Filsafat Islam Sangat Kaya dengan Khazanah

January 12, 2009 at 8:19 am | Posted in Foto-foto Seminar ACRoSS | Leave a comment

Republika Minggu, 11 Januari 2009 pukul 13:35:00

KABAR

Filsafat memiliki komitmen intelektual untuk mengatasi problem peradaban kontemporer.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-001Agama Islam memiliki ajaran yang sempurna dan lengkap. Berbagai permasalahan, baik keagamaan ataupun kemasyarakatan, bisa ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW. Sesuatu yang belum dibicarakan dalam kedua sumber hukum Islam tersebut merupakan tantangan bagi umat Islam untuk menggalinya lebih mendalam. Seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi, dan lainnya.

Lalu, bagaimana dengan filsafat? Banyak pihak yang menganggap, bahwa ilmu filsafat dalam Islam lahir dari upaya serius yang dilakukan oleh Abu Yusuf Ya’kub Al-Kindi. Al-Kindi banyak menyunting dan menerjemahkan buku-buku karya para filosof terkenal Yunani, seperti Aristoteles, ke dalam bahasa Arab. Dengan penguasaan ilmu bahasa yang mumpuni, membuat karya dan hasil terjemahan Al-Kindi menjadi sangat bernilai dan dikenal sebagai karya terjemahan yang paling akurat dan prestisius. Kemudian, muncul pula filosof Islam lainnya, seperti Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Razi, serta Al-Tusi.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-079Filsafat sebenarnya bukanlah barang baru dalam khazanah Islam. Ia bisa dikenali lewat sistem dan cara berpikir yang rasional dan bertanggung jawab melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Filsafat berasal dari bahasa Arab: falsafah, falasifah, failasuf, dari isim masdar yang memiliki makna hikmah, bijak, dan disandarkan pada kaidah aqliyah yang meliputi ilmu Sharaf, Maani, Bayan, Badi’, Arudz, Tafsir, Hadis, Fiqh, dan Usul Fiqih.

Seperti Aristoteles, para filosof Muslim kemudian membagi filsafat menjadi dua kategori, yaitu Falsafah Nadzari (Ilahiyah) yang berbicara tentang wujud dan eksistensi serta Falsafah Amali (Insani) yang membincangkan kesalehan dan perilaku sosial. Falsafah Nadzari mencakup Falsafah Ilahiyat (metaphysics), Primary philosophy, Riya dziyat (mathematics), yang disebut dengan Falsafah Wustha, dan yang terakhir Falsafah Thabiiyat (physics, natural philosophy).

Belakangan, filsafat Islam sudah mulai dilupakan. Hanya kalangan tertentu yang tertarik untuk mempelajarinya. Bahkan, cara berfikir yang rasional, bijak, dan bertanggung jawab justru makin terdesak oleh pola pikir yang dikembangkan pihak dunia barat. Tak heran, bila lembaga, seperti Universitas Islam Negeri (UIN) atau IAIN, sebagai lembaga pendidikan tinggi agama Islam, terpanggil untuk menghidupkan kembali makna asli dari filsafat.

Bekerja sama dengan sejumlah lembaga terkait, seperti Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, UIN Jakarta, Unika Atmajaya, UI Depok, UIN Bandung, UGM Yogyakarta, UIN Yogyakarta, IAIN Surabaya, UnMuh Malang, Penerbit Mizan, digelar Serial Konferensi se-Jawa tentang Filsafat Islam dalam Kebudayaan Indonesia, pada 5-15 Januari 2009.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-111Ketua Penyelenggara Serial Konperensi ini, Husain Heriyanto, mengungkapkan, kegiatan ini diselenggara kan dalam rangka merespons rekomendasi Kongres Dunia Filsafat bertema Rethinking Philosophy Today, di Seoul pada Agustus 2008 silam yang menyerukan agar filsafat memiliki komitmen intelektual terhadap problem peradaban kontemporer.

”Kita tentu sangat prihatin dengan kondisi ini. Apalagi, kian disadari, filsafat dan kebudayaan barat modern telah membonceng imprealisme politik dan ekonomi Barat dalam membelenggu cara berpikir manusia modern,” ujarnya.

Husain menyatakan, selama lebih dari 300 tahun, filsafat telah ditanamkan semata-mata hanya pelayan sains positivistik (materialisme ilmiah), terbatas pada olah nalar dalam menganalisis bahasa, berpandangan skeptis yang menolak kebenaran universal, dan tidak ada hubungannya dengan isu moral dan kemanusiaan.

”Akibatnya, filsafat, yang dalam makna aslinya berarti cinta kebijaksanaan, sesungguhnya telah mati dan ia bermetamorfosis menjadi misosophy (benci pada kebijaksanaan),” terangnya.

Hal yang sama juga disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dr M Amin Nurdin. Menurutnya, tradisi filsafat mulai hilang dari masyarakat Indonesia. ”Manusia seolah menjadi aktor (pemain) saja, namun tidak bisa menjadi sutradara,” jelasnya.

Amin menyebutkan, bagaimana zaman dulu ketika Sutan Takdir Alisyahbana menggali filsafat menjadi pandangan atau jalan hidup yang bersumber dari kebudayaan. ”Sekarang, masyarakat kita sangat gampang berbuat kekerasan, anarkisme, dan lainnya,” terangnya.

Keprihatinan juga diungkapkan pendiri ICAS, Dr. Haidar Bagir. Menurut Haidar, filsafat Islam bisa mendorong kaum Muslim benar-benar memahami kompleksitas persoalan pembangunan sistem-sistem kehidupan alternatif. Hanya dengan menguasai isu-isu filosofis mendasar, papar dia, kaum Muslim dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang.

Menurutnya, filsafat Islam lebih baik dan kaya cakupannya dibandingkan filsafat Barat, baik dalam hal sains, ilmu dasar, metafisika, epistemologi realis-konstruktif, maupun bersifat religius. ”Hanya karena kurang penghargaan terhadap Islam sehingga filsafat Islam terlihat menjadi luntur,” paparnya. (sya)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: