Beyond Ideology

August 23, 2008 at 3:42 am | Posted in Artikel: Wawasan | 1 Comment

Beyond Ideology

Dipresentasikan oleh E. Sri Mulyati pada kajian buku William Chittick

Science of the Cosmos, Science of the Soul

Salah satu aturan yang dimainkan oleh suatu tradisi intelektual adalah membantu memahami sifat-sifat ideology. Program sosio-politik apapun yang dibangun berdasarkan analisis-analisis tentang human nature (tabiat manusia) saat ini, cenderung rasional-saintifis. Dengan demikian, inilah ideology yang berakar pada teori humanistik-sekular yang tumbuh di masa pencerahan (renaisance). Ini tidak termasuk agama tradisional, yaitu bentuk premodern dari pemikiran religius, meski itu sudah termasuk macam-macam bentuk politisasi keagamaan yang lumpuh bersamaan sebagai fundamentalisme, bahwa mereka mewakili jenis tertentu dari pemikiran modern.

Ideology menyediakan suatu kerangka teoretis bagi seluruh pemikiran politik dan sosial di dunia moderm, jadi tidak bisa terlepas dari pengaruhnya. Tradisi intelektual bisa menyarankan beberapa cara, yang mana kita sebagai individu dapat mengarahkan kedatangannya.

Chittick memiliki tiga tujuan penting dari tradisi ini, yaitu memecahkan kerangka dogmatis, menyertakan keabsolutan Tuhan, dan penyadaran terhadap imaginasi mitos.

Transmitted knowledge adalah tipe pengetahuan yang mendominasi kebudayaan manusia, juga kebudayaan modern tanpa kecuali. Saat kita membayangkan bahwa kita mengetahui sesuatu, kita telah mendengarnya dari orang lain. Kita juga bisa mengklaim bahwa pengetahuan personal dan eksperiensial kita berfungsi sebagai intelek, karena kita telah menerimanya dari organ pengindera kita yang tidak reliable, dan kita telah menafsirkannya dengan istilah prevailing worldview.

Dalam Konteks di mana otoritas dari transmisi pengetahuan itu tertunda oleh keyakinan agama, di sana terdapat beberapa sumber transmisi pengetahuan yang otoritatif.

Ada suatu kelas istimewa yang cukup besar yang mengklaim bahwa mereka mewakili otoritas pengetahuan—seperti para ilmuwan, para insinyur, dokter, psikiater, pengacara, ahli bedah syaraf, bahkan orientalis. Apapun yang ingin kita katakan tentang suatu pengetahuan, bagi kita sudah tersampaikan. Apa yang membuat kita merasa nyaman terhadapnya adalah bahwa kita mempercayai otoritas sumber (pengetahuan)-nya.

Jika transmisi pengetahuan itu kebiasaan kita, pengetahuan sehari-hari, maka pengetahuan intelektual itu sesuatu yang berbeda. Pengetahuan hanya berfungsi sebagai intelektual ketika si pelaku mengetahuinya dari dasar intelejensi mereka sendiri dan tanpa perantara, bahkan tanpa imajinasi dan kogitasi.

Dalam istilah filsafat Islam, pengetahuan seperti itu disebut sebagai pengetahuan non-instrumental (ghayr ali). Ini dikarenakan ia tidak tergantung pada instrumen-instrumen jiwa, alat dan kekuatan pikiran apapun. Ia tidak datang dari luar dirinya, pun tidak datang dari indera, imajinasi, kogitasi, ataupun intuisi. Ia tergali dari kedalaman realm dari intelijensi yang tak lain dari jiwa ilahi, intelek pada akar fitrah manusia. Pendeknya, peranan tradisi intelektual adalah sebagai tangan kedua dari pengetahuan yang tersedia bagi mereka yang menginginkannya. Ia menunjukkan pada manusia cara untuk bergerak melampaui apa yang telah mereka katakan. Dia adalah jalan untuk menemukan kebenaran absolut dunia bersamaan dengan kedalaman jiwa seseorang. Satu-satunya tempat di mana kita bisa menemukan kebenaran. Inilah objek dari pencarian. Berapa banyak orang yang mencari tujuannya. Mungkin tidak banyak yang penting adalah pencarian tersebut adalah sesuatu yang ideal dalam masyarakat Islam dan itulah yang mengispirasi para filsuf dan intelektual untuk fokus terhadap tawhid daripada takthir.

Memecah Kerangka Dogmatisme

Dogmatisme menurut Chittick yaitu klaim yang diajukan oleh para guru atau pemikir atau ideology yang setiap orang mesti tambahkan pada set kepercayaan dan praktek-praktek tertentu yang didapat dari sumber terpercaya mereka dan diinterpretasi oleh mereka sendiri. Dogmatisme tak lain daripada fakta kehidupan dalam seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks Islam, para dogmatis biasanya terdiri dari ahli fiqh dan teolog, yang mengklaim bahwa semua kebenaran itu harus diterima. Dalam masyarakat modern, kata Chittick, dogmatisme ditemukan diantara penganut berbagai aliran—agama, sains, demokrasi, sosialisasi, kemajuan, kebebasan, perkembangan, dll.

Satu hasil kelemahan gradual tradisi intelektual atas kajian sejarah Islam adalah meningkatnya kecenderungan terhadap pendekatan dogmatis, khususnya dengan pembentukan mazhab teologis dan yuridis (Fiqh). Kita harus ingat bahwa para teolog dan yuris (fuqoha) tersebut, betapapun sempitnya pandangan mereka, namun mereka memainkan peranan penting dalam melestarikan transmisi pengetahuan atas agama yang mereka bela. Terlebih, jika para teolog dan fuqaha membawa pendekatan dogmatis, mereka melakukan hal tersebut hanya dalam kerangka transmitted knowledge, tidak dalam intellectual knowledge.

Katekisme dan polemik tidak dapat menahan orang-orang dari perjuangan mereka untuk mencapai pengetahuan Tuhan, kosmos, dan jiwa mereka sendiri. Akar pencarian kebijakan yang merupakan fitrah bagi jiwa manusia tidak dapat terhalangi oleh retorika dan ancaman-ancaman. Tentu saja, ini merupakan jalan terbuka dalam peradaban Islam. Di Barat juga dengan kebangkitan sains dan sekularisme, pencarian kebajikan (wisdom) mulai terbuka, dan para pemikir besar dan terhormat kita mulai membicarakan tentang kematian Tuhan dan kematian metafisik secara bersamaan. Hal ini telah menjadi hal yang mendasar dalam bentuk modern dari transmitted knowledge.

Al-Ghazali, di antara para filsuf lainnya mulai menyerang mentalitas dogmatis secara berkala. Dalam melakukan hal tersebut ia menjelaskan bahwa transmisi pengetahuan tersebut sudah terlalu sering menjadi hijab yang berusaha mencegah usaha apapun untuk mencapai pemahaman intelektual. Ia menulis, misalnya,

‘’penyebab adanya hijab itu ialah bahwa seseorang akan mempelajari orde Sunni dan akan mempelajari bukti-bukti untuk itu sebagaimana yang mereka utarakan dalam dialektika dan perdebatan. Lalu ia akan memberikan seluruh hatinya untuk ini dan percaya bahwa tidak ada pengetahuan apapun di atasnya. Jika sesuatu yang lain memasuki hatinya, ia akan mengatakan, “hal ini bertentangan dengan apa yang telah kudengar, dan apapun yang bertentangan dengannya itu salah.” Adalah mustahil bagi seseorang seperti ini mengetahui kebenaran suatu masalah, karena kepercayaan yang diketahui oleh masyarakat awam itu adalah bentukan/cetakan dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Pengetahuan yang lengkap itu untuk menyingkap kenyataan dari bentukan itu, seumpama biji yang terlepas dari cangkang/kulitnya.”

Kepercayaan dari masyarakat awam itu adalah apa yang telah mereka terima dengan melalui transmisi pengetahuan (transmitted knowledge); yaitu pengetahuan berdasarkan taqlid bukan tahqiq. Yang terakhir (tahqiq) memberikan akses pada yang Haqq, “kebenaran itu sendiri.” Kata ini adalah akar kata dari tahqiq, artinya tidak hanya kebenaran, tetapi juga realitas kebenaran, persetujuan, keberhargaan, dan tugas/tanggungjawab. Dalam istilah Qur’an, kadang-kadang membawa perasaan yang sama bagi konsep modern kita tentang “hak.” Hal tersebut saat ini berlaku plural. Huquq, yaitu istilah yang sering digunakan saat kita membicarakan “hak asasi”, bahkan sering terlupakan, kata bahasa Arab tersebut bisa juga diterjemahkan sebagai “tanggung jawab.” Dalam kajian premodern, hak dan kewajiban diumpamakan sebagai dua sisi mata uang, keduanya ditemukan dalam haqq (yang Absolut) yaitu Tuhan.

Ketika para pemikir muslim kontemporer mengkritisi taqlid, isunya selalu saja mengenai penafsiran terhadap ajaran-ajaran legal, sosial dan politik. Untuk mengerti bahwa hal ini tidak ada kaitannya dengan tahqiq, hendaknya dicatat bahwa mereka tidak pernah menyerang taqlid dalam seluruh transmitted knowledge, hanya dalam bentuk yang tidak mereka sukai. Mereka sendiri telah mengambil apa yang mereka ketahui tentang sejarah dan masyarakat islam dari yang lain. Mereka melancarkan kritik pada penguasa yang interpretasi hukum islamnya telah diterima. Mereka meminta para penganut agama untuk berhenti meniru otoritas lama dan mulai meniru otoritas baru, yang kelihatannya mereka mereka sendiri. Mereka mempertanyakan reabilitas dari transmisi pengetahuan yang telah diikuti oleh kaum muslim selama berabad-abad. Kebanyakan mereka memberi tahu kita bahwa pengajaran islam harus diadaptasi waktu. Argumen dasar mereka adalah bahwa ada bentuk-bentuk baru otoritatif, transmisi pengetahuan yang harus diimitasi. Transmisi pengetahuan yang baru ini telah dibangun oleh para teolog dan para yuris (ahli hukum) kontemporer—yang sekarang dikenal sebagai ilmuwan, psikolog, geolog, sosiolog dan kritikus. Otoritas baru harus diikuti sejalan dengan/daripada yang lama.

Dalam tradisi intelektual, taqlid diapkirkan dalam pengetahuan intelektual, bukan dalam transmisi pengetahuan atau dalam tahap awal pencarian realisasi. Dalam masalah sosial, legal dan urusan kedua lainnya, taqlid cenderung disetujui, karena transmisi adalah sumber pengetahuan. Sedangkan para pemikir modern cenderung memiliki sudut pandang berbeda. Kita sering berfikir bahwa kita harus menerima sebagaimana yang diberikan konsensus populer terhadap dunia, yang telah dibangun oleh para ilmuwan, sarjana dan media. Kita sendiri sepertinya kekurangan para ahli. Kita mencapai kreatifitas bukan dengan melakukan kontak dengan sumber transenden kreatifitas itu sendiri, yaitu nafas Illahi yang ditiupkan ke dalam fitrah kita, namun dengan melawan transmisi pengetahuan yang membentuk dasar dari hukum, agama, peraturan sosial dan hubungan antar manusia.

Pendeknya, tahqiq tidak hanya menuntut seseorang untuk mengetahui kebenaran pertama dan realitas absolut, tapi juga bekerja sebagaimana mestinya. Haqq yang pertama menghilangkan huquq—HAM, kewajiban dan tanggung jawab berdasarkan fitrahnya. Untuk mengerti huquq membutuhkan konformitas dengannya, tahqiq merangkul keduanya, baik aksi kognitif yang mengetahui huquq, juga tanggung jawab etis yang mengikuti pengetahuan tersebut.

Sebaliknya ideologi dibangun berdasarkan peniruan dari keyakinan yang dibangun oleh para bapak pemikiran modern, para nabi modernitas. Nabi-nabi ini pada gilirannya mendasarkan klaim mereka pada otoritas pandangan saintifis yang dibangun oleh kaum pencerahan. Dari awal sampai akhir, ideologi menuntut kepercayaan terhadap otoritas dari transmisi pengetahuan bukan terhadap kebenaran yang kita ketahui.

Menegaskan Keabsolutan

Jika salah satu tujuan tradisi intelektual, tidak lain adalah untuk menyerang cara berfikir dogmatis dengan memecahkan cangkang, menemukan biji, dan mengetahui realitas sejati bagi dirinya sendiri, lalu menegaskan keabsolutan sang realitas (the Real). Singkatnya untuk melihat segala sesuatu dari sisi; pangkalnya yang terdasar. Metodologi tahqiq berasumsi bahwa intelejensi manusia sangat dekat dengan Tuhan (the Real) dan Tuhan itu satu. Kebenaran dan realitas Tuhan dan alam semesta—haqq-nya—dapat diketahui; hak-hak Tuhan, manusia, dan makhluk lainnya—huquq-nya—dapat dicerna; maka respons yang sesuai dan berharga terhadap kebenaran dan hak dapat terwujud dengan praktek.

Dengan mengatakan bahwa “intelejensi manusia sangat dekat dengan Tuhan / The Real,” bukan maksudnya bahwa praktisi tahqiq mengabaikan sudut pandang yang disediakan oleh wahyu pada umumnya dan Al-Qur’an pada khususnya. Memang beberapa teolog dan yuris menuduh para filsuf menyangkal adanya utusan Tuhan, atau para Sufi yang menganggap diri mereka lebih mulia daripada nabi. Alasan mendasar dari kritik tersebut sangat jelas: menganggap diri sebagai pembela dari tradisi dan mencoba untuk menekankan pendekatan dogmatis pada setiap penganut agama. Namun para filsuf dan sufi ingin mengetahui untuk dirinya sendiri. Mereka menolak tergantung pada pengetahuan apapun yang pernah mereka pahami melalui desas-desus/kabar angin, bahkan suatu konvensi religius dan sosial mempertahankan bahwa pengetahuan itu benar dan dapat dipercaya.

Imaginasi Mitos

Jika dua di antara tujuan tradisi intelektual ialah untuk mengetahui dogma dan untuk menegaskan keabsolutan Tuhan, maka yang ketiganya ialah untuk mengetahui aturan umum dari mitos dalam pemahaman manusia dan, jika perlu, untuk merevitalisasi pengkajian tentang mitos. Kaum pencerahan berhasil membangun supremasi rasionalitas instrumental dengan menolak signifikasi kognitif mitos dan simbol, yang membentuk kitab suci dan kajian keagamaan yang lebih banyak lagi. Alam ghaib yang dirujuk oleh bahasa tradisional—seperti tentang Tuhan, para Malaikat, hari akhir, kesempurnaan manusia—terlihat seperti suatu hal yang bodoh dan tidak bermakna, karena mereka tidak bisa menempatkan metodologi empiris dari akal instrumental. Dari sudut pandang Islam, kecenderungan dari teologi dan yurisprudensi/fiqih dirancang untuk membuat petunjuk konkrit bagi perilaku manusia, dan teologi ingin mempertahankan dogma rasional yang didapat dari bahasa simbolis Al-Qur’an. Namun pendekatan ini bukan pendekatan yang diadopsi dari tradisi intelektual. Para sufi, dan filsuf melihat tanda/isyarat dan simbol-simbol dari Al-Qur’an maksudnya untuk membuka/untuk menyadarkan jiwa akan kehadiran Tuhan dalam segala hal.

Para sarjana modern telah lama melakukan pencarian terhadap peranan mitos dan simbol dalam peradaban dan kebudayaan premodern. Namun modernitas secara umum kekurangan sumber bagi signifikasi pemahaman terhadap apa yang sedang terjadi. Alasannya sederhana, bahwa hal tersebut telah gagal untuk berurusan dengan metafisika, kosmologi dan antropologi spiritual. Maksudnya berurusan dengan hal-hal yang haqq, tidak hanya hal-hal yang sebagaimana yang mereka gambarkan dalam transmited learning suatu ideologi dan zaman saintistik. Sains akademis kontemporer secara nyata telah tercampuri oleh dogmatisme dari transmitted science seperti fisika, biologi, psikologi dan sosiologi. Akibatnya, para teroris telah menempatkan batas pada kemungkinan manusia.

Bahayanya rasionalitas instrumental itu terletak pada klaim dogmatis dan absolut yang dibuat oleh klaim tersebut. Rasionalitas instrumental harus memainkan peranan penting di setiap lingkungan, tapi saat perannya menjadi dominan, pengajaran tradisional mengenai human nature seolah-olah dihilangkan. Pada kasus ekstrim di dunia barat modern, mengetahui santifis tersebut telah mengambil peranan mitos dan simbol. Ini cukup membantu untuk menjelaskan kenapa saintisme memihak pada imajinasi modern, sehingga kebanyakan orang memanfaatkannya begitu saja. Saintisme adalah merasionalkan ideologi yang memiliki kekuatan persuasif dari teknologi, pendidikan, dan media untuk mendukungnya. Ia menyediakan teknologi de facto bagi modernitas agama peradaban.

Ibn’Arabi mengatakan bahwa kita harus melihat mitos dan akal (reason) sebagai sesuatu yang ada dalam harmoni yang Nyata (Tuhan) muncul secara dikotomis di hadapan manusia. Tuhan itu pencipta sekaligus perusak, penyayang sekaligus pemarah (wrathful). Analisis apapun mengenai sifat-sifat ilahi menunjukan bahwa hal itu harus dimengerti secara positif dan negatif, ia bisa menjadi transenden sekaligus imanen. Alasannya adalah ia ada pada dirinya, yang Nyata itu tiada dan hadir/ada bersama semua yang ada di alam semesta ini.

Manusia, dibuat/diciptakan dalam imaji tuhan, memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan dan kosmos. Hak ini memberikan mereka kemampuan untuk menyerap, mereka jauh maupun dekat dengan tuhan. Ibn ‘Arabi menyebut kemampuan untuk memahami Tuhan sebagai reason (‘aql) yang jauh dan kemampuan untuk melihat Tuhan sebagai “imajinasi” dekat (khayal). Apa yang Chittick sebut sebagai intelejensi atau intelek, dia sebut dengan “hati” (qalb), sebuah istilah Qur’ani yang mencerminkan sifat sintetis, spiritual dari kesadaran manusia.

Jika hati menerima perkataan Tuhan yang menggema dalam dirinya, dan jika ia mengintensifkan insting spiritualnya sendiri, maka hendaknya ia membuka apa yang Ibn’Arabi sebut dengan “dua mata”—mata pikiran (reason) dan mata imajinasi, atau pemikiran diskursif dan penglihatan mitos.

Self-Understanding (Pemahaman Diri)

Jika tradisi intelektual islam mampu menawarkan predikamen modern, bagi Chittick itu kelihatannya terletak pada panggilan dari diri sendiri untuk memperbaiki—diri kita secara individual—suatu pemahaman tentang sifat kita. Jika tidak, dogmatisme dan ideologi tak terhindari. Pandangan fundamental dari suatu tradisi bertujuan untuk mengetahui cara terbaik untuk berlaku di dunia dan hidup di luar sikap manusiawi kita, kita harus tahu apa yang ingin ditunjukkan oleh dunia kepada kita. Untuk mengetahui segala sesuatu hal, kita harus mengetahui sifat dan nasib kita. Dan untuk mengetahui sifat kita, maka kita harus mengetahui diri yang mengetahui.

Intinya adalah kadang hal tersebut sering terlupakan saat membicarakan mengenai siapa diri kita yaitu bahwa kita tidak tahu tentang diri yang mengetahui tersebut sebagai objek, namun hanya sebagai subjek. Kita tidak benar-benar memgetahui diri kita sendiri kecuali ketika si objek dan subjek tersebut tidak diketahui. Kesatuan antara sipenahu (knower) dan yang diketahui (known), diri dan dunia, manusia dan tuhan, adalah penglihatan tertinggi yaitu tawhid. Hanya tawhid-lah yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengetahui segala hal apa adanya/dengan sebenar-benarnya, untuk mengenali huquq-nya tuhan, manusia, dan segala sesuatu, dan untuk bertindak dalam merespons pada hak-hak Tuhan dan manusia.

Dengan mengajukan kritik terhadap dogmatisme dan ideologi, hal tersebut merupakan langkah awal yang penting jika kita hendak mengembalikan pemahaman manusia mengenai sifat manusia. Namun pemahaman yang jelas itu menuntut pengenalan bahwa diri manusia itu dihukum/terkungkung dalam sebuah intelejensi trans-historis dan tertinggi dalam kenyataan absolut/Tuhan. Selama para ilmuan dan para sarjana tetap mengabadikan fakta bahwa jika tidak bisa mengetahui kebenaran sesuatu dengan mengandalkan orang lain, maka ia tidak akan bisa lolos dari dogmatisme, yang didasarkan pada imitasi dan menjadi transmited information menuju sesuatu yang absolut. Sampai ia menyadari bahwa pengetahuan yang benar dan dapat diandalkan itu adalah kesadaran akan Tuhan (the first real), dan tidak ada jalan keluar dari konflik ideologis dunia yang lebih polaris.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. You have latter, very good


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: