Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan

August 11, 2008 at 6:44 am | Posted in Uncategorized | Leave a comment

Wawancara dengan Anies Baswedan:

Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan


Wahyuana

Jakarta – Usianya baru 39 tahun, namun pemikiran Anies Baswedan dianggap begitu berpengaruh, sehingga majalah Foreign Policy menempatkan rektor Universitas Paramadina ini dalam urutan ke 60 dari 100 intelektual top dunia.

Mengkritisi dominasi pendekatan kebudayaan terhadap konflik-konflik Muslim-Barat, ia meyakini bahwa konflik-konflik itu tak dipicu oleh identitas budaya, agama atau peradaban, melainkan oleh sebuah kalkulasi kepentingan. Ia menjelaskan konsep ini ketika diwawancarai oleh jurnalis dari Jakarta, Wahyuana.

Apakah yang Anda maksud dengan “kalkulasi kepentingan” dalam konflik Muslim — Barat?

Baswedan: Pilihan untuk menggunakan kekerasan itu bukan merupakan cermin dari faktor ideologi, agama atau kultural tapi merupakan cermin dari faktor kalkulasi strategis atau kalkulasi kepentingan. Sebuah kelompok memilih untuk menggunakan pendekatan kekerasan atau kedamaian bergantung pada kalkulasinya terhadap insentif dan disinsentif atas tiap-tiap pendekatan itu. Lawan dan metode perlawanan sering ditentukan oleh kalkulasi itu, daripada karena kalkuasi ideologi, agama dan kultural.

Marik kita lihat hubungan antara Amerika Serikat (AS)dan apa yang secara umum dikenal kita kenal sebagai mujahidin Afghanistan. Berbagai kelompok oposisi Afghanistan ini sebelumnya berada dalam barisan yang sama dengan AS saat berperang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan pada tahun 1980-an. Masa itu AS memandang mereka sebagai pejuang kemerdekaan atau pahlawan. Kini, sebagian dari kelompok-kelompok itu berperang melawan AS, kekuatan pendudukan baru, sehingga tanpa pandang bulu mereka dicap sebagai teroris.

Cara pandang masing-masing pihak terhadap tantangan, kepentingan, dan posisi masing-masing membuat mereka bersekutu atau bermusuhan.

Apakah itu berarti isu benturan peradaban omong kosong belaka ?

Baswedan: Saya kira terminologi itu terlalu dipaksakan. Sesungguhnya yang terjadi adalah polarisasi, dan itu selalu muncul sepanjang sejarah manusia, dalam berbagai bentuk. Ada polarisasi budaya, ideologi, ras, dan agama. Polarisasi merupakan bagian dari fitrah kehidupan.

Benturan peradaban Samuel P. Hutington itu terlalu dipaksakan, seakan-akan ada sebuah situasi konflik yang spesifik antara Muslim dan Barat. Tapi itu tak benar. Sepanjang sejarah, konflik-konflik yang dinyatakan sebagai benturan peradaban tak pernah menyangkut agama semata. Perang Salib contohnya, juga memiliki kepentingan politik dan tanah.

Bagaimana dengan motif-motif ideologis atau religius di balik konflik Muslim-Barat? Apakah Anda menafikan motif-motif itu?

Baswedan: Saya tidak menafikannya. Motif-motif ideologis atau agama itu tentu ada, hanya saja mereka berjalan di tingkat mikro, ada pada motif-motif individual. Agama atau ideologi hanya alat yang dibajak untuk merekrut, memotivasi, dan menciptakan solidaritas pada para pelaku yang merasakan hal itu sebagai semacam legitimasi. Konflik-konflik itu didengungkan sebagai bersifat ideologis atau religius untuk menginspirasi para pengikut, melegitimasi perang tersebut sebagai just war, menarik sekutu, dan sebagainya.

Itulah pentingnya kita menggunakan analisa strategis rasional, agar kita tahu potensi konflik kekerasan yang mungkin timbul, sehingga bisa segera menemukan cara pencegahannya. Jika kita hanya menggunakan pendekatan kultural (sebuah pendekatan yang melihat tindakan seseorang atau kelompok dipengaruhi oleh variabel-variabel psiko-religius-kultural), kita akan berputar-putar saja, tanpa tahu bagaimana cara menangani konflik tersebut.

Tetapi bukankah pembajakan ideologi, kebudayaan, atau agama untuk kepentingan-kepentingan strategis itu menunjukan bahwa mereka dapat menjadi senjata yang berbahaya?

Baswedan: Tepat sekali. Ideologi, kebudayaan, dan agama adalah senjata yang sangat ampuh dalam menciptakan solidaritas dan integritas yang tinggi, karena ketransendentalan dan kemesiahannya. ia dipergunakan untuk tujuan-tujuan di luar dirinya. Ketika tujuan di luar dirinya itu tercapai, ia bisa dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan strategis lainnya, yang ketika terjadi perubahan-perubahan geopolitik, bukan tak mungkin merubah sekutu menjadi musuh.

Bagaimanakah menurut Anda, masa depan hubungan Muslim-Barat?

Baswedan: Sekarang ini ada situasi yang menarik. Islam sedang tumbuh dan hadir di pusat-pusat peradaban yang menonjol, seperti di kota-kota utama Amerika atau Eropa. Sebagai minoritas, Muslim di sana harus mampu menunjukan kepribadian yang baik , menegosiasikan nilai-nilai Islam melalui bahasa peradaban tuan rumah, menjadi bagian dari kekayaan peradaban tersebut. Hal yang sama pun dialami oleh orang-orang Barat yang tinggal di negara-negara Muslim. Di tangan duta besar-duta besar inilah masa depan hubungan Muslim-Barat terletak, karena mereka memiliki posisi istimewa untuk menjadi bagian dari masyarakat Muslim maupun Barat.

###

* Wahyuana adalah jurnalis dari Jakarta dan pendiri Maluku Media Center (MMC), sebuah organisasi yang mempromosikan dan memfasilitasi resolusi konflik dan jurnalisme perdamaianan. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 8 Agustus 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: