Merayakan Keseluruhan: Menjajaki Padadigma Holistik dalam kehidupan Sosial

July 28, 2008 at 6:32 am | Posted in Artikel: Wawasan | Leave a comment

Merayakan Keseluruhan:

Menjajaki Paradigma Holistik dalam Kehidupan Sosial[1]

Hardiansyah Suteja[2]

Abstraksi

Pandangan-dunia modern adalah logika keterpilahan dan keterpisahan serta subjektivisme-antroposentrisme. Secara filosofis, peradaban modern disinari paradigma Cartesian-Newtonian[3]. Suatu pandangan dunia mekanistik-deterministik-reduksionistik-atomistik- instrumentalistik-linearistik, yang menempatkan manusia sebagai bagian (parsial), sebagai pusat sesuatu secara keseluruhan. Manusia modern adalah nonpartisipan dalam menjalani kehidupan. Manusia modern adalah manusia yang teralienasi dan manusia ter-reifikasi. Manusia modern adalah manusia yang tanpa dunia-organis. Peradaban modern mewariskan, salah satunya, persoalan dualitas.

Rene Descartes (1596-1650), Bapak Filsafat Modern, dianggap orang yang kali pertama sukses membangun sistem filsafat secara sistematis dalam keterpilahan antara jiwa dan tubuh atau res cogitans dan res extensa. Pandangan Descartes diikuti maupun dikukuhkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Dalam perkembangannya, pandangan dualisme bersifat linear-deterministik-reduksionistik-atomistik- instrumentalistik. Pandangan ini melihat segala sesuatu secara serba terpilah dan dikotomis. Realitas yang kompleks, kesalinghubungan dipandang hanya sebagai kumpulan balok atom. Layaknya puzzle realitas dicopot satu per satu, kemudian dari pengamatan terpilah tersebut digabungkan, dan kemudian dikuantifikasikan.

Pandangan tersebut sejatinya, selain gagal dalam menangkap realitas secara utuh atau holisitik, pandangan ini, yang kemudian dikenal dengan paradigma Cartesian-Newtonian[4], turut menyumbangkan krisis kompleks dan multidimesional. Seperti, krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, serta ancaman krisis lainnya. Tulisan berikut berusaha menyoal itu. Dari mana pandangan-dunia modern mengakar? Apa saja implikasi dari pandangan ini? Kenapa pandangan ini tidak mampu membingkai realitas secara utuh dan menjawab persoalan secara holistik? Kemudian, mengingat paradigma tersebut muncul kali pertama pada ranah sains, bagaimana implikasi paradigma holistik pada ranah sosial, baik itu mulai dari ilmu-ilmu sosial (social sciences/studies) hingga kehidupan harian atau sosial?

Katakunci: alienasi, reifikasi, dualisme, worldview (pandangan-dunia), keseluruhan, modern.

Pengertian Modern Dan Tradisional

Mengingat pengertian modern dan tradisional merupakan akar tunjang tulisan berikut, maka perlu mencarikan pengertian kedua hal tersebut untuk menjadikan dasar pembahasan.

Modern dan tradisional, tidak seperti yang selama ini diperkirakan, bukanlah suatu gambaran mengenai waktu atau zaman, melainkan suatu pandangan-dunia.

Sedangkan untuk memberikan gambaran mengenai waktu atau zaman, yaitu klasik atau kontemporer. Itu pun kalau kita menerima begitu saja pengertian klasik dan kontemporer seperti yang dibatasi pengertian sekarang.

Bagaimanapun juga, untuk mengatakan bahwa hal tersebut sudah usang, kuna, ketinggalan zaman, tidak sesederhana yang diasumsikan selama ini. Ia menggunakan batasan-batasan atau standarisasi yang ditetapkan terlebih dahulu untuk menurunkan suatu kesimpulan mengenainya. Dan hal tersebut merupakan persoalan konsensus, yang mana boleh jadi tidak bisa diterima secara puas dan tuntas. Betapapun, tulisan ini tak mempunyai kepentingan akan bagaimana kita menentukan batasan mengenai suatu hal bisa disebut sebagai klasik atau kontemporer. Tulisan ini mempunyai kepentingan dalam persoalan bahwa tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa modern dan tradisional merupakan gambaran mengenai suatu zaman atau waktu, melainkan suatu pandangan-dunia atau paradigma. Untuk kemudahan, kalau pun kita tetap terpaksa menggunakan kata-kata tersebut dalam menggambarkan suatu zaman atau kondisi waktu, maka haruslah diberikan imbuhan akhiran “as”: “modernitas” dan “tradisionalitas”, untuk membedakan antara gambaran mengenai suatu zaman dan pandangan-dunia.

Peradaban Modern

“Peradaban modern yang dibangun sejak abad ke-17 M tidak mungkin dapat dipahami tanpa mengenal paradigma Cartesian-Newtonian. Karakter peradaban modern dicirkan dengan meluas dan mendalamnya pengaruh paradigma Cartesian-Newtonian terhadap cara-pandang, pola pikir, visi, dan sistem nilai manusia modern pada umumnya …. hegemoni paradigma Cartesian-Newtonian terhadap pandangan-dunia manusia modern terkait erat dengan kenyataan sejarah bahwa peradaban modern memang dibangun atas dasar ontologi, kosmologi, epistemologi, dan metodologi yang dicanangkan oleh dua tokoh utama penggerak modernisme, yaitu Rene Descartes dan Isaac Newton (Heriyanto, 2003: 25-26).”

Modernisme adalah suatu pandangan dunia yang secara historis dibangun pada fondasi filsafat Cartesian-Newtonian. Sebagai filsafat, tentu saja fondasi tersebut mengandung asumsi ontologis, epistemologis dan aksiologis khas. Yang dari ketiga basis filosofis tersebut, ditentukanlah konsep mengenai kosmologi, moralitas, etika, kehidupan sosial, ekonomi, keberagamaan, politik, kultural, realitas sosial, psikologis, dll.

Ontologi

Pada tataran ontologis, ontologis modern ialah dualistik. Suatu cara pandang mengenai realitas secara terpilah dan terpisah. Tentu saja, persoalan dualistik pada tataran ontologi merupakan hal yang tua dalam sejarah manusia itu sendiri. Sejauh yang tercatat pada bukti material, hal tersebut dimulai oleh Plato (427-347 SM), yang mengajukan pendapat bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan semu, tidak riil, sekadar bayangan dari “dunia-atas”. Yang riil ialah yang berada pada alam ide. Hal ini kelak disebut sebagai “Alam Ide Plato”. Kendati demikian, hal tersebut mendapatkan titik kulminatifnya pada sistem filsafat yang dibangun oleh Rene Descartes. Dan, tentu saja bukan tanpa sebab jika Descartes disebut sebagai Bapak Filsafat Modern oleh para pakar sejarah filsafat.

Ontologi Cartesian

Memahami pandangan-dunia modern akan gagal jika melepaskan dari pemikiran Descartes dan, pada kelanjutannya, Isaac Newton. Descartes, dikenal dengan kesangsian-metodisnya. Di mana ia meragukan segala hal realitas yang datang kepadanya, baik itu bersifat eksternal (alam, misalnya) maupun internal (tubuhnya, misalnya). Selain itu, ia juga berpendapat untuk perlunya menolak suatu hal yang datang dari tradisi dan otoritas dengan menempatkan rasio subjek sebagai pijakan. Baginya, selain bahwa tradisi tidak mampu membawa dirinya kepada keyakinan, tradisi juga malah menjebak kita pada kesalahan.

“I learned to entertain too decided a belief in regard to nothing of the truth of which I had been persuaded merely by example and custom; and thus I gradually extricated myself from many errors powerful enough to darken our natural intelligence, and incapacitate us in great measure from listening to reason (Descartes, 1635).”

Dari pemaparan dan penjelasannya dalam Discourse on the Method, kita bisa mengerti dengan baik mengapa pada akhirnya Descartes sangat menekankan fungsi aktivitas rasio subjek. Yang juga kelak pada akhirnya, dengan rasio-subjek tersebutlah ia membangun prinsip filsafat pertamanya: Cogito ergo sum.

“….seeing that our senses sometimes deceive us, I was willing to suppose that there existed nothing really such as they presented to us; and because some men err[or] in reasoning, and fall into paralogisms, even on the simplest matters of geometry, I, convinced that I was as open to error as any other, rejected as false all the reasonings I had hitherto taken for demonstrations; and finally, when I considered that the very same thoughts (presentations) which we experience when awake may also be experienced when we are asleep, while there is at that time not one of them true, I supposed that all the objects (presentations) that had ever entered into my mind when awake, had in them no more truth than the illusions of my dreams. But immediately upon this I observed that, whilst I thus wished to think that all was false, it was absolutely necessary that I, who thus thought, should be somewhat; and as I observed that this truth, I think, therefore I am (cogito ergo sum), was so certain and of such evidence that no ground of doubt, however extravagant, could be alleged by the sceptics capable of shaking it, I concluded that I might, without scruple, accept it as the first principle of the philosophy of which I was in search (Descartes, ibid).

Filsafat Descartes ialah penekanan pada aktivitas rasio-subjek dan keterdahuluan eksistensi cogito tersebut terhadap realitas eksternal. Setelah memaparkan dan menjelaskan perihal kemendasarannya terhadap rasio (lihat Discourse on the Method [1635] dan Meditations on First Philosophy [1639]), Descartes sampai pada kesimpulan bahwa res cogitan dan res extensa merupakan dua hal yang sama sekali terpisah. Tidak hanya terpisah, bahkan ia mengatakan bahwa jiwa secara keseluruhan independen dari tubuh. Keterpilahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari dalil filsafat pertamanya yang fenomenal itu: cogito ergo sum. Baginya, dalil tersebut merupakan pernyataan yang jelas (clearly) dan terpilah (distincly). Setiap hal yang jelas dan terpilah merupakan kebenaran, demikian Descartes.

“And as I observed that in the words I think, therefore I am, there is nothing at all which gives me assurance of their truth beyond this, that I see very clearly that in order to think it is necessary to exist, I concluded that I might take, as a general rule, the principle, that all the things which we very clearly and distinctly conceive are true….(Descartes, ibid).”

Pada sisi lain, paham dualisme ini menimbulkan pola penalaran yang serba dikotomis atau logika biner. Akibatnya, tidak hanya para saintis dan filosof saja, melainkan masyarakat kebanyakan akan sulit untuk memahami sesuatu jika lepas dari pola penalaran seperti ini. Sebagai misal, dalam gerakan sosial, selalu saja terjebak pada bipolarisasi antara kaum Kiri dan Kanan. Pada akhirnya, kedua polarisasi tersebut tidak mampu membebaskan manusia dari dominasi kekuasaan modernitas, melainkan malah teralienasi dan tereifikasi satu sama lain.

Kunci untuk memahami bangunan filsafat Descartes terletak pada upaya keraguannya terhadap segala sesuatu. Keraguan Descartes bukanlah keraguan ala kaum skeptis, yang menolak pengetahuan mutlak yang bisa direngkuh oleh manusia. Keraguan Descartes, malah justru sebaliknya, keraguan untuk mendapatkan pemahaman yang meyakinkan tak tergoyahkan. Dari keraguan metodis tersebut, ia menurunkan metodologinya yang dikenal sebagai “empat metode universal”, yakni:

The first was never to accept anything for true which I did not clearly know to be such; that is to say, carefully to avoid precipitancy and prejudice, and to comprise nothing more in my judgement than what was presented to my mind so clearly and distinctly as to exclude all ground of doubt. The second, to divide each of the difficulties under examination into as many parts as possible, and as might be necessary for its adequate solution. The third, to conduct my thoughts in such order that, by commencing with objects the simplest and easiest to know, I might ascend by little and little, and, as it were, step by step, to the knowledge of the more complex; assigning in thought a certain order even to those objects which in their own nature do not stand in a relation of antecedence and sequence. And the last, in every case to make enumerations so complete, and reviews so general, that I might be assured that nothing was omitted (Descartes, 1635).”

Tahap pertama itu disebut prinsip intuisi kritis, tahap kedua ialah prinsip analisis, tahap ketiga ialah prinsip sintesis, dan tahap keempat ialah prinsip enumerasi (Heriyanto, 2003: 33-34). Selain itu, ia mengasumsikan bahwa alam secara intrinsik bersifat matematis (mathematization of nature). Dalam asumsi model ini, konsekuensi logisnya, alam dilihat secara mekanis. Artinya, segala sesuatu dalam alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan dari bagian-bagiannya.

Ontologi Newtonian

Isaac Newton dikenal sebagai Bapak Fisika Modern awal. Pandangan fisikanya diperlakukan sebagai seluruh pijakan bangunan ilmu pengetahuan ilmiah modern. Karenanya, mengkaji fisika Newtonian dalam memahami peradaban modern tidak bisa diabaikan begitu saja. Membicarakan Newton, artinya kita membicarakan sintesis ilmiah yang dilakukannya dari berbagai sumber pandangan sains sebelumnya. Newton berhasil menyintesiskan berbagai pandangan sains pendahulunya dengan apik dan sistematis, sehingga bangunan fisikanya menjadi utuh. Menurut hasil kajian Sayyed Hossein Nasr, sintesis tersebut ialah,

“….such as Descartes “Universal Science”, “the rules and methods outlined by Francis Bacon, the cosmology and physics of Galileo, William Gilbert’s theory af attraction between bodies, Kepler’s idea of force and innertia and atomism with its roots in neo-Epicurian philosophy (Nasr, 1996: 140).”

Newton, dengan melakukan sintesis dari berbagai sumber tersebut, mengkomplitkan penciptaan sains-baru (new science) yang menandai era baru sains: sains modern. Newton, seperti yang disebutkan oleh Husain Heriyanto, menggabungkan mimpi visioner rasionalisme Descartes dan visi empirisme Bacon, agar dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata, melalui peletakan dasar-dasar mekanika. Ia memadukan Copernicus, Kepler, dan Galileo di bawah asumsi kosmologis Descartesian yang mekanistik, atomistik, deterministik, linear, dan serba kuantitatif, dan pada saat yang sama, ia menerapkan metode eksperimental-induktif Baconian (Heriyanto, 2003: 40).

Kosmologi Modern

Ketika dunia modern menganggap bahwa secara ontologis terdapat pemisahan antara kesadaran dengan materi, maka alam dianggap sebagai takberkesadaran dan tanmakna. Dengan demikian, kosmologi modern ialah kosmologi yang kering. Ia juga menafikan jejak kreatif Tuhan (vestigia dei, ayat-ayat Allah, signs of God) pada alam semesta. Padahal jejak Tuhan pada alam semesta merupakan prinsip dasar pengetahuan tradisional secara umum, dan prinsip religiusitas, secara khusus.

Konsekuensinya, alam semesta dianggap sebagai benda mati, objek belaka, tidak lebih. Dengan demikian, kosmologi modern memutuskan interkoneksitas jejaring kehidupan antara manusia dengan alam dan dengan hal-hal transendental. Pada akhirnya, tidak mengherankan jika kosmologi modern mengandung asumsi aksiologis untuk menguasai segala sesuatu. Alam dipahami bukan untuk mencari jejak kreatif dan makna kehidupan, melainkan untuk dikuasai sedemikian rupa. Sehingga, seorang Francis Bacon mengatakan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan itu untuk menguasai (knowledge is power).

Fenomena pemanasan global (global warming), dan krisis ekologis secara umum, merupakan implikasi logis atas sikap manusia terhadap alam atau kosmologinya. Sampai sini bisa kita katakan, bahwa krisis ekologis yang sangat fenomenal itu merupakan kesalahan persepsi dalam kosmologi, dalam hal ini kosmologi modern.

Epistemologi Modern

Akibat asumsi dari keterpilahan dan keterpisahan atas kesadaran dan materi, maka dalam pandangan epsitemologi modern terdapat keterpilahan dan keterpisahan juga antara subjek dengan objek. Epistemologi modern menganggap bahwa objek dengan begitu saja dapat hadir di hadapan subjek, tanpa samasekali terkait dengan subjek. Nilai objek bebas konstruksi dari subjek. Hal ini yang kemudian membuat kalangan ilmuwan modern menganggap bahwa ilmu pengetahuan bebas nilai.

Epistemologi modern inilah yang membuat manusia dengan leluasa menyangkal akibat buruk yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan pada berbagai dimensi. Sebut saja krisis ekologis, dominasi destruktif pada berbagai sektor: kemiskinan, dehumanisasi, dekadensi moral, alienasi dan reifikasi pada kehidupan sosial, dll. Dalam pandangan-dunia modern, krisis-krisis yang terjadi tidak bisa disalahkan pada manusia modern. Sebab hal tersebut bebas dari campur tangan manusia. Manusia dan alam sama sekali terpisah.

Keterpilahan dan keterpisahan antara subjek dengan objek yang sejak awal digaungkan dalam ranah filsafat dan sains, ironisnya malah menginfiltrasi ranah sosial. Hal ini kelak disebut sebagai fisika sosial. Pada titik puncaknya fisika sosial itu terjelmakan pada positivisme. Dalam positivisme, kehidupan yang tidak hanya mengandung dimensi fisik, melainkan dimensi nonfisik, katakanlah nilai-nilai kehidupan dan maknanya, dihilangkan sedemikian rupa. Alasannya ialah, selama hal tersebut tidak bisa dikuantifikasi dan diobservasi, maka tidaklah bisa diketahui dan dipahami. Nyatalah bahwa kehidupan telah direduksi menjadi sebagai fakta-fakta sosial yang tak berkesadaran dan tanmakna serta bebas nilai.

Sebelumnya ilmu pengetahuan ditujukan untuk menguasai alam, kini malah untuk menguasai manusia atau mendominasi manusia. Kita bisa lihat dengan mudah bahwa siapa yang mempunyai “kekuatan (ilmu pengetahuan)” maka ia bisa mendominasi yang tak-berkekuatan (tak berilmu pengetahuan). Hal ini merupakan akibat dari pemisahan antara subjek dan objek, yang pada akhirnya juga membuat dikotomisasi seperti, “aku”-“yang lain”, yang kuat-yang lemah, negara Dunia Pertama – negara Dunia Ketiga, bos-buruh, dll.

Epistemologi modern tidak hanya menciptakan bentuk hierarkis antara manusia dengan alam, melainkan antara manusia dengan manusia. Hierarkis yang dibangun dari suatu nilai dominasi yang dimiliki seseorang (subjek) terhadap “yang lain” (objek). Pada sisi lain, keterpilahan dan keterpisahan subjek dan objek mengandaikan kemandekan suatu hal. Objek dianggap sudah jadi apa adanya, menafikan kedinamisan suatu hal.

Aksiologi Modern

Nilai-nilai (aksiologis) modern ialah suatu nilai yang disandarkan pada pandangan-dunia modern. Jika dalam pandangan-dunia modern bahwa semakin mampu manusia menguasai alam, itu disebut sebagai kemajuan, maka nilai aksiologinya ialah “menguasai alam merupakan hal yang baik”. Jika nilai kehidupan manusia yang baik itu dipandang dari upaya kepemilikan, maka aksiologinya ialah ukuran kebaikan hidup diukur dari seberapa banyak kepemilikannya, kuantitas.

Sebagai contoh, kapitalisme tidak bisa dipungkiri turut menciptakan dominasi yang mengakibatkan segala kerusakan dan ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan. Dalam logika kapitalisme yang ada ialah akumulasi kapital. Jika dalam mengakumulasikan kapital tersebut harus mengorbankan kehidupan seseorang atau kerusakan alam, itu tidak jadi soal. Sebab nilai yang ada ialah akumulasi kapital. Perusahaan Mc Donald, dalam mengakumulasikan kapitalnya, telah menyebabkan hilangnya ribuan, bahkan jutaan, hektar hutan hujan pada negara Dunia Ketiga. Ia menyebabkan kebanjiran, gempa bumi, dan meningkatnya efek gas rumah kaca. Dan, pada sisi lain, semakin tergusurnya wilayah pemukiman penduduk sekitar. Setiap harinya Mc Donald menghabiskan banyak hutan hujan untuk membuka ladang peternakan, memenuhi konsumsi hewan ternak, bahan pembungkus makanan, dll. Walaupun kegiatan tersebut menimbulkan dampak yang sangat signifikan bagi kehidupan, tetap saja Mc Donald dianggap sebagai ikon waralaba hebat serta restoran keluarga yang friendly.

Kapitalisme merupakan anak pandangan-dunia modern. Ini terlihat dari pola relasi sosial yang dibangun oleh kapitalisme ialah “aku”-“yang lain”, serta penekanannya pada akumulasi kapital (kepemilikan). Secara ontologis kapitalisme bersifat atomistik, yaitu melihat individu sebagai atom masyarakat-ekonomi. Seperti pandangan-dunia modern yang menghegemoni masyarakat kebanyakan hingga zaman sekarang, kapitalisme juga menjadi nilai rujukan kehidupan sosial, yakni pola relasi sosial untung-rugi. Maka yang terjadi ialah sikap individualistik dalam kehidupan sosial. Deritamu adalah deritamu, bukan deritaku. Segala hal yang tidak memberikan keuntungan kapital pada “diriku”, maka tidak layak untuk dijalani. Pada akhirnya, hilang semangat kolektivitas-swakelola dalam masyarakat serta tegur sapa manusiawi.

Pandangan-Dunia Modern di tengah Perkembangan Mutakhir Sains

Asumsi-asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis dan kosmologis modern, selama beberapa dasawarsa ini telah mengalami keguncangan hebat. Dasar-dasarnya telah goyah, bahkan runtuh, oleh perkembangan sains itu sendiri. Ontologi modern dalam perkembangan sains mutakhir mendapatkan kritikan keras, bahwa persoalan dualistik menimbulkan problem-problem yang tidak bisa terjawab. Dalam perkembangannya, dualisme-ontologis selalu jatuh pada titik ekstrem. Yang satu menafikan kesadaran, hingga berkembanglah asumsi filsafat materialisme dalam memahami dunia. Sedangkan yang lain, jatuh pada penafian materialitas, sehingga hanya terpaku pada kesadaran, yakni idealisme dan spritualisme. Padahal sejatinya, kedua hal tersebut sama-sama eksis. Sama-sama saling mempunyai efek.

Pada epistemologi modern, yang melihat subjek dan objek sebagai keterpisahan, kini dipatahkan. “Prinsip ketidakpastian” Werner Heisenberg cukup untuk mematahkan hal tersebut. Dalam pandangan Heisenberg, materi apakah ia berperilaku sebagai partikel atau gelombang, hal itu tergantung pada sang pengamat (subjek). Dengan demikian, objek tidak bisa dilepaskan dari subjek. Subjek ikut menentukan realitas. Subjek adalah partisipan, bukan sekedar pengamat (nonpartisipan).

Pun dalam kosmologi modern, yang menganggap kosmos sebagai takberkesadaran dan tan-makna serta non-organis, dalam perkembangan fisika-baru, seperti fisika bootstrap, membuktikan bahwa kosmos merupakan hal yang tidak mati, melainkan hidup. Kosmos adalah jaringan organis, berkesadaran dan bermakna.

Begitu juga dengan aksiologi modern yang bersifat linear semakin menampakan kebermasalahannya. Kemiskinan, kriminalitas, penyakit-penyakit baru, krisis ekologis, dekadensi moral, dehumanisasi, adalah rangkaian problem yang merupakan gejala global. Ia ada di mana-mana, baik itu pada negara Dunia Pertama dan Ketiga. Padahalnya, seharusnya dalam logika linear, permasalahan tersebut tidak akan terjadi ketika ilmu pengetahuan semakin berkembang sedemikian rupa.

Karakter Kehidupan Modern

Peradaban modern ialah peradaban yang kehilangan makna dan keterpesonaan akan hidup. Kehidupan modern dijalankan dengan cara teralienasi dan tereifikasi antar manusia satu sama lain serta realitas eksternal di luar dirinya. Manusia modern dalam menjalankan kehidupannya, dicirikan dengan hilangnya kesadaran akan kesalinghubungan dan kesalingtergantungannya satu sama lain, baik itu dengan manusia maupun alam. Semuanya terpisah satu sama lain: pengamat dan yang diamati. Tidak ada apa-apa di luar hal tersebut. Semuanya adalah objek. Masyarakat modern ialah “masyarakat objek”.

Morris Berman menggambarkan bahwa lansekap modern ialah,

“The story of modern epoch …. can be described as disenchantment, nonparticipation, for it insists on a rigid distinction between observer and observed. Scientific consciousness is alienated consciousness; there is no ecstatic merger with nature, but rather total separation from it. Subject and object are always seen in opposition to each other. I am not my experiences, and thus not really a part of the world around me. The logical end point of this world view is a feeling of total reification: everything is an object, alien, not-me; and I am ultimately an object too, an alienated “thing” in a world of other, equally meaningless things. This world is not of my own making; the cosmos cares nothing for me, and I do not really feel a sense of belonging to it. What I feel, in fact, is a sickness in the soul (Berman, 1984: 2-3).”

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa manusia modern ialah manusia alienasi dan reifikasi. Gejala tersebut terjadi akibat dari cara-pandang yang dualistik-atomistik-mekanistik-materialistik: subjek-objek, fakta-nilai, manusia-alam, manusia-Tuhan, “aku”-”yang lain”, borjuis-proletar, sakral-profan, suci-sekular, Timur-Barat, maju-terbelakang, pria-wanita.

Alienasi adalah keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap segala hal atau sesuatu; sesama manusia, alam, lingkungan, Tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri. Alienasi juga suatu tanda kepasifan. Hal ini terkait dengan gejala reifikasi atau pembendaan (obyektifikasi). Reifikasi adalah keadaan mental manusia modern menghayati dirinya sendiri sebagai benda, objek. Segala sesuatu pada akhirnya dilihat sebagai benda. Dunia reifikasi adalah dunia keterasingan. Dunia keterasingan ialah dunia pasif.

Gejala akut alienasi dan reifikasi serta sikap pasif dalam kehidupan manusia modern, menyebabkan kehidupan sosial menjadi termediasi. Terpaku pada representasi atau citra, tidak pada realitas itu sendiri. Gejala seperti apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai spectacle. Masyarakat modern ialah “masyarakat tontonan” (society of the spectacle).

Praktik-praktik, untuk tidak menyebut semua, konsumerisme, kecemasan mendalam, hedonisme pada kehidupan manusia modern sejatinya merupakan pelarian dari bentuk-bentuk alienasi dan reifikasi serta kepasifan hidup. Orang akan menemukan eksistensi dirinya ketika berbelanja, sebab ia sedang mengobyektisasikan dan memediasikan dirinya terhadap citra-citra yang ditawarkan oleh iklan. Karenanya bisa dimengerti ketika seseorang tidak berbelanja—dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang tidak dibutuhkannya secara mendasar—ia merasa terasing dalam hidup, terasing terhadap di luar dirinya, bahkan terasing terhadap dirinya. Relasi sosial manusia modern dimediasikan oleh citra-citra. Manusia modern ialah manusia spectacle. Seperti yang dikatakan oleh Debord, “the spectacle is not a collection of images, but a social relation among people, mediated by images (Debord, 1967)..

Alienasi dan reifikasi tidak hanya melulu berkutat pada persoalan tersebut. Persoalan gender, gerakan pembebasan, semangat sains, keberagamaan, kehidupan bersosial, bekerja, peradaban, dan hal oposisi biner lainnya, sesungguhnya, secara filosofis setidaknya, merupakan implikasi dari gejala alienasi dan reifikasi. Pembendaan atau menjadikan segala sesuatu sebagai objek dalam tataran gender mengakibatkan pria memandang wanita sebagai hal yang berbeda terhadap gendernya, sebaliknya. Pria diasumsikan harus begitu, sedang wanita diasumsikan harus begini. Hal ini dikarenakan pandangan dualistik. Pria melihat wanita sebagai objek, dan pada saat yang sama pria pun memandang dirinya sebagai objek. Begitu juga dengan wanita, melihat pria sebagai objek, di saat yang sama ia melihat dirinya sebagai objek. Inilah yang mengakibatkan bias gender. Pandangan ini erat kaitannya dengan gejala alienasi dan reifikasi.

Begitu juga dengan soal Kiri dengan Kanan, Tuhan dengan manusia, nilai dengan fakta, dan sebagainya. Ketika manusia melihat sesuatu di luar dirinya sebagai objek melulu, tanpa ada keterkaitan sebagai pengalaman hidupnya, problem alienasi dan reifikasi tidak akan terselesaikan. Dan sulit untuk menjawab persoalan-persoalan yang yang muncul, katakanlah problem ekologis, kekerasan, dehumanisasi, kemiskinan, kriminalitas, individualistik, dll. Persoalan ini bukanlah tanpa sebab atau jatuh begitu saja dari langit. Persoalan-persoalan atau krisis-krisis tersebut terkait erat dengan pandangan-dunia yang mendominasi kehidupan manusia modern, yaitu dualistik. Manusia modern tidak mampu memahami realitas secara integral atau holistik melainkan dengan keterpilahan dan keterpisahan.

Krisis ekologis, untuk tidak membahas satu per satu, merupakan cara pandang manusia melihat alam atau lingkungan sebagai objek belaka, yang tidak terkait erat dengan pengalaman hidupnya. Alam diperlakukan sebagai entitas tidak bernyawa dan bermakna serta berkesadaran. Alam telah diputus dari jaringan kehidupan, yang dimana manusia terlibat di dalamnya. Alam dieksploitasi tanpa memedulikan dampaknya terhadap kehidupan. Sebab manusia, sebagai pengamat, melihat alam tidak terkait dengan jaringan kehidupan. Alam dilihat dengan cara rasio-instrumentalistik, yang menitikberatkan keuntungan atau kuantitas melulu. Sejatinya teknologi(sme) yang dikembangkan berdasarkan praasumsi demikian. Seperti kasus Bencana  lumpur panas Lapindo, disebabkan cara pandang tersebut.

Begitu juga dengan persoalan perdebatan klasik antara teori dengan praktik. Selama cara pandang melihat persoalan tersebut bersifat dualistik, sama sekali tidak akan pernah mencapai titik temu. Kalangan teoritis yang melihat ranah praktis adalah hal lain, sebaliknya kalangan praktisi melihat ranah teoritis sebagai hal lain. Sesungguhnya ini implikasi dari pandangan dualistik yang melihat segala sesuatu terpisah sama sekali, dan pada akhirnya sebagai objek melulu. Kulminasinya berujung bahwa segala sesuatu adalah objek, pengalaman yang dilihatnya dipandang tidak terkait dengan pengalaman dirinya, hingga dirinya pun dipandang sebagai objek: alienasi dan reifikasi.

Membangun Paradigma-Holistik

Seperti yang sudah disebutkan bahwa persoalan yang terjadi pada kehidupan kekinian, diakibatkan oleh pandangan-dunia yang dominan sekarang ini, yaitu pandangan-dunia Cartesian-Newtonian. Mau tidak mau kita harus membangun paradigma baru dalam memahami dunia secara keseluruhan. Sebuah pandangan-dunia yang melihat sesuatu dengan cara-pandang penuh totalitas, organis, ekologis dan holistik serta integral (selanjutnya disebut paradigma holistik saja).

Selama ini, paradigma yang berusaha untuk mencapai hal tersebut, sebagian besar berpusat pada ranah sains (Natural Sciences), tidak atau belum pada ranah sosial (Human Sciences). Tentu saja hal tersebut merupakan langkah yang perlu diapresiasi dengan baik. Hanya saja, karena faktor kemendesakannya dan akibat tragis bencana kemanusiaan yang ditimbulkan paradigma modernisme, maka kita perlu juga untuk membangun pandangan utuh (paradigma holistik-integratif) tersebut pada ranah sosial. Dengan demikian, bagaimana mengapresiasi paradigma holistik tersebut, yang selama ini terpaku pada ranah sains, pada ranah sosial.

Alienasi, reifikasi, krisis multidimensional, dll., merupakan hal pelik yang perlu dicari jawabannya. Kendati demikian, ketika pandangan manusia kekinian masih bersifat dualistik-mekanistik-deterministik-linear (ciri khas pandangan-dunia modern), persoalan tersebut tidak akan terjawab. Pandangan tersebut sudah tidak memadai untuk memahami realitas atau kehidupan, malah turut menciptakan krisis multidimensional; ia juga turut memiskinkan keanekaragaman kehidupan, sebab bersifat linear. Oleh karenanya, merupakan hal mendesak untuk membangun pandangan-dunia baru dalam melihat realitas atau kehidupan. Sebuah pandangan-dunia bersifat integral maupun holistik. Pandangan-dunia yang melihat entitas-entitas kehidupan sebagai nexus atau jaringan kehidupan, bukan sebagai balok bangunan yang bisa dicopot begitu saja. Pandangan-dunia yang melihat keanekaragaman kehidupan sebagai relasi, proses, dan saling memengaruhi satu sama lain. Pandangan-dunia yang melihat entitas segala sesuatu tanpa pembedaan (secara ontologis), namun pada saat yang sama entitas-entitas kehidupan tidak bersifat identik (gradasi wujud).

Sebagai misal, pandangan-dunia holistik tidak melihat manusia dan lingkungannya sebagai entitas terpisah yang tidak memengaruhi satu sama lain. Manusia melihat lingkungannya tidak sebatas  objek yang terpisah sama sekali terhadap dirinya, melainkan entitas  yang saling memengaruhi satu sama lain serta menganggap sebagai pengalaman yang terkait dengan hidupnya. Dengan demikian lingkungan dilihat sebagai entitas bermakna, berkehidupan dan berkesadaran. Begitu juga dalam ranah sosial. Manusia tidak melihat sesamanya sebagai objek dan melihat pengalaman sesamanya sebagai pengalaman yang berkaitan dengannya, serta saling memengaruhi satu sama lain, dengan kata lain tidak terpisah sama sekali. Sehingga kecurigaan terhadap sesama, perbedaan gender, kekerasan, kemiskinan, dan hal krisis lainnya yang diakibatkan oleh peradaban modern bisa dicarikan jawabannya secara utuh.

Kecurigaan terhadap sesama diakibatkan seseorang melihat orang lain sebagai objek atau “yang lain” (the other). Ketika seseorang melihat orang lain sebagai yang lain, itu berarti pada saat yang sama ia melihat dirinya sebagai objek; “aku”-”yang lain.”

Begitu juga dengan persoalan gender, pria melihat wanita melulu sebagai objek atau perasaan asing terhadap hal yang berbeda dengannya, pun sama halnya dengan wanita. Kasus lain, kemiskinan sampai saat ini masih belum memberikan tanda akan teratasi. Hal ini disebabkan pengalaman manusia, dalam hal ini kemiskinan, satu sama lain tidak dilihat sebagai pengalaman yang terkait dengan dirinya, melainkan pengalaman di luar dirinya yang terpisah sama sekali.

Para pemodal yang melakukan kegiatan pasar tanpa memperdulikan pengalaman manusia selain dirinya sebagai pengalamannya, akan menyebabkan tidak peduli akan dampak yang diakibatkan oleh kegiatan pasarnya.  Sebab dampak tersebut dianggap bukan sebagai pengalaman dirinya, melainkan orang lain. Itu juga kenapa dalam logika kapitalisme tanggung jawab biaya sosial tidak diperhatikan, malah tidak ada, yang ada hanyalah akumulasi kapital. Selain itu tercipta kesadaran—implikasi sikap melihat pengalaman orang lain tidak terkait dengan pengalaman dirinya—bahwa kemiskinan merupakan pengalaman individu. Ini yang menyebabkan adanya pemahaman bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan atau takdir. Dengan kata lain kemiskinan tidak sama sekali dilihat sebagai proses atau ada yang menyebabkan. Sikap diam dalam melihat kemiskinan turut menciptakan, atau setidaknya mempertahankan, kemiskinan. Sikap-sikap seperti ini bisa dilacak sumber permasalahannya, yaitu pandangan-dunia.

Dalam ranah politik, kita bisa melihat akan adanya keterpilahan serta keterpisahan, yang juga persoalan dikotomisasi lagi, antara politisi-nonpolitisi, negara-rakyat. Demokrasi yang dikembangkan sekarang ialah demokrasi representasional. Model demokrasi ini sangat besar kemungkinannya dalam mengalienasikan rakyat dan wakil rakyat. Pada sisi lain, perwakilan aspirasi rakyat, malah menjadikan semakin termediasinya rakyat dengan wakilnya. Hampir bisa dipastikan bahwa rakyat tidak mengenal dengan baik wakilnya, selain hanya mengenal citra-citra wakilnya. Sebagai sebuah citra, tentu saja hal itu bukanlah realitas, melainkan representasi dari realitas; yang mana hal tersebut bisa saja mendekati realitas atau tidak sama sekali. Kita bisa lihat, bahwa dalam kehidupan politik kontemporer, rakyat menjadi spectaclist.

Karena kehidupan politik harian rakyat terpisah, maka kita bisa menemukan dengan mudah alienasi yang terjadi. Negara, di mana rakyat masuk di dalamnya, kini malah teralienasi. Negara adalah segala yang bukan rakyat. Lihat saja, segala kebijakan negara yang selalu berdiri atas nama rakyat, akan tetapi masalahnya, rakyat yang mana, ketika kebijakan tersebut hampir ditentang oleh mayoritas rakyat, namun tetap saja kebijakan tersebut bergulir di tengah kehidupan rakyat. Sebut saja masalah kenaikan sembilan bahan pokok, dan BBM, untuk tidak menyebut semua. Pun serupa dengan pejabat pemerintahan, yang teralienasi dari rakyatnya. Di tengah kemiskinan yang semakin menggurita, bahkan banyak rakyat kelaparan, para wakil rakyat dengan seenaknya malah membuat anggaran untuk pengadaan lap top, renovasi gedung, kenaikan gaji, studi toour ke manca negara, dll. Pada akhirnya, negara modern adalah sistem relasi sosial yang memediasi (baca menghijabi/membentengi) antara rakyat dan yang bukan rakyat (pejabat negara). Pejabat negara (subjek), dengan mediasinya, yakni negara, berhak mendominasi rakyatnya (objek).

Problem-problem tersebut erat kaitannya dengan persoalan ontologis dan epistemologis. Karenanya, pembenahan terhadap ranah epistemologis dan ontologis merupakan hal mendesak. Bagaimana melihat entitas di luar diri manusia? Bila entitas kehidupan yang ada tidak saling berkaitan, mengapa ketimpangan lingkungan dapat memengaruhi kehidupan manusia? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan manusia turut memengaruhi kehidupan lingkungan? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan sosial turut memengaruhi kehidupan personal? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan personal turut memengaruhi kehidupan sosial? Singkatnya, kita harus membangun paradigma baru dalam berbagai ranah, seperti sosial, politik, ekonomi, kultural, gerakan sosial, moral, dll.

Pandangan-dunia dualistik-mekanistik tidak mampu menjawab persoalan tersebut secara memadai. Terlebih ketika diajukan pertanyaan: ketika entitas tersebut saling mempengaruhi apakah berarti secara ontologis entitas tersebut independen atau interdependensi? Apakah entitas tersebut identik satu sama lain? Ketika identitas entitas tersebut identik, bagaimana menjelaskan proses jaringan antar-kehidupan?

Mau tidak mau, diperlukan membangun pandangan-dunia bersifat integral dan holistik untuk menjawabnya. Selain itu pandangan-dunia holistik juga dapat menjawab persoalan dualistisme, yang merupakan akar-utama dari alienasi dan reifikasi serta krisis multidimensional. Pandangan-dunia tersebut juga mampu melihat keanekaragaman, sebab tidak bersifat linear dan reduksionistik. Sebagai contoh, dalam ranah sosial-politik-ekologi, kita bisa membangun cara-pandang yang sama sekali baru yang berbeda dari pola Cartesian-Newtonian. Seperti politik ekologi sosial, misalnya. Dalam ekologi sosial, ia didasarkan pada gagasan bahwa relasi antarmakhluk hidup, membentuk dan menentukan relasi mereka dengan alam. Ekologi sosial hendak menata ulang masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip ekologis.

Graham Baugh, dalam tulisan “The Politics of Social Ecology”, yang dimuat dalam suatu antologi untuk mengapresiasi Murray Bookchin, mengatakan bahwa “pemikiran sentral ekologi sosial adalah bahwa dominasi manusia atas alam berakar dari dominasi manusia yang satu terhadap manusia lainnya.”

Ekologi sosial merupakan salah satu paradigma non-Cartesian-Newtonian yang sedang digalakan sedemikian. Masih banyak ranah lainya yang perlu dipahami dengan pola paradigma non-Cartesian-Newtonian.

Penutup

Dari pemaparan dan penjelasan di atas, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa permasalahan yang berbagai macam (multidimensional) dan kompleks itu, berakar tunjang pada persoalan pandangan-dunia. Selama ini, dalam kurun waktu tiga abad, manusia dalam menjalankan kehidupannya menggunakan cara-pandang Cartesian-Newtonian, yang bersifat deterministik-mekanistik-reduksionistik-atomistik-linear. Pada kenyataan-nya, paradigma tersebut telah banyak mendapatkan kritik dari perkembangan keilmuan kontemporer, selain menimbulkan berbagai krisis dalam kehidupan. Sudah sepatutnya kita pun turut mengkaji ulang dan membangun paradigma baru untuk memahami dunia atau kehidupan dengan lebih baik.

Dan perlu ditekankan, bahwa paradigma holistik itu bukanlah gudang jawaban begitu saja yang sudah selesai, melainkan ialah suatu cara-pandang baru yang merayakan keseluruhan dan bersifat organis dalam melihat sesuatu. Kita bisa mengatakan bahwa paradigma holistik sebagai sebuah kesadaran baru dalam memahami dunia atau kehidupan.

Wa Allah a’lam. []

Ciputat, 20 September 2007/pkl. 02.26 wib.

Catatan Editor:

Menurut Ahmad Samantho[5], konsep pandangan dunia holistik-integratif yang ditawarkan saat ini misalnya oleh Armahedi Mahzar[6] dan Husein Heriyanto[7] serta Mulyadhi Kartanegara[8] misalnya, sebenarnya dapat dilacak akar filosofisnya dari sejenis pandangan dunia yang berabad-abad lalu pernah ditawarkan oleh teosof (hakim/urafa) besar Islam: Ibnu Arabi[9], dengan konsep “Wahdah al-Wujud”, yang lalu dikembangkan lagi oleh Mulla Sadra[10] dengan konsep “Al Shalah al-Wujud”, “Tasyqiq al-Wujud”, al-Harakat al-Jawhariyah”, “I’tihad Aqil wa al-Ma’qul”. Uraian mengenai hal ini lebih jauh dapat dilihat pada makalah berjudul Paradigm Shift In Sciences Research & Development to Islamic Epistemology: Holistics & Integralistics Paradigm”

Wa Allah a’lam. []

Ciputat, 20 September 2007/pkl. 02.26 wib.


Senarai Rujukan

Baugh, Graham. (?). “The Politics of Ecology Social” dalam Renewing the Earth, The Promise of Social Ecology. Naskah didapatkan dari http://anarchoi.gudbug.com/2006/06/19/politik-ekologi-sosial/ pada Maret 2007.

Berman, Morris. 1984. The Reenchantment of the World. USA: Bantam Books.

Bookchin, Murray. (?). What is Social Ecology?. Naskah didapatkan dari http://rumahkiri.net/index.php?option=com_wrapper&Itemid=226 pada Juni 2007.

Capra, Fritjof. 2005. The Hidden Connections. penerj. Andya Primanda. Bandung: Jalasutra.

Debord, Guy. 1967. Society of the Spectacle. Naskah didapatkan dari http://www.marxists.org/reference/archive/debord/society.htm pada Maret 2007.

Descartes, Rene. 1635. Discourses on the Method. Naskah didapatkan dari http://www.marxists.org/reference/archive/descartes/1635/discourse-method.htm pada September 2007.

Descartes, Rene. 1639. Meditations on First Philosophy. Naskah didapatkan dari http://www.marxists.org/reference/ar-chive/descartes/1639/meditations.htm pada September 2007.

Heriyanto, Husein. 2003. Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju.

Heriyanto, Husein. 2005. “Dari Visi menuju Aksi Perubahan” dalam kata pengantar buku Fritjof Capra The Hidden Connections. Bandung: Jalasutra.

Nasr, Sayyed Hossein. 1996. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.

Wijayanto, Eko, dkk (ed.). 2002. Visi Baru Kehidupan: Kontribusi Fritjof Capra dalam Revolusi Pengetahuan dan Implikasinya pada Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit PPM.


[1] Makalah disajikan pada acara bedah buku karya Husain Heriyanto “Paradigma Holistik” di Avicenna Center for Religion and Science Studies (ACRoSS), Jakarta, pada 22 September 2007.

[2] Mahasiswa semester lima program studi Islamic Studies di Islamic College for Advanced Studies, Jakarta.

[3] Dalam tulisan ini, frase paradigma Cartesian-Newtonian dan pandangan-dunia modern digunakan secara bergantian dengan pengertian serupa.

[4] Di maksud sebagai paradigma Cartesian-Newtonian adalah pandangan Rene Descartes (1596-1650) dan Isaac Newton (1642-1727) yang mendominasi metodologi pengetahuan modern selama kurang lebih tiga abad. Walaupun perkembangan pengetahuan kontemporer banyak meruntuhkan asumsi-asumsi dasar paradigma tersebut, namun tetap saja paradigma tersebut berakar dalam/untuk memahami relitas atau kehidupan. Sebab runtuhnya asumsi dasar paradigma tersebut juga menggoyahkan epistemologi, ontologi, aksiologi, dan metodologi yang dibangun oleh paradigma tersebut. Seperti yang sudah disinggung bahwa pandangan dualisme merupakan warisan Rene Descartes, begitu juga Newton mewariskan pandangan mekanistik. Newton menggabungkan mimpi visioner rasionalisme Descartes dan visi empirisime Francis Bacon (1561-1626) agar dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata melalui peletakkan dasar-dasar mekanika. Ia memadukan Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1626), dan Galileo (1546-1626) di bawah asumsi kosmologis Descartesian yang mekanistik, atomostik, deterministik, linier, dan serbakuantitatif; dan pada saat yang sama, ia menerapkan metode eksperimental-induksi Baconian.

[5] Lihat Ahmad Samantho, Uraian mengenai hal ini lebih jauh dapat dilihat pada makalah berjudul “Paradigm Shift In Sciences Research & Development to Islamic Epistemology: Holistics & Integralistics Paradigm”, dan Thesisnya yang berjudul “Kosmologi dan Epistemologi Ibn Arabi sebagai landasan Ontologis dan Epistemologis bagi Perumusan Kembali Pandangan-Dunia Holistik-Integratif Pasca Era Post-Modernismdi Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, 2008

[6] Lihat Armahedi Mahzar, “Integralisme”, Penerbit Mizan Bandung, 200..

[7] Lihat Husain Heriyanto, Paradigma Holistik”, Penerbit Mizan Bandung, 2002

[8] Lihat Mulyadhi Kartanegara, “Integrasi Ilmu”, Penerbit ……… Jakarta, 200..

[9]

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: