Kebangkitan Tradisi Intelektual Islam

February 29, 2012 at 8:23 am | Posted in Artikel: Wawasan | 1 Comment
Salam para aktivis ACRoSS,
Untuk menyapa kalian sepulang saya dari seminar riset sebulan “Intellectuality and Spirituality” di Iran, ini ada sebuah resensi lagi, yg kedua dalam bulan ini, terhadap buku “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam”, yg disunting oleh Sdr. Aan Rukmana dan Hardiansyah, aktivis ACRoSS. Terima kasih.
Salam
Husain
JURNAL NASIONAL

Kebangkitan Tradisi Intelektual Islam

 | Minggu, 12 Feb 2012
Buku ini berusaha mengisi kekosongan mentalitas rasional, kultur ilmiah, dan etos keilmuan para sarjana muslim secara menyeluruh dan memadukan sains dan filsafat dalam konteks peradaban Islam.
Oleh Benni Setiawan*)

MOCHTAR Naim (2011) menulis dunia Islam sekarang telah memasuki era tamadun Gelombang Ketiga. Tujuh abad pertama adalah era tamadun Gelombang Pertama yaitu dari munculnya Islam di padang pasir Arabia pada abad VII Masehi ke puncak kegemilangannya di Baghdad dan Kordoba pada abad XIV. Lalu tiba masa menurunnya selama tujuh abad kedua, berupa era tamadun Gelombang Kedua yang dirundung kegelapan dan berada di bawah supremasi kekuasaan Barat. Kemudian Perang Dunia II sebagai titik nadirnya sekaligus awal dari era kebangkitan kembali tamadun Gelombang Ketiga.
Tamadun Gelombang Ketika merupakan tantangan sekaligus peluang bagi umat Islam bangkit. Kebangkitan ini tentunya berawal dari sebuah kesadaran diri dan lingkungan (kesejarahan) bahwa umat Islam memeliki khasanah intelektual. Setidaknya hal ini dibuktikan dengan kejayaan Islam di era Abbasiyah.
Era keemasan Isla tersebut ditandai dengan penerjemahan karya-karya filsuf Yunani dan Romawi ke dalam bahasa Arab. Namun, ilmuwan muslim saat itu tidak hanya berhenti pada proses penerjemahan saja, namun juga berhasil menemukan ilmu-ilmu baru yang sangat berguna bagi kehidupan umat manusia saat ini. seperti Matematika, Aljabar, Astronomi, Fisika, Kimia.
Mentalitas Rasional
Buku karya Husain Heriyanto, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam ini, membuktikan hal tersebut. Dosen di Universitas Paramadina ini secara bernas mengeksplorasi dan menunjukkan bahwa ilmu-ilmu tersebut lahir dari rahim Islam. Seperti, Sayyidina Ali, ilmuan pelopor etos ilmiah; al-Khawarizmi, sebagai Bapak Aljabar; Abu al-Wafa, pengembang Trigonometri; Umar Khayyam, penyair yang merintis Geometri Analitik; al-Farghani, al-Battani, al-Thusi, sebagai pengembang ilmu astronomi; Ibn al-Haitsam, yang dikenal sebagai Bapak Optik, al-Biruni, ilmuan eksperientalis besar; al-Khazini, pencetus Teori Gravitasi; Jabir bin Hayyan, seorang sufi yang Ahli Kimia; al-Razi, Ibn Sina, Abu al-Qasim al-Zahrawi dan Ibn Nafis sebagai pioneer ilmu Kedokteran.
Tidak hanya sekadar menyebut dan menunjukkan kontribusi tokoh-tokoh tersebut, kandidat doktor Filsafat dari Universitas Indonesia ini juga menarik kesejarahan yang memungkinkan kita bersikap kritis dan rasional. Meminjam istilah Mohammed Arkoun, menarik kesejarahan dalam kajian keislaman akan semakin membuka selubung hal-hal yang tak terpikirkan.
Apa yang diusahakan oleh Husain Heryanto setidaknya ingin menumbuhkan kesadaran peradaban pada diri kaum muslim bahwa di satu sisi mereka memiliki kebanggaan sebagai umat yang berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia dan di lain sisi kesadaran ini mendorong mereka untuk memiliki tanggung jawab terhadap peradaban dunia, yang pada gilirannya akan menghilangkan mentalitas “luar pagar” (perasaan terasing dan tersisih dari peradaban) yang dialami oleh sejumlah kaum muslim radikal.
Peluang yang mungkin dan terbuka bagi kita adalah menawarkan kerangka berpikir yang menempatkan Islam sebagai agama dan peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Untuk membangun kerakter irasional respons kaum radikal, kita perlu menyuguhkan strategi membangun mentalitas rasional.
Melalui pembudayaan mentalitas rasional itulah, kita membangun fondasi yang di atasnya akan lahir secara alamiah (bukan hal yang dicangkokkan dari luar) sikap kritis, pola pikir terbuka, toleran, dan perilaku yang proporsional dan penuh perhitungan.
Elaborasi kekayaan tradisi rasional dari tubuh Islam itu sendiri bisa sekaligus menepis anggapan bahwa mentalitas rasional adalah sesuatu yang datang dan dicangkokkan dari luar, yang akan melahirkan sikap reaktif sebagai umat Islam.
Langkah itulah yang sebenarnya diusung oleh Cak Nur, yang sistematis dan kontinu, tidak lagi sekadar simbolik dan seremonial belaka. Artinya, sudah saatnya kita mengeksplorasi ajaran dan tradisi Islam yang memiliki pesan-pesan universal dan kosmopolitan. Dalam hal ini, filsafat sains merupakan dua tradisi ilmiah Islam yang amat kaya dengan doktrin-doktrin yang relevan dan berguna dalam pengembangan mentalitas rasional dan visi kemanusiaan universal.
Buku ini berusaha mengisi kekosongan mentalitas rasional, kultur ilmiah, dan etos keilmuan para sarjana muslim secara menyeluruh dan memadukan sains dan filsafat dalam konteks peradaban Islam. Buku ini bermuara pada optimisme akan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa depan yang searah dan kongruen dengan paradigma dan pandangan dunia Islam.
Di tengah kecemasan sejumlah saintis kontemporer terhadap masa depan sains yang mereka anggap tidak menyisakan celah eksploratif bagi kemunculan temuan dan terobosan saintifik yang besar seperti kerisauan Richard Dawkins terhadap keberakhiran kisah biologi evolusioner. Buku ini mengindikasikan hal sebaliknya jika kita bersedia mengadopsi paradigma keilmuan yang diusung oleh sejumlah ilmuwan muslim.
Kelebihan buku ini terletak pada kemampuan penulis mengeksplorasi dua argumen besar, yaitu analisis historis tradisi saintifik Islam dan analisis filosofis pandangan dunia Islam. Aktualitas pembahasan menjadikan buku ini semakin menarik untuk dikaji dan diperbincangkan lebih lanjut, sebagai salah satu upaya mewujudkan tamadun Gelombang Ketiga atau awal kebangkitan tradisi intelektual Islam.
*)Benni Setiawan, alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

***
Data Buku
Judul: Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis: Husain Heriyanto
Penerbit: Mizan Publika, Jakarta
Terbit: Juni 2011
Tebal: xxxix + 392 halaman
***
Rabu, 1 Februari 2012 – 10:35 wib
Judul Buku : Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis : Husain Heriyanto
Penerbit : Mizan Publika
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xxxii + 376  halaman

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno, “jasmerah; jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sejarah memberikan banyak inspirasi dan motivasi. Sejarah yang telah terlampaui oleh masa lalu sungguh menjadi pengalaman yang berharga di masa kini sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Sejarah telah memberikan banyak kenangan dan pelajaran yang berharga.

Islam sendiri dalam perjalanannya juga memiliki sejarah yang besar. Islam pernah menjadi sebuah imperium yang besar nan berperadaban tinggi. Ketika itu, Islam mampu menghegemoni separuh dari bumi. Islam menguasai tanah dan air dari barat hingga timur. Dalam bidang ilmu pengetahuan, imperium Islam menjadi sebuah rujukan. Begitulah Islam dari abad ke-8 hingga ke-14, di mana imperium Islam begitu kokoh dan kuat.

Kehebatan tersebut kini tinggal masa lalu yang tidak pernah akan terulang sebagai suatu peristiwa yang sama. Umat Islam kini menjadi terpuruk di bawah bayang-bayang imperium dan hegemoni Barat. Umat Islam secara mayor telah tunduk dengan apa yang telah dikendalikan oleh Barat di masa kini. Begitu mudahnya Islam didikte oleh Barat dengan berbagai isu-isu kontemporer. Sementara itu, sejarah kebesaran imperium Islam justru terlupakan dari cita-cita umat Islam di masa kini.

Husain Heriyanto dengan bukunya yang berjudul “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” secara lugas kembali mengingatkan umat Islam di masa kini yang kian akut. Islam semakin tidak dewasa, sementara daya berpikir umat Islam juga semakin melemah. Padahal Ibn Rusyd, Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Biruni, dan para pemikir Islam masa lalu sudah memberikan keteladanan yang mendobrak daya berpikir. Namun demikian, tokoh-tokoh hebat tersebut justru di masa kini hanya di kenal sebagai seorang pemikir sementara pemikiran yang diwariskannya hilang dari pemikiran umat.

Hal itu berakibat sangat fatal terhadap umat Islam yang di masa kini justru dikendalikan oleh orang lain. Sebagaimana yang telah khawatirkan oleh Muhammad Iqbal, salah seorang pemikir sekaligus pembaharu Islam. Iqbal begitu geram menyaksikan umat Islam yang tengah kehilangan kemerdekaannya untuk menjadi diri sendiri dan larut dalam dunia yang diciptakan oleh orang lain.

Senada dengan hal itu adalah apa yang pernah dikemukakan oleh Hassan Hanafi, seorang pemikir Islam asal Mesir. Hassan Hanafi benar-benar geram melihat imperialisme Barat terhadap komunitas Muslim. Umat Islam justru rela dibelenggu dan dihipnotis sehingga mereka terjajah secara mental, pikiran, budaya, politik, dan bahkan ekonomi.

Hassan Hanafi juga memaparkan bagaimana Barat sejak era kolonialisme hingga kini selalu berusaha mendistorsi ajaran dan citra Islam agar tercipta citra negatif terhadap Dunia Islam. Hal itu bertujuan untuk memudahkan Barat dalam menundukkan Dunia Islam. Jika pada era kolonialisme, melalui agenda Orientalisme, Barat menjuluki Islam sebagai pangkal kejumudan, maka hari ini Barat sesuai dengan kepentingannya mencitrakan Islam sebagai agama kekerasan dan agama yang tak toleran (hlm. 7).

Sementara itu, umat Islam justru terdikte oleh pencitraan Barat tersebut. Pencitraan yang Barat lakukan terhadap Islam berhasil memengaruhi mentalitas dan sikap serta pemikiran sebagian umat Islam. Buktinya, akhir-akhir ini umat Islam banyak mewacanakan tema-tema seperti agama Islam yang dihubungkan dengan kekerasan, tema-tema Islam pluralis, pluralisme agama, dan lain sebagainya di mana hal itu adalah hasil dari pencitraan Barat terhadap Islam.

Betapa hal itu merupakan suatu pengendalian Barat atas Dunia Islam di masa kini. Umat Islam terdikte, terkendalikan, terbelenggu, dan terjajah kemerdekaannya. Imperialisme kultural yang dilancarkan oleh Barat begitu gencar seiring bergulirnya waktu. Dengan demikian, umat Islam harus bangkit dan berani mandiri serta merdeka dari belenggu imperialisme bangsa lain.

Belajar dari sejarah masa lalu bahwa imperium Islam pernah berjaya dan menguasai seluruh dunia dengan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, serta budaya berpikir dan kritis. Tokoh-tokoh yang menonjol pada masa lalu telah memberikan keteladanan bagaimana membangun fondasi keilmuan umat Islam sehingga mampu menciptakan lingkungan ilmu pengetahuan.

Membangkitkan budaya berpikir merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar bagaimana suatu kebangkitan itu dimulai. Dengan demikian, perlu adanya rekonstruksi dalam gaya berpikir umat sekaligus dekonstruksi terhadap budaya bisu dan diam. Namun demikian, hal itu perlu didasari dengan cita-cita yang sungguh dan umat mampu mengoreksi diri.

Sebagaimana buku “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” yang secara tegas memaparkan betapa warisan sejarah peradaban Islam di masa kejayaan sungguh luar biasa. Jika hal itu tidak dimanfaatkan oleh umat Islam di masa kini, maka umat Islam akan kehilangan arahnya di masa mendatang. Oleh karena itu, belajar dari sejarah masa lalu haruslah menjadi sebuah aksi yang nyata untuk berbekal di masa depan yang cemerlang. Kini, saatnya umat Islam untuk bangkit dari keterlelapannya.

Supriyadi
Peresensi adalah pengamat sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Alamat: Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum PP. Krapyak Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. umat Islam harus punya konsep sudut pandang atau bingkai tersendiri kala berhadapan dengan dunia barat jangan justru dibingkai oleh barat dan tulisan dibawah ini mudah mudahan menjadi salah satu bingkai yang mendasar : Hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi antara hubungan antara agama dengan sains maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan dan versi sudut pandang manusia.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang lahir melalui saintisme yang mendeskripsikan definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai ‘segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai saintisme,faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupaun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu akan berbenturan dengan agama.
    Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita analisis adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan dengan agama itu,bila itu adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi saintisme (yang membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera) maka itu adalah suatu yang pasti akan terjadi,sebab agama tidak membatasi ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera sebab dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus bisa menjangkau keseluruhan baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga dua alam itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai satu kesatuan system).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung).jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: