Alam Semesta sebagai Hologram

November 13, 2008 at 3:13 am | Posted in Artikel: Wawasan | 3 Comments

Alam Semesta sebagai Hologram

milkyway1tr0

— On Sun, 11/9/08, Yusuf Ahmad Shiddiq <yusufshiddiq@ …> wrote:
Date: Sunday, November 9, 2008, 12:19 PM

Your journey is towards your homeland. Remember you are traveling from the world of appearances to the world of Reality.
-‘Abd’l-Khaliq Ghijuduwani

Consciousness and the New Physics:
http://twm.co. nz/consc_ phys.htm
Reality and Consciousness:
http://twm.co. nz/prussell. htm
Science proves mind’s power over matter
http://twm.co. nz/teleg_ PK.htm
Translated to Bahasa Indonesia taken from:
http://www.rense. com/general69/ holoff.htm

Alam Semesta sebagai Hologram
Buku: Michael Talbot – The Holographic Universe


Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain. Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.


Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan.

Sifat “keseluruhan di dalam setiap bagian” dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal –baik seekor katak atau sebuah atom– adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian- bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang Esa dan Fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu. Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya. Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara partikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Partikel-partikel seperti itu bukanlah “bagian-bagian” yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut “eidolon-eidolon” ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron di dalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti “lokasi” runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional –seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas– harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi. Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima –dalam diskusi ini– bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada — setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari “segala yang ada”.

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu “sekadar satu tingkatan”, yang di luarnya terletak “perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas”.

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme ponyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini. Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica). Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi — hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.

Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut “zebra”, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti “bergaris-garis” , “macam kuda”, dan “binatang dari Afrika” semua muncul di kepala Anda dengan seketika. Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi- silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.

Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita. Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi.

Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan. Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas “keras” dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dukungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan “frekuensi osmik”, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi-frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.

Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi. Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu. Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain.

Suatu lingkungan kecil ilmuwan –yang jumlahnya makin bertambah– percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik. Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu.

Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness] . Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya. Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi.

Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalam an seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat. Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan
yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika] . Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalam an seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai “pengalaman transpersonal” , dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalam an seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik. Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal. Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung- jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat “mukjizat” mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani. Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan “realitas”.

Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang “tidak biasa” dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya “Gifts of Unknown Things”, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakuan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut-turut. Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas “keras” tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik. Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas.
Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalam an sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan- kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi. Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined.

‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya. Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect “menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.”

HOLOGRAPHIC UNIVERSE AND TIME
Ahmed Baki

Time is never something as we consider it, for we understand ‘time’ depending on our way of observation and perception capability. ‘Time’ is shaped (sculpted) in our minds based on a way we, the humans observe the universe, and it is a product of our five senses perception. However in fact, it is only the eternal, undivided, “universal one whole moment” that exists, and that “one moment” is considered as “time (passages)” in the presence of an observer, the humans, from a perspective associated with the restricted area of perception.

The discovery of “hologram principle” has made it easy for us to understand that the entire information possessed by one limitless and eternal being that is the origin of universe and has a WHOLENESS, is contained holographically in every atom of existence as a whole. It is that every piece of the universe contains (enfolds) all the information possessed by the whole, for the universe is structured like a hologram. Despite our five senses tell that the universe is composed of independently existing units, and despite the apparent separateness of all things in our physical level of existence, the hologram principle shows that everything that comes into sight in the universe stems from a wholeness and the entire universe is made up by that basic undivided, unbroken ONENESS.

In like manner, every event and every formation that we have observed in the past or will observe in future, that is the entire past and entire future in another way of saying, are contained within the holographic structure of the universe nontimely and nonlocally as an undivided “information” . Accordingly, each individual observer taking part in the universe can reach that holographically- designed- information at the extent its perceptive capability allows to access. Because of the reason that there is neither a limit and thus nor a center determined for the “wholeness of information” , the whole information that appears as universe to our senses, is nonlocally open and presented as a whole to any point where an observer stands. This means that each smallest region of space and time is open to an information in which the entire past and entire future is undividedly complete one and whole. However, an observer can only access that information at the level its capacity allows to access, which determines one’s space and time conception. It is therefore that, the information observed in the world of our senses is a product of our perception and is there from only one perspective. The observer himself is also nothing other than the unfoldment of nonlocal information from within its standpoint.

For the fact that all happenings and formations in our world wholly existed as a holographic information within “‘one undivided cosmic moment”, all our experiences are in a state of ‘completion’ at such a dimension. They have entirely been accomplished, and all is nothing more than a complete information. This means the whole universe is destined already and our RELATIVE future is foregone at some other conception of time. It is that, everything that happens in the world of our senses (in our universe) has totally taken place and already been accomplished at the sight of “one universal moment”. There is a dimension where everything has already finished up and it is self-contained as a whole information.

Yet, the individual observers limited by their perception, can only access into and be aware of that nonlocal “information” at the level of their perspectives. Therefore, we, as humans are able to observe only one level of that holographically- designed- information, and it is that information that makes up ‘our world’ totally we live in. All of the existence that we have been perceiving at our present state is simply one panorama of information received from within a limitless being and it is there in front of our eyes (is real from our perspective) as ‘our universe’ as a product of limited capability of our sensory means. As a result of that, we comprehend the unique ‘cosmic moment’ shaped and represented in terms of years, months and days fully based on our way of conception. If we were to perceive the holographic universe from a different perspective of a higher level, our conception of time would completely alter and our ‘actual lifetimes’ in this world would most likely represent not longer than a few seconds of such a dimension. Because, ‘our worldly lifetimes’ cover just a particular domain of the holographic structure of universe, and such a domain is maybe nothing more than a drop of water in an ocean if compared to the ‘cosmic moment’. So, we live in time passages as established on a conception as we sculpted the cosmic moment in our minds according to our way of perception. Another conception of time from a different perspective will never liken our current conception of time from our actual state. As a matter of fact, if compared to the theoretic “cosmic year” that persists since the birth of “our physical universe” with a big-bang, a human lifetime in our actual dimension do not scale more than a few seconds experienced in the whole history year of time…

If we realize a leap in our consciousness to a higher realm, that is, if our consciousness comes to interact with an information from a perspective of a higher level, in other words, if an information from such a dimension is revealed through ourselves, our current life dimension in this world will represent nothing more than an ILLUSION to us. Reckoned in terms of a galactic time dimension even, our lifetimes with all our memories in this world will be remembered like a DREAM of a sleep. And we may have a leap in consciousness only if we become aware of our essential role at the sight of the basic Essence of universe, that is, at the sight of the universal ONENESS, to be NOTHING more than nothing in Its dream, we might then suddenly experience the awareness that it is all an ILLUSION experienced. Everything that took place in an observational process are understood only in terms of the interaction of information with the observer, and they are simply signs and samples drawn out at a perspective of a limitless holographic universe. We have been viewing a realm of total information interacted with ourselves as our actual lifetimes and looking at the rest in accordance with that.

With respect to the ‘One Cosmic Moment’ and at Its sight, everything dwells in a holographically- designed- information within ITSELF and all times are foregone. That means all times have already been KNOWN undividedly within Oneness Itself. Because, the universe and everything without exception dwells in His knowledge. We, too, are nothing more than individual images made from and formed within His knowledge. Yet, considering the “consciousness” we have, the entire information is undividedly open to us as a whole. Through a leap in our consciousness toward the essence of being, our essence can attain the wholeness of information enclosed in the Universal Oneness…l It is that, the ONE will be revealing and observing Its own knowledge, by means of ourselves in Its presence. This is the ultimate case even now at all states and is the truth. Because, it is just one “Whole Being” and one “Undivided Moment”
alone that is under consideration at that dimension. In addition, the holographic universe is nothing other than the qualities that the “Eternal Moment”, or in other words the “Holder of Information” possessed within Itself, and the expression of those qualities exhibited to Itself from within Itself…

This fact has been mentioned in Sufism as “all the universes are originally illusion and everything has taken place and already been completed within the knowledge of Allah”. These universes mentioned are nothing other than the realms of information designed holographically. .. Everything, every answer and every experience are actually available in an unfragmented universal holographic information, but it is the TIME itself that will SHOW them all to us when due…

Sept. 30, 1990 – Ankara, Turkey
(This essay was published in October 1994 issue of a Turkish Science And Tech Magazine named ULTRA and in July 1995 issue of Turkish Popular Science Magazine.)

— On Sat, 11/8/08, suarasuarahati@ … wrote:
Date: Saturday, November 8, 2008, 6:13 PM

Dibalik cahaya ada kekosongan,
dibalik kekosongan ada cahaya
cahaya menghadirkan kekosongan,
kekosongan menghadirkan cahaya

KUN: KAF dan NUN
KAF tersembunyi
NUN menampakkan diri…

kekosongan tersembunyi
cahaya menampakkan diri
kun fa yakuun terciptalah semesta
-Catatan Harian Membuka Hati, halaman 173-

Mencoba Memahami Jalan Pemikiran Allah
Awwal Dzul Hijjah 1423H ( penulis: Wiyoso Hadi )

Sejak manusia mulai mempertanyakan dasar-dasar pertimbangan Allah dalam menentukan segala sesuatu mulai dari awal penciptaan Dunia ini hingga akhir hari Kiamat nanti, semenjak itu pula hingga kini manusia-manusia yang berkeingintahuan besar berusaha terus menerus berpikir dan merenung untuk mencoba memahami jalan pemikiran Allah. Di dunia Islam pasca Nabi, usaha itu telah coba dirintis oleh para Ahli Hikmah seperti Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi, Abu Nashr Al-Farabi, Ikhwan al-Shafa, Abu Ali ibn Sina, Abu Hamid al-Ghozali, Abu al-Walid ibn Ahmad ibn Rusyd, Yahya Suhrawardi, Muhyiddin ibn al-Arabi, Maulana Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal.

Walau ada berapa kesamaan pandangan dengan kesembilan tokoh Ahli Hikmah plus kelompok cendekiawan Basrah Ikhwan Al-Shafa diatas, ada juga pandangan-pandangan penulis yang berbeda dengan tokoh-tokoh pembaharu masa silam tersebut. Bagi yang telah mendalami Sejarah Budaya Filsafat Islam ‘insya Allah tidak akan memiliki kesulitan untuk menangkap perbedaan-perbedaan pandangan penulis dengan tokoh-tokoh cendekiawan diatas. Namun bagi yang belum pernah bersentuhan dengan Budaya Filsafat dan Sains Islam dapat membaca bukunya C.A Qadir tentang Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam atau bukunya Karen Armstrong tentang Sejarah Tuhan yang keduanya sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia agar dapat menangkap perbedaan-perbedaan itu.

Pandangan penulis tentang Jalan Pemikiran Allah, berapa diantaranya adalah sbb.:
1. Alam Semesta berserta isinya tercipta dalam visualisasi Pikiran Allah. Ibarat sederhananya seperti seorang penulis saat mencipta sebuah dunia karangan yang dibatasi ruang (tempat), cahaya (gambaran cerita), dan waktu (masa berlangsungnya kisah) dalam pikirannya, demikian pula Allah tapi dalam skala mahabesar dan mahasempurna mencipta Dunia kita ini dalam pikiran-Nya. Hal ini berarti bahwa Realitas Sejati hanyalah ALLAH sedangkan entitas selain ALLAH adalah maya.
2. Kemahasempurnaan dunia ciptaan Allah dilandasi pengetahuan bahwa Allah SWT sebelum menciptakan dunia dalam visualisasi pikiran-Nya telah menetapkan aturan yang sempurna yang mengkoridori seluruh proses evolusi Alam Semesta mulai penciptaan hingga kehancuran (hari kiamat)-nya. Dasar aturan yang sempurna untuk mengkoridori tersebut – di dalam Al-Qur’an, kita kenal termaktub dalam Lauh Mahfuzh dan terwujud dalam Sunatullah. Hal ini secara sederhana dapat diibaratkan dengan seorang Pelukis ketika hendak melukis, ia terlebih dulu menetapkan dalam hati-pikirannya (identik dengan istilah arab: “mahfuzh”) bahwa apapun yang akan dilukiskannya haruslah beraliran naturalisme tidak abstrak atau kubisme misalnya. Maka dengan standar “mahfuzh” tersebut, si pelukis mulai melukis apasaja asalkan masih dalam koridor aliran naturalisme.
3. Mirip seperti saat jiwa ingin berangan tentang Laut misalnya, maka keinginan itu diterjemahkan dalam kode-kode perintah otak sehingga otak dapat memvisualisasikan Laut sesuai keinginan Jiwa.. Maka Allah SWT ketika berkehendak menciptakan Dunia dalam Alam Pikiran-Nya, kode-kode perintah yang dipakai adalah “kun”. bagi yang sempat belajar sejarah bahasa Semit (yaitu induk dari bahasa Foenisia, Aramea, Ibrani, Syiria, Kaldea dan Arab) mungkin tahu bahwa dua huruf pembentuk kata KUN yaitu “Kaf” dan “Nun” mewakili kualitas Genap (oleh “K”) dan kualitas Ganjil (oleh “N”). Dengan kata lain perintah
“KUN” oleh Allah SWT merupakan kesatuan kualitas Ganjil & Genap; identik dengan kesatuan kualitas Ying & Yang; atau dalam ilmu genetika identik dengan kualitas X & Y; atau dalam puisi saya berjudul Sabda Cahaya Kalbu identik dengan kualitas LA & YA; sedang dalam dunia modern komputer identik dengan Bahasa Program Binari 0 (Kosong) dan 1 (Satu).
4. Bagaimana cara kode-kode perintah ALLAH “KUN” (yang disimbolkan dengan K dan N) mewujud Dunia, adalah sebagaimana –ibarat sederhananya– Program Komputer 0 dan 1 ” berkerja padu & berkembang” mewujudkan DUNIA MAYA yang “hidup”, “berpikir” dan “bergerak” di dalam layar komputer.
5. Karena Alam Semesta kita ini tercipta dan berevolusi mengikuti aturan yang sangat terpola; yaitu sederhananya seperti mengikuti kinerja berpikir komputer, maka segala kemungkinan yang mungkin terjadi di Dunia kita ini pada dasarnya dapat diprediksikan sebelumnya. Dus, karena seluruh kemungkinan sebab-akibat di Dunia ini dapat diprediksikan maka Hukum Alam Semesta atau Sunatullah selaras dengan Hukum Probabilitas.
6. Teori bahwa dalam Alam Semesta berlaku Hukum Probabilitas telah dikemukakan oleh ahli fisika nuklir Werner Heisenberg yang dengan dasar penemuannya tersebut mengilhami para saintis mengembangkan teori Mekanik Kuantum. Bedanya, Heisenberg menarik kesimpulannya berdasarkan perhitungan rumit fisika; maka metodologi penulis mendapakan kesimpulan tersebut adalah berdasarkan visualisasi ilham yang kemudian visualisasi tersebut penulis analisis lebih lanjut menggunakan rasio dan logika sederhana dengan mengacu kepada teori-teori Hukum Alam yang tersirat dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an.
7. Visi point 6 diatas memperlihatkan pula pada penulis bahwa Allah SWT mengetahui hal-hal yang umum maupun yang khusus tapi bersamaan itu pula Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Penjelasan sederhananya: Ketika di suatu sore penulis, WH, mendengar suara adzan berkumandang maka ALLAH sungguh Maha-Mengetahui bahwa Probabilitas atau kemungkinan WH menyegerakan sholat adalah 23,789% (misalnya) sedangkan kemungkinan WH menunda sholat adalah 76,211% walau demikian Allah SWT memberi kebebasan mutlak kepada WH untuk memilih apakah segera sholat atau sebaliknya menunda sholat. Sehingga Point 7 ini membantah teori Aristoteles, al-Farabi dan ibn Sina bahwa Ilmu Tuhan hanya sebatas pada hal-hal yang umum.
8. Karena di dunia ini berlaku Hukum Probabilitas yang mengikuti deret ukur (Perkalian) bukan deret hitung (penjumlahan) maka adalah bijaksana bila seseorang dihadapkan pada pilihan berbuat baik atau berbuat buruk untuk memilih berbuat baik. Mengapa? Karena sekecil apapun amal kebaikan kita akan secara berlipat-lipat (baca: secara drastis) meningkatkan kesempatan kita mendapatkan Rahmat Allah sebaliknya sekecil apapun dosa kita akan secara berlipat-lipat pula mendekatkan kita kelak kepada Api Kemurkaan-Nya.
9. Pada akhirnya tapi belum yang terakhir, poin 1 hingga 8 menyiratkan betapa Allah Mahasabar lagi Maha Memegang Janji. Mengapa? Karena Dunia Alam Semesta ini termasuk kita didalamnya dengan segala intrik-intriknya berada dalam Visualisi Pemikiran ALLAH. Maka andaikan ALLAH tidak sabar melihat pembangkangan yang terjadi dalam Visualiasi Pemikiran-Nya, tentu ALLAH menghapuskan/ melenyapkan/ meniadakan Visualiasi Pemikiran-Nya saat ini dalam sekejap mata atau bahkan lebih cepat dari itu; dan menggantinya dengan mencipta/membangun/ mengembangkan Visualiasi Pemikiran (baca: Alam Dunia) yang baru dan diisi mahluk-mahluk yang lebih taat kepada-Nya. Tapi hal itu tidak dilakukan oleh Allah karena Allah Mahasabar lagi teguh berpegang janji pada Ketentuan/Ketetapan Pikiran-Nya yang dibuat-Nya sebelum Alam Semesta ini diciptakan dan termaktub dalam Lauh Mahfuzh. Sungguh Mahasuci ALLAH dengan segala rencana dan pemikiran-Nya.
-Catatan Harian Membuka Hati, halaman 27-33-

— On Fri, 11/7/08, hudan_ibnul_ iman wrote:
Selalulah bersikap syareat-haqekat

Al-Qur’an yang diturunkan kepada umat manusia pada dasarnya memiliki dua sifat pengajaran, yaitu ajaran untuk urusan dunia dan ajaran untuk urusan akherat. Urusan dunia berkaitan dengan Hukum Syareat, dan urusan akherat dikaitkan dengan Hukum Haqekat. Maka di kehidupan ini hukum syareat dan haqekat adalah saling berdampingan, jika salah satunya tidak ada atau tidak dianggap maka timpanglah kehidupan, dalam hal ini kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam diri manusia Hukum Syareat dipahami oleh akal, sedangkan hukum haqekat dipahami oleh hati. Karena itu Allah selalu mengingatkan/ mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa dzikir dan tafakur. Dzikir adalah mengingat yaitu Allah sedangkan tafakur adalah merenungkan/ memperhatikan/ meneliti ciptaanNya. Karena itu tidak ada tafakur Allah karena Allah tidak dapat direnungkan/ diperhatikan/ diteliti/ dipertanyakan, jika ditanyakan hanya dijawab dengan bahwa Allah itu dekat. Demikian pula dengan Hukum Syareat masih memungkinkan untuk direnungkan/ diperhatikan/ diteliti/ dipertanyakan alias bersifat fleksibel, sedangkan hukum Haqekat bersifat mutlak. Dengan tafakur alam semesta, semakin dalam pengetahuannya, semakin rinci penemuannya, maka akan semakin membuat manusia itu semakin merasa tinggi-angkuh atau semakin merasa rendah-hina. Karena itu perlunya tafakur harus selalu didampingi dzikir (ingat) Allah, sehingga manusia itu akan mengembalikan segala sesuatunya kepada Hukum Haqekat yaitu segala sesuatu berasal-
kembali kepada Allah yang Al-Adzim, itulah sebab mengapa dzikrullah adalah sebagai obat yang paling mujarab dari berbagai penyakit, karena Sumber penyakit sebagian besar berasal dari tafakur yang salah, pemikiran yang salah-kalut- stress, was-was, khawatir.

Segala permasalahan di dunia jika dikembalikan kepada akal niscaya akan stack-stress- error, sebaliknya jika dikembalikan ke hati segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Misal: coba anda masukkan segala teori dunia seperti perhitungan rumus-rumus fisika dan bayangkan berapa luas bumi yang kita pijak ini kedalam akal, pasti pembuluh2 darah otak anda akan pecah alias strook. Sekarang coba masukkan segala alam semesta ini kedalam hati anda, pasti anda dapat memandang bahwa alam semesta itu hanya seluas genggaman tangan bahkan lebih kecil bahkan semakin sirna. Itulah hati, itulah hukum Haqekat yang
bersifat mutlak.

Oleh karena itu, marilah senantiasa menyandingkan syareat dengan haqekat, bila sedang berjalan tafakur tiap kaki yang melangkah, lalu ingat (dzikir) bahwa Allah lah yang menggerakkan kaki, dan sebagainya, itulah maksud dari ayat Allah dzikran-kasiran yaitu Dzikir dengan jumlah yang banyak. Bukan artinya jumlah bilangan bacaan dzikirnya yang banyak, akan tetapi dzikir yang memiliki nilai yang banyak/luas. Misal dzikir sekedar 1 kali mengucap Allah tanpa tafakur hanya akan bernilai 1, bila sambil tafakur maka 1 kali dzikir nilainya sebanyak/seluas apa yang sedang ia tafakurkan.

Rahasia Kekuatan
Alam semesta ini diciptakan untuk umat manusia. Tapi siapakah manusia yang mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan alam semesta ini. Jawabannya adalah Manusia yang mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan dirinya sendiri, singkatnya manusia yang berserah diri. Karena hanya dengan berserah diri kekuatan/ kemampuan itu bisa terwujud. Karena itu Ajaran Allah sesungguhnya adalah ajaran berserah diri yang dinamakan Al-Islam. Kalau disebut Islam saja, berserah diri itu bersifat jamak/luas, karena itu disebut Al-Islam yaitu bersifat khusus/tertentu, maka makna Al-Islam adalah berserah diri yang khusus/ tertentu. Itulah sebab ajaran Islam itu untuk seluruh umat manusia karena ajaran Islam adalah fitrah manusia.

Mari buktikan benarkah berserah diri itu adalah rahasia kekuatan.
Pertanyaan; ajaran mana yang memiliki jumlah pengikut yang besar dan sukses tanpa ada sikap berserah diri di dalamnya. Dalam penganut suatu agama? Contoh: Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan aliran kepercayaan sekalipun inti ajarannya di dalamnya terdapat ajaran berserah diri. Dalam ilmu tenaga dalam? Contoh: Merpati Putih, Mahatma, Reiki, Taichi, dan sejenisnya ekhnik peningkatan dan penyaluran energi-nya dengan cara berserah diri. Sebab itu para guru-guru atau ahli-ahli tasawuf mereka memiliki lebih besar dan lebih dalam pengetahuannya tentang Al-Islam daripada mereka yang tidak ber-tasawuf, karena mereka telah mampu berserah diri yang sebenar-benarnya, sehingga segala rahasia telah tersingkap karenanya.

Secara teori sikap berserah diri akan memposisikan diri pada posisi netral (nol). Segala sesuatu bila diposisikan netral akan mudah bergerak, berubah, berkembang dan bermigrasi. Misal sebuah mobil yang melaju kedepan tidak mungkin bisa melaju mundur tanpa melalui titik netral alias berhenti walau hanya sekejab. Dalam peyaluran energi seperti tenaga dalam atau listrik tidak mungkin tercapai jika tidak melalui titik netral. Demikian pula para ahli sufi mengalirkan segala macam ilmu-ilmu pengetahuan yang luas dan dalam karena telah mampu menetralisir dirinya atau bersikap berserah diri, karena hanya dengan sikap netral saja ilmu itu dapat mengalir.

Nol = Netral = berserah diri = Islam = fitrah manusia = Sunnatullah.
Barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya.
Jika tak mampu mengenal diri, carilah guru yang ahli mengenal diri, carilah guru yang mengenal Tuhannya, carilah waliyan muryida (Al-Kahfi.18: 17).

Dalam teori fisika Quantum, dikatakan bila sesuatu massa memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya, maka waktu akan berhenti atas massa tersebut, sedangkan wujud massa tersebut menjadi hilang karena telah membaur dengan unsur alam semesta, dan ia dapat berada di berbagai tempat dalam satu waktu. Sampai saai ini belum ada suatu alatpun yang mampu bergerak dengan kecepatan cahaya.

Kecepatan Cahaya = waktu berhenti = nol = netral = berserah diri
Pendapat saya bila manusia yang mampu berserah diri dengan sebenar-benarnya, maka ia sedang bergerak dengan kecepatan cahaya, karena ia dalam posisi netral = nol = waktu berhenti. Bukti pertama adalah Isra’ Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW dalam waktu yang singkat, tempat tidur beliau masih terasa hangat. Beliu adalah hamba Allah yang berserah diri. Sedangkan lainnya telah dibuktikan oleh para waliyullah (waliyan mursyida (Al- Kahfi.18: 17)) yang dirinya mampu berada di berbagai tempat pada waktu yang sama, mampu menembus lapis-lapis langit dan bumi.

Wallahu a’lam.
Iman Prasojo.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Abdul Hadi WM Wrote:

    Dramawan Indonesia terkemuka Arifien C. Noer menulis dalam lakonnya Dalam Bayangan Tuhan, antara lain seperti berikut:

    Biarkan Tuhan bicara
    Dengarkan Tuhan bicara
    Gunung bergerak perlahan
    Hutan meranggas kerontang
    Sungai mampat di hulu dan muara
    Biarkan Tuhan bicara
    Dengarkan Tuhan bicara
    Drama tersebut sangat apokaliptik, ditulis pada tahun 1980an, berisi kritik terhadap kapitalisme liberal. Sajak yang dikutip dinyanyikan oleh sekelompok orang tertindas, yang kemanusiaannya dinafikan dan lingkungan hidupnya dirusak semena-mena sebagaimana kebudayaan, kearifan, agama, dan tradisi intelektualnya, sementara kekayaan tanah airnya digarong. Sambil membawa hasil garongannya, si penggarong itu berteriak: “Sialan, lu teroris ya?”
    Bandingkan sajak Arifien C. Nor tsab dengan puisi Khalil Gibran:
    Kusua mimpimu di ladang-ladang
    Kujumpa keagungan-Mu di lembah-lembah
    Kutemukan kehendak-Nya pada batu-batuan
    Dan diam kekal-Mu yang dalam serta rahasia-Mu di gua-gua
    Kaulah keabadian dan bibirnya
    Tali senar gitar abad-abad dan jemari yang memetiknya
    Gagasan tentang hidup dan perlambang-perlamba ngnya
    Makna “kun faya kun” tersirat dalam bait sajak tersebut, yang dalam bahasa aslinya Arab tentu jauh lebih indah. Danarto dalam cerpen sufistiknya “Asmaradana” (1971) menyelipkan sajak berikut:
    Sementara waktu tumbuh terus
    Kembang-kembang silih berghanti mekar dan layu
    Karnaval awan bersama hujan dan panas
    Sonya ruri sunyi sepi, hidupmu sendiri
    Apa yang kaunanti, tinggalkan zirah besimu
    Lihatlah aku yang mencintaimu, bersih seperti bongkahan es
    ________________________________________
    Dari: WIYOSO HADI
    Kepada: “suaraSUARA@ yahoogroups. com”
    Terkirim: Senin, 10 November, 2008 16:09:34
    Topik: [SUARA] RE: Re: Fwd: kun fayakun

    Alhamdulillah, temuan para ilmuwan tentang realitas Hologram Alam Semesta ini, bila dibaca dengan jujur, obyektif dan seksama🙂 ‘insya Allah ‘senafas’🙂 pula dengan “hikmah-hikmah” kutipan-kutipan firman Allah berikut ini:

    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau… (Al-An’aam: 32); Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). ..Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan.. . (Al-An’aam: 59-60); Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al-An’aam: 103); Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. …Dia bersama kamu di mana saja kamu berada… (Al-Hadiid: 3-4). …Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadiid: 20). Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. .. (Kami jelaskan ini kepadamu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadiid: 22-23).

    Selain itu, temuan ilmiah ini, boleh dikatakan juga merupakan suatu “penjelasan yang lebih membumi”🙂 dari “sebagian” apa yang pernah saya tulis dan maksudkan dalam Catatan Harian Membuka Hati, tiga tahun silam, (maaf halaman berapa lupa🙂 yaitu:

    Bismillahir- Rahmaanir- Rahiim..

    Tak ada yang benar-benar kosong
    tak ada yang benar-benar padat
    Dalam kekosongan ada kepadatan
    dalam kepadatan ada kekosongan

    Dalam bathin ada zhaahir
    dalam zhaahir ada bathin
    Dalam keseluruhan ada bagian
    dalam bagian ada keseluruhan

    Keseluruhan Dzat-NYA bathin
    bagian Sifat-Sifat- NYA zhaahir
    Diamlah dalam dzikir
    dzikirlah dalam diam

    dan geraklah dalam dzikir
    dzikirlah dalam gerak
    hingga alami…

    saat diam dalam gerak
    dan gerak dalam diam
    saat kontemplasi dalam kreasi
    dan kreasi dalam kontemplasi

    saat kesatuan dalam keragaman
    dan keragaman dalam kesatuan
    saat awwal tak lain akhir
    dan akhir tak lain awwal

    dan saat ada jadi tiada
    dan tiada jadi ada
    maka saat itu…

    diri kan terliputi Hakikat Muhammad
    dan melaluinya tersingkaplah ….
    Diri Sejati.

    (Selasa, 12 Jumadil Akhir 1426H, 19 Juli 2005)

    salam,

    PS.
    Mohon maaf bila email-email Saudara/i Bapak/Ibu belum atau tidak sempat saya balas, tapi ‘insya Allah sebagian besar akan saya buka dan baca walaupun tidak sempat membalasnya. Kata senior, rekan kerja sekantor dan sahabat baik saya mas Budiono, saya perlu meng-hire sekretaris khusus untuk jawab e-mail🙂, tapi nampaknya dalam waktu dekat belum🙂 jadi mohon maklum dan pengertiannya🙂 terima kasih, jabat erat, senyum hangat, yos.

    — In SUARA, suarasuarahati@ … wrote:

    Temuan ilmiah para saintis modern bahwa alam semesta sebagai hologram ‘senafas’ dengan kutipan dua suara hati ini:

    “Whatever exists in the entire universe, it is also in your own heart. You have to gain the ability to see it. People cannot describe me. No matter in which words or in which terms they present me, I am the opposite of what they say. I feel, I hear, I speak, but I do not exist.” – Abul-Hasan ‘Ali al-Kharqani –

    “Makhluk bukan ALLAH, makhluk juga bukan bayangan ALLAH, makhluk wujud bayangan dalam Kesadaran ALLAH, makhluk ada karena dihidupkan dalam Kesadaran-NYA, makhluk binasa karena dimatikan dalam Kesadaran-NYA, diri-diri bukan apa-apa kecuali bayangan dalam refleksi DIRI SEJATI ALLAH. ALLAH tidak bergerak, tidak pula diam, ALLAH beraktivitas dalam Kesadaran-NYA Yang Esa, Mahasuci ALLAH, tiada tidur, tiada lelah, memelihara semuanya dalam Kesadaran-NYA. – Wiyoso Hadi, Catatan Harian Membuka Hati, halaman 171, 172 –

  2. Ahmad Yanuana Samantho at 9:43am December 1
    Salam, Pak Armahedi yang dirahmati Allah, Terima kasih pak mau berteman dengan saya murid Bapak. Pak kemarin saya baca tulisan tentang “Alam Semesta sebagai Hologram” dari milist Suarahati. Apa Bapak sudah Baca? Bagaimana tanggapan Bapak sebagai seorang filosof Sciences?? Artikel tersebut dab link-nya bisa Bapak liohat juga di http://www.acrossindonesia.wordpress.com dan http://www.ahmadsamantho.wordpress.com.

    Armahedi Mahzar at 11:06am December 3
    Wah saya belum baca artikel itu. Tapi alama semesta adalah hologram adalah hipotesa dari Terrence McKenna dan juga Micahel Talbott. Baca http://twm.co.nz/hologram.html. Mungkin saja itu benar, dalam teori M yang mengunifikasi medan garvitasi dan teori medan kuantum, ada juga Holographic Principle ( http://en.wikipedia.org/wiki/Holographic_principle ) yang diajukan oleh Gerard ‘t Hooft dan Leonard Susskind untuk menjelaskan paradoks informasi lubang hitam.

  3. akal yang bersih dan murni, akan Allah berikan isi untuk meyakini Ciptaan-Nya.keindahan yang ada jangan lagi dicemari tapi kita pelihara dengan rasa terimakasih kepada-Nya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: