasi semua ‘utang sejarah’ berupa penuntasan pelbagai kasus pelanggaran hukum melalui penegakan hukum (law reinforcement) yang bermartabat dan tanpa intervensi pihak asing agar ia menjadi catatan sejarah yang bakal dibanggakan oleh anak cucu kita nanti bahwa bangsa kita adalah bangsa yang berdiri dengan kaki kita sendiri, menatap dengan mata kita sendiri, sebagaimana Iqbal berkata, “Aku tidak pernah meminjam mata orang lain untuk menatap dunia”.

Inilah manusia Indonesia yang telah berani menyatakan Diri, mengafirmasi sejarah dan kehidupan, menyapa dunia, dan bergairah menyelidiki alam semesta.  Agaknya  budaya unggul lahir dari kesadaran seperti ini.


[1] Husain Heriyanto adalah dosen filsafat ICAS (Islamic College for Advanced Studies) – Universitas Paramadina, Jakarta

[2] Kutipan ini adalah penggalan ‘prolog’ Albert Schweitzer pada karya S. Takdir Alisyahbana, “Antropologi Baru” (Dian Rakyat, 1986) dengan sedikit pengeditan oleh penulis esai ini.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: