Notulensi Seminar: KULTUR SAINTIFIK DAN RASIONALITAS DALAM ISLAM

July 21, 2008 at 4:36 am | Posted in Seminar-seminar | Leave a comment

Notulensi Seminar:

‘Kultur Saintifik dan Rasionalitas Dalam Islam’

Aula Nurcholish Madjid

Senin, 26 Februari 2007

KASET I

Moderator

Assalamualaikum Wr. Wb.

Izinkanlah saya di sini untuk membawakan acara. Acara pertama adalah pembukaan. Marilah kita buka acara ini dengan mengucapkan Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Berlanjut ke acara kedua adalah sambutan. Sambutan yang pertama akan disampaikan oleh panitia yaitu Aan Rukmana.

Aan Rukmana

Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Osman Bakar, bapak Mulyadhi Kartanegara, bapak Nirwan Ahmad Arsuka, bapak Husein Heriyanto, kepada bapak-bapak dan ibu-ibu serta semuanya. Insyaallah hari ini kita akan mengadakan public discussion yang akan diisi oleh Prof. Dr. Osman Bakar dan akan ditanggapi oleh Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Nirwan Ahmad Arsuka, dan Husain Heriyanto. Acara hari ini merupakan gabungan dari PSIK, Avicenna Center for Religion and Science Studies (ACROSS) ICAS dan CIPSI.

Moderator

Terima kasih saudara Aan. Untuk sambutan selanjutnya dari Chairman Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina Dr. Yudi Latif. Kepadanya kami persilahkan.

Dr. Yudi Latif

Assalamualaikum Wr. Wb. Pertama saya berjumpa kembali dengan Dr. Osman Bakar ketika ada seminar di Strasbourg. Tentu kehadiran beliau di sini sangat bermakna karena salah satu dari sedikit ilmuan Islam di Asia Tenggara yang sangat konsisten dalam mengembangkam pemikiran-pemikiran Islam, terutama dengan pemikiran filsafat Islam. Saya kira juga di sini ada yang lain yaitu Prof. Mulyadhi, cuma beliau yang masih tawadhu di tengah hiruk pikuk politik Indonesia dan masih bisa menelurkan karya, tidak tergoda dengan angin modernitas yang sedang meniup angin intelektual di Jakarta. Pak Mulyadhi ketika muda sudah produktif, di umur 30an dan tentu saja ini memberi teladan yang baik bagi kita yang muda.

Kemudian kepada Nirwan Ahmad Arsuka. Beliau adalah teman saya sejak lama dan sangat kontisten sebagai sarjana Muslim tapi sekarang jadi pemikir kebudayaan. Dia banyak menulis di Kompas menuangkan pikiran-pikirannya tentang sains dan kaidah-kaidahnya. Saya kira itu saja dan semoga diskusi kita pada hari ini tentang penumbuhan kembali budaya saintifik di Islam betul-betul akan sangat bermakna karena dalam situasi ini seperti yang sudah saya katakan berkali-kali mengalami proses ……(istilah tidak jelas)……..hampir kita semua mengalami ……. (istilah tidak jelas)…….dalam segala aspek kehidupan kultur saintifik bisa tumbuh dan pada hari ini juga ada pameran fotografi yang menceritakan dunia lain seperti bagaimana orang seperti Martin Lings…(terganggu suara ringtone)….. dalam dunia Islam di Eropa. Oke. Saya kira selamat berdiskusi dan sekali lagi terima kasih kepada bapak-bapak dan teman-teman semua. Semoga kerjasama kita dengan Malaysia lebih kuat dalam hal pemikiran. Terima kasih saya ucapkan kepada Avicenna Center ICAS, ICIP dan Prof. Osman Bakar. Assalamualaikum Wr. Wb.

Moderator

Terima kasih kepada bapak Yudi Latif. Saudara-saudara sekalian kita akan memulai acara kita yaitu diskusi tentang penumbuhan budaya saintifik dan filsafat Islam. Kepada pembicara Prof. Dr. Osman Bakar dan penanggap bapak Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, bapak Husain Heriyanto dan bapak Nirwan Ahmad Arsuka silahkan untuk menempati tempat yang disediakan. Kepada para hadirin dipersilahkan untuk menempati terlebih dahulu kursi yang masih kosong di bagian depan. Begitu juga kepada bapak-bapak dan ibu-ibu silahkan duduk di depan.

Hadirin sekalian, diskusi kita kali ini lain dengan seminar sebelumnya yang telah dilakukan teman-teman PSIK di mana tiap pembicara mempresentasikan papernya masing-masing. Tetapi pada diskusi kali ini kita akan fokus pada pemikiran dan ceramah Prof. Osman Bakar yang membicarakan hubungan antar agama dan sains. Adapun ketiga pembicara lainnya adalah pembanding yang akan menanggapi pemikiran Prof. Osman Bakar. Untuk itu pertama-tama Prof. Osman Bakar akan berceremah sekitar 25 menit kemudian kesempatan selanjutnya diberikan kepada setiap panelis untuk memberikan tanggapan baru kemudian hadirin mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan Prof. Osman Bakar begitu juga dengan para panelis.

Untuk mempersingkat waktu, marilah kita dengar paparan Prof. Osman Bakar yang dalam kesempatan kali ini akan menggunakan dua bahasa pengantar yaitu dengan bahasa Inggris dan Melayu. Pada beliau kami persilahkan. Mohon maaf sebelumnya kami perkenalkan terlebih dahulu siapa pembicara di depan ini. Pertama Prof. Osman Bakar lahir di Dorong pada bulan Agustus. Beralamat dan tinggal di Malaysia dengan background pendidikan di bidang matematika kemudian Master of Science di Amerika, Master of Art dalam bidang Comparative Religion dan Ph.d pada Islamic Philosophy. Pekerjaan sekarang sebagai professor di Universitas Malaysia dan di International Islamic University of Malaysia. Karyanya ada tigabelas buku dan lebih dari seratus limapuluh enam artikel dan jurnal. Beberapa bukunya yang sangat terkenal adalah ……of Knowledge in Islam, …..Science, Preparation on Dialogue

Kemudian dari para penanggap yang pertama adalah bapak Nirwan Ahmad Arsuka dengan pendidikan terakhir UGM. Pekerjaan sekarang adalah editor dan kurator dan sangat concern dalam kebudayaan.

Kemudian Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara lahir 1959. Pendidikan S1 UIN Syarif Hidayatullah, S2 University of Chicago, S3 University of Chicago 1996. Pekerjaan Guru Besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah. Organisasi sekarang adalah direktur di Center for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI). Beberapa di antara karyanya yaitu Tradisi Ilmiah Islam, Gerbang Kearifan, Menembus Batas Waktu.

Panelis ketiga adalah bapak Husain Heriyanto dengan pendidikan S1 Institut Pertanian Bogor (IPB), S2 Universitas Indonesia Master Humaniora. Sekarang menjabat Director of ICAS yang mempunyai dua meja utama yaitu Islamic Philosophy dan Islamic Mysticism. Marilah kita mulai diskusi kita, saya persilahkan kepad Prof. Osman Bakar.

Prof. Osman Bakar

Bismillahi ar-rahmani ar-rahim. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Terima kasih kepada moderator, kepada panelis dan bapak Yudi yang saya temui pada konferensi di Istanbul. Dalam mempresentasikan makalah ini saya akan menggunakan bahasa Inggris.

Thank you very much to present my paper here. I want present here under title scientific cultural and rationality in Islam. In English we use the term scientific culture and rationality in Islam. Now let me begin to explain the term, because all the term we have not just one meaning, one definition or one understanding we call new word scientific in different thing and also culture then rationality …….by Islam. Because what we are talking here about the theory there is …….some Muslim knew …..in the Koran as the prophetic not really talking about ……..but in another word would be ………So, there is in this term what I mean by this term because there are more than one understanding of them, if them scientific. Once we talk about what happened in Islamic history, civilization has master for many-many century we should remember that we mean …….so in Islamic culture, scientific culture we have remember that the scholars they had conversation perhaps person ……so logically ……because now we talking English, we are in English for reign have been influent by resources context….the western culture for the example the custom understanding, pre-modern understanding on world scientific in the west is not cheap as Islam understood in the west. We are very careful ……..because we are talking for reason. We are concerning about one word, the vocabulary for the term knew by Moslem.

Moderator

Baiklah, saudara – saudara sekalian ! dari pemaparan beliau ini, bisa kita simpulkan bahwa bapak osman bakar saya pikir mempunyai pendapat yang sama ada satu masalah dalam sains modern, dimana sains modern sudah tercerabut dari akarnya. Bapak osman baker mengutarakan ada semacam konstruksi makna dalam scientific. Makna-makna adalah antara lain saintific itu hanya mengacu pada satu metode ilmiah. Atupun satu metode yang tidak dapat dibuktikan secara empiris maka tidak disebut scientific atau tidak ilmiah. Pak Osman juga menjelaskan bahwa adanya ketimpangan dalam scientific modern yakni makna rasionalitas dan makna realitas. Dan ini adalah mimpi dari saintific modern. Padahal menurut beliau ada satu tradisi yaitu tradisi ilmiah Islam yang yang berkembang sebelum sains modern yang membedakan intelec dan religion. Untuk menurut beliau perlu adanya pemaknaan kembali apa yang disebut scientific ilmiah.Untuk selanjutnya kita bisa mendengarkan tanggapan dan pemaparan tentang tradisi ilmiah dalam islam kepaada pak Mulyadhy Kertanegara dia adalah direktur CIPSI yang sedang mengerjakan projek penerjemahan buku dari ensiklopedi Ikhwan al-Shafa. Pada beliau kami persilahkan!.

Mulyadi kertanegara

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Saudara-saudara sekalian yang dimulyakan Allah swt …………

Saya tidak bisa lama-lama jadi ketat saja, kultur ilmiah dalam Islam, saya kira berterima kasih kepada pak Osman yang tadi mengatakan bahwa Islamlah yang memulai budaya dari individual sampai societal/masyarakat sehingga ada yang melembagakan dari individu menjadi masyarakat. Dan saya kira contohnya jelas seorang al-Ma’mun disamping seorang khalifah dia juga yang memimpin seminar-seminar dan dia juga yang mendirikan Baitul-Hikmah sebuah lembaga akademi ilmiah yang melakukan penerjemahan dan lain sebagainya. Tapi dia juga adalah pengarang beberapa buku. Jadi ini adalah contoh dimana antara negara dan ilmu berpaut yang sangat jelas. Dan negara mensponsori lembaga-lembaga pendidikan. Lihat saja Nizamul-Muluk dia mensponsori Nizamiah University system di berbagai kota. Dan juga Mustansir dengan madzhab Mustansiriah itu juga adalah governmental public school didukung finansialnya oleh negara. Di Indonesia saya kira belum menjadi satu concern yang hebat yang menjadi sehingga misalnya akademi-akademi ilmiah kurang mendapat support dan juga saya kira apresiasi masyarakat ini belum ada. Dan kalau akademi fantasi itu luar biasa itu peminatnya banyak sekali. Karena ketika menjadi penyanyi itu diapresiasi dan dihargai menjadi mahal, sedangkan kalau ada akademi ilmiah siapa yang ingin jadi ilmuan tidak ada yang menghargai / kurang penghargaannya. Nah, saya kira budaya dan kultur ilmiah Islam yang memulai dari individu kepada state saya kira itu perlu ditiru dan tidak hanya sektoral seperti di US yaitu militeri tetapi secara keseluruhan.

Tetapi yang ingin saya ajukan adalah kenyataan budaya ilmiah Islam juga sudah melahirkan apa kemudian menjadi public school science. Biasa kita selalu begini, kalau kita membandingkan antara agama dan ilmu atau sains, biasanya sains diambil dari Barat dan agamanya dari al-Qur’an dan Hadits. Melupakan fakta bahwa sebenarnya Islam pernah menciptakan bahkan membangun sebauh tradisi ilmiah yang bukan sekuler itu atau rational science. Jadi kalau mau membandingkan rasional Islam dengan rasional Barat. Jangan dari sains barat kemudian ke qur’an-hadits.melupakan fakta bahwa sebenarnya di sana ada fisika dan astronomi dan sebagainya. Jadi kalau saya lihat dan saya teliti dari karya-karya ilmiah klasik kataakanlah dalam risalah Ikhwan Alshafa itu berbicara tentang ilmu matematika, aritmatika, geometri, musik, optik dan sebagainya, kemudian logika isagogi burhani dan lain sebagainya. Kemudian buku kedua berbicara tentang fisik, berbicara tentang surah, bentuk, materi, ruang, waktu dan gerak kemudian minerologi, tentang botani, zoologi sampai kepada tasrih anatomi dan kedokteran sampai psikologi. Kemudian di bagian yang keempat berbicara tentang agama, jadi itu integrasi antara agama dan sains.

Dan saya hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya ada tradisi ilmiah / kultur saintifik di dalam dunia Islam yang ini belum diexpose, belum banyak diketahui orang sebagaiman kita mengetahui kultur saintifik Barat. Karena di indonesia ini kebanjiran, karenanya expose-nya banyak ke dunia Barat. Tapi untuk sains Islam masih sangat kurang dan bahan-bahannya masih tertulis dalam bahasa Arab yang cukup sulit, dan kita berusaha khususnya CIPSI (pusat kajian dan informasi filsafat Islam) berusaha untuk menerjemahkan, walaupun kita mengalami kesulitan, mencari orang yang tahu fisika sekaligus bahasa Arabnya yang susah. Mungkin sekarang kita sedang menggalang kerjasama dengan ITB. Kita menerjemahkan dan kita ambil orang ITB untuk mengeditnya dalam basic sainsnya kuat. Tetapi maksud saya kita jangan sampai melupakan fakta bahwa scientific culture di dunia Islam itu sangat marak. Dalam waktu enam bulan kita sudah mengumpulkan 160 judul atau 600 copy itu semuanya buku-buku saintifik dalam arti luas ilmiah dari mulai matematika, fisika dan metafisik. Dengan demikian maka kita mengenal metode ilmiah yang digunakan untuk ilmu-ilmu alam misalnya yang disebut metode ilmu tazriby (expreminental methode) yang untuk pertama kalinya di temukan oleh orang islam. Dan juga metode istiqra yang ditemukan ilmuan muslim, orang seperti Ibn Haitsam dengan optikya dia melakukan experiment-experimen, kemudian seperti Al-Biruni ia juga melakukan eksperimen dengan keliling bumi ketika mengukur bumi. Dia melakukan metode campuran antara metode observasi dan matematik yang kemudian dia bisa mengukur geometri dan diameter bumi.

Pada abad 11 ketika orang-orang belum tahu bahwa bumi itu bulat, dia sudah bisa mengukurnya. Ini adalah prestasi-prestasi ilmiah yang disebut natural science. Meskipun begitu kita juga ada ahli matematika, misalnya Al-Khawarizmi orang pertama yang merumuskan dengan jelas system decimal dengan mengintroduce angka nol. Dan kita tahu bagaimana misalnya kalau matematika tidak angka nol. Jadi, sebenarnya ada revolusi matematik yang dilakukan Al-Khawarizmi ketika ia menemukan angka nol.

Demikian juga astronomi kita punya tokoh Nasiruddin Al-Thusi, yang dianggap sebagai guru dari Copernicus oleh Tomy Harb yang menulis buku “the rise modern science” mengatakan bahwa sesungguhnya Copernicus adalah murid astronomi madzhab Maragah yang didirikan oleh Nasirudin Tusi. Karena model-model planet itu dijiplak dari buku-buku Al-thusi dan Ibnu Safir. Jadi ini karya-karya ilmiah di bidang astronomi, matematik dan juga metafisik yang sudah diraih demikian gemilang , tetapi semuanya terkubur selama berabad-abad dalam manuskrif sehingga kita tidak mengenalnya lagi. Datanglah gelombang Barat, sehingga kita hanya kenal pada Barat. Dan itu saya kira kewajiban dan moral intelek kita untuk menghidupkan kembali, apa yang saya sebut dengan “ijtihad ketiga” dan mudah-mudahan ini bisa muncul lagi di dunia Indonesia dan itu saya kira sangat potensial. Setidaknya itu yang diharapkan Fazlurrahman, ketiak ia masih hidup dia bilang bahwa di Indonesia dan Indonesia itu muncul renaissance dengan menghidupkan kembali ilmu-ilmu yang sudah digali ilmuan Islam dan dipadukan secara sintesis dengan penemuan ilmuan di Barat.

Dan point ketiga, yaitu mengenai hubungan agama dan ilmu. Saya kira tidak agama yang mungkin sangat empatik didalam menekankan umatnya untuk menuntut ilmu daripada Islam. Nabi dengan terang-terangan mengatakan “thalabul ‘ilmi faridotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin” (menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslim laki-laki danperempuan) tapi salah kita, kita tidak menganggap itu wajib. Jadi kalau sholat itu wajib dan kalau ditinggal itu merasa dosa, tetap nggak baca tidak rasa dosa. Karena kita tidak menganggap bahwa menuntut ilmu itu adalah wajib. Kemudian menuntut ilmu hanya sampai saat kita dapat kerja, karena kata orang tua “kau harus sekolah, kalao tida nggak dapat kerja”. Jadi menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kerja. Kata si anak “mah, aku sekarang sudah mendapatkan kerja” maka si anak berhenti sekolahnya. Jadi para pekerja bodoh karena tidak mau belajar lagi. Padahal, dalam Islam kewajiban menuntut ilmu sampai liang lahat, tak ada batas. Pak Osman sudah jadi Professor mau berhenti belajar. Itu tak ada dalam Islam. Kalau etos keilmuan ini diterapkan saya kira nggak akan ada yang bodoh. Kemudian juga dari sudut ruang “tuntut ilmu sampai negeri cina” jadi, dmana saja kita menuntut ilmu tak terbatas ruang dan waktu. Jadi ini sebenarnya etos keilmuan yang harus diterapkan lagi dan ulama-ulama menegaskan ini pada murid-muridnya. Dan ini saya kira belum.

Kemudian ada lagi, yaitu integrasi antara ilmu dan agama. Kalau saya lihat misalnya ilmu-ilmu agama itu berdasarkan kajian terhadap al-Qur’an, sedangkan ilmu-ilmu umum adalah kajian terhadap alam. Dalam pandangan Islam, baik qur’an maupun alam adalah sama-sama ayat Allah. Jadi kalau satu itu diwajibkan maka yang lain juga harus diwajibkan. Mungkin al-Gazali sudah banyak mengatakan, seperti ia mengatakan dalam menuntut ilmu agama itu fardlu ‘ain dan fardlu kifayah menuntut ilmu yang lain. Dan menurut saya kedua-duanya adalah fardlu ‘ain. Karena tidak ada bedanya antara al-qur’an dan alam, kedua-duanya ayat Allah. Problem yang terjadi dan konflik antara agama dan sains itu ketika ilmuan-ilmuan berhenti mengkaji alam sebagai tanda-tanda Allah, berhenti mencari jejak-jejak ilahi (sophisticated). Itu problemnya, kembali kita kaji alam sebagai ayat-ayat Allah maka akan terjadi harmoni antara agama dan ilmu. Kemudian tauhid seperti dalam buku pak Osman, saya kira betul karena harus ada kesatuan ilmu, kesatuan hukum dan itu sumbernya the truth. Yang tidak lain adalah al-haqq, Allah swt.

Tidak ada yang bisa dilepaskan dari tauhid. Jadi saya kira persoalan yang terjadi adalah ketika kita berhenti memperlakukan alam sebagai ayat Allah, maka ilmuan barat mengatakan bahwa Tuhan yang mengatur alam tapi hukum mekanik, lalu kata darwin bukan tuhan yang menciptakan spesies-spesies hewan tapi hukum seleksi alam. Dalam ilmu jiwa, dikatakan oleh Freud bahwa bukan tuhan yang menciptakan kita tapi kita yang menciptakan tuhan. Emile Durkheim ahli sosiologi mengatakan bahwa what ever gone is actualized society, jadi kita keliru menganggap ada Tuhan, nah ini yang mengakibatkan sekularisasi lalu berhenti mengkaji alam dan kita mencari itu kalau kita ingin mencari solusi terhadap ini. Jadi saya kira itu problemnya untuk saat ini, dan saya kira saya dengan pak Osman banyak kesamaan dalam beberapa hal. Mungkin karena saya pengagum Nasr dan pak Osma murid langsung dari Nasr. Tetapi problemnya adalah bagaimana kelanjutannya, setelah kita tahu begitu petanya, lalu bagaimana mengimplementasikannya? Yang disebut science islam atau apa. Pertanyaanya saya apakah islamisasi sains itu possible? Kalau mungkin possible, how to realisize?what step to actualize? Dan kemudian ini saya jawab sendiriengan mendirikan pusat kajian dan informasi filsafat islam, diman kita mencoba menghidupkan kembali tradisi ilmiah islam dengan pertama-tama, menghadirkan secara fisik karya-karya hebat mereka itu. Jadi kalau saya menulis beberapa judul buku saya ingin anda juga melihat beberapa bukunya, untuk dilihat dan dikaji sebagai bahan yang nantinya kita sebuah pandangan ilmiah yang modern yang cocok. Sehingga kita bisa menjawab tantangan jamannya yang kita hadapi sekarang ini. Saya kira itu yang mungkin yang bisa sampaikan mudah-udahan bermanfaat. Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu ‘alaikumWr.Wb.

Moderator.

Tapi satu lontaran ketika kami menjadi mahasiswa igin menulis tentang psikologi Islam, lalu kami tanyakan apa signifikansinya untuk menulis psikologi islam? Psikologi modern mengklaim bahwa ….. paparan dari pak Mulyadi sehati dengan pak Prof. Osman Bakar yang mengatakan bahwa sebenarnya harus ada harus ada harmonisasi antara faith dan intelec. Mengenai problem dari tradisi ilmiah islam mungkin pada kami tidak terlalu bangga kami ini anak muslim da kami bangga. Inferioritas telah menjadi suatu penyakit pada diri anak-anak kita. Ketika kita berhadapan dengan barat atau lulusan barat kita secara psikolgis sudaj merasa inferior. Bapak Nirwan Arsuka sangat concern pada masalah budaya ini sebagaimana kita telah baca tulisannya di media kompas. Oleh karena itu mari kita dengarkan beliau kami persilahkan.

Nirwan Arsuka

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Berbicara tentang rasionalitas atau kultur ilmiah di dalam Islam ini sebenarnya seperti mendiskusikan sebuah totologis, mendiskusikan sesuatu yang sudah jelas dengan sendirinya. Apa yang dikatakan Osman Bakar kaitan yang begitu inheren antara sains dan Islam memang bukan sesuatu yang bisa dibantah lagi. Saya kira kalau memang ada sumbangan Islam di dalam sejarah. Adalah islam inilah yang mula-mula mengemansipasikan, membebaskan ilmu itu dari kelompok-kelompok tertentu, sebelum islam datang selain ada kelompok-kelompok individual yang melakukan penalaran dan penyelidikan ilmiah, sebenarnya juga ada kelompok-kelompok tertentu yang melakukan di tempat yang lain. Tetapi kelompok-kelompok ini itu kelompok terbatas. Di India, kelompok tertentu mengerjakan kajian matematika misalnya, dan dari sana islam menyerap sebagian khajanah matematika tersebut. Dan di Cina ada juga kelompok mandarin yang melakukan kajian pada pemikiran Tao dan Budhisme dan segala macam pengetahuan yang berkaitan dengan Cina.

Tetapi karakter sosiologis dari pengetahuan cina bahwa ilmu pengetahuan itu free foundation dari satu kelompok masyarakat saja. Pada satu kasta atau satu kelas tertentu.pak Osman Bakar saya kira dengan bagus dengan menunjukkan membebaskan kungkungan ilmu pengetahuan dari satu pengauasaan kelompok tertentu, itu adalah sumbangan pertama Islam terhadap sejarah. Sumbangan ini juga berkelindan rapat dengan gagasan kesamaan umat manusia. Itu saya kira yang layak kita garis bawahi dari sumbangan historis islam di dalam sejarah. Karena munculnya kesadaran manusia dan pengetahuan ini, sebelum datangnya Islam pemahaman bahwa setiap manusia punya akses terhadap pengetahuan tanpa membedakan kelompok-kelompok tertentu itu adalah landasan yang menurut saya tidak bisa dipahami oleh orang-orang tersebut. Itu memang sebuah gagasan yang baru didalam sejrah kemanusiaan menurut saya. Saking barunya, semua orang tidak siap untuk melakukan itu. Da kemudian masyarakat yang sudah available terbiasa pada hak-hak istimewa ini melakukan resistensi akan surut bahkan kalah di dalam sejarah Islam. Penguasaan-penguasaan pengetahuan balik lagi pada karakter historis sebelumnya, ada pengelompokan-pengelompokan tertentu, ada kelas-kelas tertentu yang boleh menguasai ilmu tertentu bahkan kita diam-diam membangun sebuah gagasan tentang ada ilmu yang lebih utama dan ada yang utama, ada yang yang wajib dan ada yang tidak wajib. Pak Mulyadhy sudah dengan bagus menunjukkan bagaimana gagasan yang begitu besar pengaruhnya dalah sejarah kita ini memandang satu ayat lebuh tinggi daripada ayat yang lain itu kembali muncul. Padahal kalau kita merujuk semangat Islam/ semangat yang melahirkan peradaban ini, ini sama sekali tidak konsisten dengan api pembebasan itu.

Saya ingin sedikit menambahkan saja tadi apa yang sudah dikatakan pak Osman dan mungkin juga menurut saya agak sedikit tidak adil kalau kita berbicara tentang sains sebagaiman kita melihatnya, tetapi bagaimana sains sendiri melihat dirinya sendiri. Memang kalau lihat metodenya kita bisa katakan bahwa sains itu bersifat reduksionistis itu betul. Kita dari luar bisa mengatakan bahwa kemudian sains ini mengebiri aspirasi-aspirasi atau metode-metode tertentu untk mencapai pengetahuan, itu juga mungkin betul. Tetapi kalau kita lihat dari sudut sains itu sendiri kita bisa katakana itu mungkin bukka pengebirian dan bukan reduksi tapi lebih merupakan sikap tahu diri, sikap tahu batas. Sains ini mendefinisikan dirinya sebagai bangunan pengetahuan yang mencerminkan pengetahuan obyektif yakni pengetahuan alam. Dan pengetahuan alam ini hanya bisa dinilai dan diuji melalui observasi, melalui pengukuran. Kalau itu tak bisa diukur, diuji dan diperiksa secara universal maka dia bukan sains. Itu mungkin bisa masuk ke kawasan teologi, kesenian. Tapi sains cukup tahu diri dan sains mempunyai penilaian yang cukup tegas wilayah ini sementara wilayah luar memang dia tidak bisa memberikan penilain yang tegas. Ada satu masa, ketika pendapat ini karena sains ini begitu berhasil, itu dianggap sebagai satu-satunya pandangan yang benar.

Kita mengenalnya sebagai suatu saintisme. Jadi apa pun yang benar adalah sesuatu hal-hal yang bisa dijelaskan oleh sains, apa yang tak bisa dijelaskan oleh sains dianggap sesuatu yang tidak benar. Tetapi sains itu dikritik dan dikembangkan oleh saintis-saintis itu sendiri, mereka inilah yang merasakan bahwa pendekatan sainstisme inilah kemudian itu menumbuhkan kepekaan mereka terhadap banyak aspek di dalam kehidupan dunia ini. Sains mungkin dapat memberikan penjelaskan yang cukup bagus tentang katakanlah dinamika atom/dinamika sel atau dinamika gerak bintang-bintang. Tetapi hal-hal yang menyangkut dengan emosi, tentang aspirasi religius, tentang kreativitas artistik. Itu memang didalam hal itu sains tidak capable atau tidak bisa bicara dalam hal itu. Mereka cukup tahu diri dan memberikan pernyataan yang otoritatif. Ilmuan-ilmuan yang mencoba memberikan penilaian terhadap bidang-bidangnya ini kan pernah diejek sebagai yang melanggar batas-batas dirinya sendiri. Misalnya jhon ….seorang ahli ekonomi yang berbicara tentang hubunggan internasional, berbicara tentang humanisme dan segala mmacam, ini pernah dikritik sebagai orang yang tidak cukup tahu diri yang bukan bidang pengetahuannya.

Kalau kita bisa menerima pengetahuan sebagai pengetahuan lingkungan paling obyektif, memang kita bisa menerima bahwa matematika itu bukan sains, dan matematika juga tidak merasa dirinya dirinya lebih rendah dari sains. Didalam filsafat pengetahuan bahwa matematika adalah ratu dari semua pengetahuan, ia lebih tinggi dari sains. Dia bukkan sains tapi dia lebih tinggi dari sains, matematika inilah yang membimbing kerja sains. Karena itu juga didalam hadiah nobel tidak ada hadiah nobel untuk matematika. Tetapi ada satu bidang lain yang khusus untuk bidang matematika namanya Feel Vedal, ada satu bidang bidang tersendiri yang diberikan untuk matematika. Saya kira kesadaran akan keterbatasan itu mungkin juga ada hal yang agak menarik di dalam sains, mereka tahu diri untuk bidang-bidang fisik bisa bicara tetapi untuk non-fisik mereka nggak usah ditanya. Komentar-komentar mereka seperti seorang komentar amatir misalnya, itu arus yang pertama dari sains sekarang ini.

Arus yang lain yang juga sudah disebutkan oleh pak Osman Bakar gerakan untuk kembali menyatukan seluruh bidang-bidang ilmiah ini. Albert Einstein yang saya tahu adalah orang pertama yang secara sistematis membangun upaya keilmuan dalam keseluruhan di dalam fisika. Dia itulah yang menggagas apa yang dia sebut dengan grand unified theory. Sebuah teori yang menyatukan daya-daya alam, daya gravitasi, daya nuklir, dan daya magnetic dalam satu rumusan. Dia gagal tapi kemudian upaya-upaya Einstein ini terus dikembangkan dan sekarang ada banyak sekali teori yang mencoba menggabungkan pengetahuan ini. Tapi, ini statusnya teori belum menjadi sains. Kita juga harus membedakan ini. Teori itu hanya konstruksi cognitive, dia hanya susuna logika dan selama dibuktikan dalam pengamatan dan selama belum bisa diulangi observasinya ditempat lain di dunia ini statusnya masih konstruksi logika, statusnya fiksi, statusnya masih permainan kognisi saja. Itu tak berarti statusnya lebih rendah tapi untuk mencapai status sains yang objektif dia harus keluarkan metodenya tersendiri. Sains ini selalu berjalan lebih lambat dari konstruksi kognitif manusia. Logika lebih cepat dari ilmu pengetahuan, imajinasi ini lebih besar dari ilmu pengetahuan. Bahkan lebih berharga dari ilmu pengetahuan manusia. Albert Einstein itu sendiri saya kira yang mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kadang-kadang teroboson besar dalam ilmu pengetahuan itu tidak bisa dijelaskan menurut penalaran logis semata, tetapi belum bisa diuji menurut pengamatan empiris. Contoh yang paling bagus lagi-lagi kasus Albert Einstein yang mengembangkan teori relativitas awal abad 20 di tahun 1905 setahu saya. Tapi untuk membuktikan teori ini membutuhkan waktu 15 atau 20tahun, kalau saya tidak salah. Dan Einstein ini mendapat nobel bukan pada teorinya yang paling terkenal tapi teori fusel listrik. Sebuah eksperimen yang tidak cukup besar nilai teoritisnya tapi lebih besar nilai eksperimentalnya. Ini juga maksud saya beberapa hal yang dibicarakan orang ketika mengulas sains, yakni sains semakin reduksionistik. Mungkin perlu kita tinjau lagi secara lebih seimbang sekarang. Kemudian dorongan untuk membangun pengetahuan yang sifatnya menyeluruh dan agak konsisten itu juga terjadi dalam ilmu pengetahuan dan saya kira ini dekat dengan aspirasi religius, adanya gejala yang terjadi di dunia ini adalah berasal dari satu sumber, karena mestinya bisa dijelaskan dengan satu penjelasan yang koheren dengan penjelasan yang lain. Kalau kita belum bisa mencapai kesana itu bukan berarti tak ada kejelasan tetapi kita aja yang belum tahu. Barangkali jalan kita masih panjang tetapi orang tetap yakin bahwa semuanya berasal dari satu sumber. Maka mustinya fenomena yang begitu beranekaragam, kenyataan yang begitu berlapis-lapis harusnya bisa dikembalikan ke asal itu. Mereka yang membaca khazanah mistik saya kira bisa merasakan bahwa ada juga semacam benang merah yang merangkul aspirasi ilmiah dalam segala hal dengan aspirasi spiritual, yang yakin segala sesuatu berasal dari satu sumber. Saya kira itu komentar saya yang pertama terimakasih.

Seminar:

‘Kultur Saintifik dan Rasionalitas Dalam Islam’

Aula Nurcholish Madjid

Senin, 26 Februari 2007

KASET II

=========

** SIDE: A**

Moderator: Jubaidah

Diutamakan akan sulit untuk menyakini, menyakinkan masyarakat civic tertentu tentang kritik terhadap sain ketika kita masih berpikir pada tarap kehidupan normal, dimana sain itu dibicarakan. Lontaran-lomtaran sederhana tentang entains itu merupakan suatu anomaly-anomali yang dikeritik pada saat itu. Karena sekarang beberapa diantaranya mencoba untuk mengkritik tentang sains normal yang sudah berjalan, paradigma sains yang kita yakini adalah awal dari diskusi-diskusi dalam filsafat islam kita menyadari bahwa penyimpangan sains modern pada dasar ontlogis dan filosofis dari sains itu sendiri.

Saudara-saudara, maka diskusi kita akan semakin mengerucut mulai dari bagaimana melahirkan suatu paradigma holistik, bagi yang menjadi tempat atau rumah baru bagi sains kita, yang akan melahirkan balance. Pembicara kita berikut ini dalah bapak Husaini hariyanto yang membawai dua pemikiran yaitu islam dan filosofi dan filosofi tasawuf yang sangat erat kaitannya dengan diskusi-diskusi kita saat ini. Dia sendiri telah menulis sebuah buku yang berjudul paradigma holistic yang berisi kriti keras terhadap sains modern. Kepada bapak saya serahkan.

Pembicara: Husein Heriyanto

Terima kasih, kepada moderator. Saya pikir kita tidak lagi mengikuti kondisi perkembangan sains, karena seperti yang disampaikan oleh prof. Osman Bakar secara normatif tidak lagi berbentuk ilmiah dan rasionaliitas inkonheren dalam Islam dan dalam sejarah juga dalam tujuh abad itu polemik dalam bidang sains dan filsafat. Persoalannya kenapa kondisi sekarang ini pengusaan sains atau secara lebih luas culture saintifik, kultur ilmiah rasionalitas dalam islam sekarang, ini menjadi pertnayaan. Meriport kepada apa yang disampaikan oleh bapak profesor Osman Bakar, beliau mengatakan bahwa intitusi besar has umat manusia dalam peradaban dunia adalah menjadikannya sains sebuah kegiatan yang kosmopolitan dan ini ini juga sudah dipopulerkan oleh almarhum Caknur jadi kosmopolitanisme sains dalam Islam dan oleh karena itu akan lebih baik membaca gejala ketertinggalan penguasaan sains dan tekhnologi produk dari a plain sains (sains harapan) diumat islam sekarang ini dalam kontek culture, dalam konteks kebudayaan sosial kebuadayaan karena apa,karena secara individual secara tekhnis kit atidak melihat adanya masalah ilmiah yang dihadapai oleh islam, artinya kemampuan ilmiah umat islam sebetulnya juga tidak kalah saat ini secara individual dari dulu sampai sekarang.

Karena ada yang mengatakan pluralisme adalah salah satu penyebab kemajuan dalam mengembangkan sains, menskipun juga kita tanya juga mengapa umat islam mudah jatuh dalam pluralisme misalnya banyak sekali tokoh tokoh saintisme sekarang ini yang kemudian dikeluarkan dalam Islam. Bahkan yang kita baca itu banyak pemikiran-pemikiran dari para cendikiawan seperti dari Inggris, Australi, Amerika Serikat. Tokoh-tokoh musim ada dari Pakistan, Indonesia, India, Iran atau dari Malaysia ini menunjukan hanya pokoknya bukan karena faktor individual, bukan karena semata-mata kaum muslimin bersyahadat dan kemudian kemampuan analisis sintifiknya berkurang. Tapi lebih karena pada problem problem culture, lebih pada problem sosial. Kita menghadapi persoalan culture, dalam persoalan budaya dalam hal ini saya ingin sedikit mengomentari tentang perbedaan culture sains dalam barat dan islam termasuk perbedaan antara intelek dan teacher saya pikir ada sedikit manfaat dari analisis saya.

Saya sepakat adanya pebedaan mendasar antara culture dalam sains antara sains barat dan sains timur dalam konsep Islam, tadi saya sedikit inginmemberi catatan bahwa kemampuan berpikir sintetis atau kemampuan berpikir holistik yang dikaitkan dengan adalah kualitas intelek merupakan karakter has umat islam atau sains dalam islam sementara dalam keabsahan sains barat terjatuh dalam apa yang disebut dengan bentuk saintisme atau dalam bentuk sitenisme karena menekankan kemampuan alisis. Disini perlu berhati-hati apakah berpikir holistik itu meniscayakan ketidak beradaan kemampuan berpikir analsis ini yang perlu kita hati-hati. Kerena tdak ada kemampuan yang berpikir sintetik, berpikir holistik tanpa memiliki kemampauan analisis. Analisa thingking itu adalah basic dasar atau prinsip-prinsip dasar dalam berpikir holistik yangtantangan kemampuan berpikri holistik itu yang akan di reilis sebagai apa yang disebut dengan rasionaliti present.

Saya kasih contoh dalam berpikir analisis adalah prinsip segala kemungkinan prinsip dua hal itu terkonradiksi, tidak mungkin dua hal itu saling bertemu. Ini salah satu kemampuan berpikir analisis kalau ini kita tolak dengan alasan kita mensistensiskan dua hal yang kita ingin jauhkan maka dua hal yng ingin kita jauhkan itu tidak juga akan mendapatkan penjelasan secara memadai dan banguan argumen yang kita ingin bangun itu akan runtuh dengan sendirinya karena dengan prinsip non berdalih ini misalnya kita megatakan bisa menjelaskan antara apa jiwa dan materi? apa itu riasent? apa itu intelek? Bukankan pembagian antara intelek dan risent. Apa itu sains yang bebasis islam dan sains modern itu juga harus menggunakan analisi-analisis, banyak sekali dalam kesempatan ini contoh-contoh bahwa berpikir analisis itu sangat dibutuhkan untuk bangaimana membangun berpikir kholistik tadi. Singkat kata saya ingin mengatakan bahwa berpkir holistik itu adalah sebuah kelanjutan dari sebuah analitis aristotelian kalau kita lanjutkan itu berasal dari logika aristotelian, logika suwardi itu bukan sebuah hal yang kontaradiktif terhadap aristotelian.

Karena memang ada kelemehan-kelemahan mendasar pada aristoteles adalah ketidak mampuan menggabungkan dua relasi, karena dalam logika aristoteles dia menggunakan logika kategori, jadi sangat cakap dalam mengembangkan katagori banyak sekali hubungan dunia dengan katagori dan kalau kita mengacu pada perkembangan filsafat sains modern kita bisa melihat misalnya tokoh muda Decart pendiri muda atau semangat muda sains moderni kita lihat pada Decart problem besar pada Decart itu bukan pada kemampuan analisisnya tapi pada problem waktu itu dia tidak bisa menjelaskan hubungan alamiah substansal antara gerak tubuh dan pikiran, antara spirit dan mater, antara materi dan spiritual kita tahu bahwa decart itu adalah orang yang religus bahkan dalam sejarah disesbut dengan dua rentetan pendiri sains modern.

Tapi yang jadi peroblem bagi kita dalam emahaman pemkiran hoilstik ini adalah pemahaman tokoh-tokoh sains ini dalam menjelaskan relasi alamiah subtansial antara tubuh dan pikiran, antara materi dan spritual, antara materi dan jiwa, ada reaksi-reaksi yang radikal terhdap pola pikir yang mekanistik itu, gambaran alam yang mekanistik itu yang dibawakan oleh decart dan cas newthon oleh sejumlah filsuf seperti deklin atau para romantk seperti smitblack atau para romantik…yang mengkrtk pemikran modern in dengan pendekatan radikal pulasegala sesuatu adalah bersdata spiritual msalnya yang terkenal adalah…seorang dilsuf seorang skop dia mengatakan efeksocity atau suatu tekanan kita lihat dan ada juga kita lihat pendekatan empirik tapi emprk dsini pengalaman yang tersensasi oleh pikiran kita dan dia menampikkan realitas kogntif materi untuk menekankan keunggualan realtas logka dan spirtual tapi pola pikir seperti ini justru menjadi asosiasi yang empuk bagi rasonaltas realitas menampikan realitas dari materi bagaiman bisa dia riil idealisme mutlak atau idealisme subjektif dan saya khawatir sejumlah saintis atau filosof dkalangan kita itu mengikuti pola seperti ini mengkritik sains modern mengjkritik filsafat modern dengan cara seperti tadi jadi sebelum menentukan riil posision saya ambil contoh semua orang berbaju putih riil posisinya apa? Apakah kita akan semua orang berebut ke butik atau tidak perlu kebutik, yang riil oposisi itu adalah sebagan orang tdak bebaju putih bukan semua orang tdak berbaju putih itu adalah kontaradiktk yang semua orang tidak berbaju puth.

Saya pikir riil posision pandangan …atau regiulisme, regulsme tapi tidak semuanya harus … adalah sebgaan kita cukup menunujkan untuk tidak semua orang yang berbaju putih tidak perlu kita menampikan hal-hal materi atau kemampuan analsis jadi saya ingin menyampakan sebuah problem int dari sains modern atau dari filsafat modern sebetulnya terkada akarnya …meskipun emosinya mengalahkan gereja tapi kettidak mampuan mereka secara ilmiah hubungan antara spirtual dengan materi, jiwa dan badan tapi kita kihat. lalu lama kelamaan lamban laun akhirnya ketdak mampuan itu merupakan problem dualisme.

Dualismenya itu adalah…renaisance yang subjektifsme infustri lalu lama kelamaan karena orang juga tidak bisa membedakan anatara sains dan agama, antara manusia dan tuhan, alam dengan manusia, manusia cenderung yang seperti itu tidak perlu kita pikrkan. Jadi saya pikir sumbangan yang bisa kita pkirkan adalah bagaimanan kita menjelaskan hubungan yang alamiah. Oleh karena itu terakhir kenapa kita disini ada hubungan rasionality saya pkir rasonaltas adalah ruh, karena saya juga ingin mengingatkan kita kepada para saintis kita kehilangan tapi juga … ini jug asebuah anomali atau sains tapi tdak beda pemahaman, penguasaan sains tapi tidak pada skill yang mendalam, mengapa demikan ini juga menjadi kajian tersendiri. Terima kasih Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pembicara: Osman Bakar

Terimakasih kepada teman teman atas komentarnya masing-masing, saya kira saya ada beberapa kebanyakannya berupa uraian lebh lanjut akepada apa yang sudah saya jelaskan, tatap dari apa yang rekan-rekan ungkapkan. Ada beberapa isu yang perlu saya angkat, merujuk kepada bapak mulyadi. Saya pikir yang saya ingin sentuh dsni tentang pertanyaan belau baik yanbg konteks sekarang ini kta sudah tahu masalahnya, problemnya. Tetapi dari sini apa yang harud kta lalkukan, beliau telah menimbulajan isu islamisasi ilmu. Jadi, menguak sedikit penjelasan tapi saya secara prbadi yakin dengan kewajaran konsep islamsasi ilmu adalah suatu pendekatan masalah yang kta hadapi masalah islamisas ilmu. Jadi saya akan memberi visi-misi ilmu ini sebagai untuk mengintegrasikan atau pun untuk menselaraskan ilmu-ilmu yang ada sekarang di selaraskan dengan ajaran islam dimana dan intisari artinya adalah ilmu tauhid. Ilmu tauhid itu sebgai intisari lmu dalam islam sama ada sesuatu cabang ilmu patut atau tidak diislamisasikan. Jadi, islamisasi ilmu ini ada peringkat. Peringkat pertama itu adalah disiplin, lmiah.

Jadi disinikta merujuk pada matematk sebagai satu sains, kima sebgai satu sains, antropolog sebagai satu sains, ekonomi sebagai satu sains malah metafisik juga sebagai satu sains. Dan dibanyak tempat saya menjelaskan mengapa wajar slamisasi ilmu itu ada pada pringkat displin ilmu ini. Karena pada disiplin, pada setiap akademik sains mempunyai struktur yang sama yatu memlk objek sains yang disebut maudhu’ dan unsur kedua ada sains yang tersendiri ada andaian satu pengandaan yang benar di daklam konteks sains tersbut. Kemudan unsur ketiga ada metodologi kemudian bagaimana objek itu dapat dkaji. Kalau merujuk pada ilmu kosmologi kalau sudah djelaskan maudhu’nya jad dalam …masih ada problem, masih ada batasan. ..maudu’ ilmu pskologi ialah perilaku manusia. Mundur yang lain aspek kogntf ini merupakan objek ilmu pskologi ada pula ketiaga yang mengatakan keduanya itu merupakanobjek yang legitemit untuk skologi. Maksud saya bagaimana cara untuk mengkaji objek kajian setelah objek itu dkenal pasti. Yang keempatnya rak yatu tujuan sians apa tujuan yang hendak dicapai oleh sesuatu sains itu, tujuan yang hendak dcapai tu tdak sama. Jadi dari keempat unsur itu yang palng perlu itu merujuk pada prem itu. Tapi banyak isu sains yangmendatangkan kesultan, kalau jkajan sains itu tentang manusia dia.., andaian kita tu banyak bergantung pada siapa itumanusia, jadi banyak andaian. Jadi andaan yang ada pada sains ini dapat diteriama. Tetapi harus kita lihat pakah itu bisa dterima atau tidak tentuny adengan metologi, disitu kita bisa kaji. Yang ketganya tentang tujuan karena falsafah konsep kebergunaan itu turut mepengaruhi tetapi kita tidak hanya terpaku pada disiplin ilmu tapi juga pada prngkat organisasi.

Bagaimana organsasi tu untuk kepewntingan masyarakat, itu ada falsafahnya tersenri, lain masyarakat lan sistemnya jad setiap masyarakat ada falsafahnya masing-masing, prioritas yang kita beri kepada masyarakat itu pentng. Kita perlu memperhatikan sistem pendidikan, pendidikan seharusnya memilik sebuah falsafah untuk mendapatkan ilmu itu dapat disampaikan kepada generasi berkutnya.apakah ada konsep ilmu yang pad asetiap wakktu, pada setiap masa, paada setiap dekade. Ataupun semua lmu senantiasa berubah dari har-kehari berubah, dari dekade-kedejade berubah itu yang menjawab berbeda itu tergantung pada falsafah kita. Oleh karenanya manusia memliki kebutuhan yang menetap, yang tidak berubah. Seharusnya bagaimana kita mengharminiskan atau mungkin ilmu yanmg berubah menurut ajaran itu berpulang pad akebijakan kita tetapi kalau kita ada jawaban yang lebih kluas tentang keseluruhan ilmu bukan sekedar cabang ilmu. Karena itu melputi seluruh cabang ilmu itu akan lebh baik. Jadi islamsasi itu itdak penting tapi yang pentng adalah memaham islamisasinya itu, yang terpenting juga yaitu usaha islamisasi lmu tu sendiri. Kemudan dalam mengislamisaskan lmu itu ada dua tahap pertama adalah islamisasi dalam pengertian yang universal dan slamsasi dalam pengertian yang terbatas pada umat islam, sebab yang saya paham tentang islamisasi universal in bukan hanya terfokus pada unmat islam tapi juga orang yang bukan islam, peduli pada umat-umat lain selain umat islam yang unk bagi umat islam yaitu bahwa umat slam memiliki syar’at ilahiah yang berbeda dengan syari’at-syari’at sebelumnya, Itu umumnya dan islamisasi secara khususnya.

Sebab ada hubungan terkait antara syari’at dan aplikasi ilmu, tapi yang universal ini semacam kosmologi misalnya, saya pikir mungkin kita akan menimbulkan kosmologi universal tetap yang dapat diterima oleh orang yahudi orang krsten orang kudis, itulah yang terjadi di andalus ketika dulu. Sebenarnya tiu kosmologinya yang datang dar arl-qur’an tetapi itu dapat diterma oleh saintis yahudi, saintis keriten maksudnya dari segi kosmologinya itu mereka meneriama kepercayaan kosmologi islam. walaupun pada peringkat pengamanan agama, mereka perg ke gereja mereka pergi ke sisangkoktetapi merek amenerma intelektualnya pa yang dlakukan oleh islam. Tapi sekarang ini lain banyak umat slam meneriama gambaran wajah kosmologi yang dilukis oleh sains modern tetapi mash saja merek aberpuasa, mereka masih sholat tetapai mereka dari segi intelektualnya berbeda dari yang lain. Baklah bapak Nirwan demkanlah isu penting yang belau smpulkan saya cukup berutang budi dan memberikan waktu kepada saya untuk menerangkan bahwa sans itu suatu isu untuk tahu diri.

Yang beliau simpulkan yaitu isu wajah sains, apakah ada satu wajah sains atau ada banyak? Melihat wajah sains itu dari dalam atau dari luar bapak Mulyadi mengatakan tadi wajah sans itu yang dilihat dari dua alam wajah sains, sains tu dilihat dar pada di dalam sains itu sendiri bukan hanya ada satu wajah tapi ada banyak wajah. Karena dilihat dari wajah sains modern ini ada banyak dalam kelompok itu, walaupun bagaimana itu saya sepakat dengan itu, ada satu wajar resmi tetapi itu harus hati-hati dengan wajah resmi itu, jadi disains modern itu ada wajah resmi. Dan itu disebut wajah resmi, pernah ada satu diktator negara itu Jadi bagaimana kita melihat wajah resmi itu senyumnya harus tertentu, caranya harus tertentu dan wajah itu ditatap tertentu. Itu terbentang digerbang-gerbang yang besar tu dan 30 tahun yang lalu waktu muda. Dalam sains pun terdapat wajah resmi dan ini dicoba dijelaskan dalam buku-buku sains misalnya, supaya semua bisa terima wajah sains modern. Metologi sains disitu membuat penerapan membuat pencerapan, membuat ekperimen uji kaji kemudian ada interpretasi kemudian membuat teori, tetapi bukan begitu tentang cara sains berkembang, proses sains tumbuh dan berkembang itu hanya efek dari wajah sains. Tadi dikatakan pa Nirwan tentang sains itu bukan dikatakan metodologi sains, malah bagi sains itu faktor estetika itu suatu yang bisa diangkat what s beuty itu seperti apa. Ini sngat menark sebab ilmu itu menuju pada kebenaran,pada kekuata dan juga merujuk pada keindahan. Jadi, keindahan satu motif untuk kita mendapatkan ilmu.

Yang penting disni adalah zaman islam pada masa lalu sudah beres bagaimana mereka menyelesaikan wajah-wajah sains, memang sains ini boleh dlihat dari sudut yang berbeda tapi bagaiman kita melihata sans secara keseluruhan itu yang belum sampai sekarang belum terlaksana pada zaman modern. Kalau kita mau menyatukan unsur yang banyak kita dapat perlukan unsur yang ada di dalam itu, kit abisa mencari unsur yang transende terhadapunsur yang ada itu. Jadi misalnya kitamenyatukan unsur-unsur sains yang ada itu mesti ada unsur kosmologi sebagai alat penyatunya, kemudian apakah kita sudah ada kosmologi sains tersebut. Prinsip tauhin itu merupakan jawaban islam bagaimana seluruh ilmu pengetahuan harus dilihat dan diintegrasikan dapat digabungkan. Jawaban sudah ada yang perlu kita pahami adalah jawaban itu sendiri bagi saya bukan sebagai pencari jawaban tapi bagaimana kita mampu memahami mengartikan arti dar kandungan tersebut. Prinsip itu suatu yang harus diketahui dari bidang ilmu pengetahuan. Disini kebijakan dari konsep hirarki ilmu itu kalau kita akan menyatukan beberapa cabang ilmu, kita mesti pergi keilmu yang lebih tinggi sebab yang lebih tinggi itu lebih luas pemandangannya. Ibarat kita kalau sedang berada di bukit atau di gunung pemandangannya pun akanlebih luas dan jelas. Terakhir dari bapak husen beliau meningangkat isu dari bidang kosmopolitan.

SIDE B

Orang Yahudi, Majusi, Kristiani dan sebagainya yang hidup di bawah pemerintahan Islam. Kemudian orang Arab, Persi, Melayu jadi terdiri dari berbagai komponen etik ada di situ melakukan kebebasan. Tetapi pada tahap spiritual ada kekurangan. Artinya konsep global tidak sama dengan konsep universal. Orang yang melakukan pandangan itu akan menjadi lebih uninersal.

Islam sebagai agama dan budaya wajib memiliki saintific tersendiri agar menjadi dewasa dan mandiri. Karena itu dimungkinkan akan menjadi sebuah kemajuan dan perkembangan bagi kita dan mampu berhadapan dengan saintific Barat. Itulah yang dapat saya berikand an saya paparkan. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih. Assalamu’laikum Wr. Wb.

Moderator: Jubaidah

Demikianlah paparan dari para pembicara kita dan para pembanding kita pada hari ini dengan sebuah diskusi yang sagat menarik dengan tema Kultur Saintifik dan Rasionalitas Dalam Islam. Selanjutnya kami undang semua untuk pertanyaan, bag dia yang mau bertanya kami persilahkan dengan senang hati. Kami silahkan kepadanya yang ingin bertanya.

Penanya I:

Nama saya Ruhud. Saya secara pribadi sangat tertarik sekali dengan konsep model sains yang diajukan para pembicara tadi. Permasalahan kita sekarang ini adalah bahwa kita sangat sulit sekali mencari bahasa yang universal dan lebih mengena. Ketidak mungkinan kita mencari bahasa yang universal dalam menggunakan bahasa sain sangat jelas menyulitkan kita. Pertanyaan saya selanjutnya mungkinkah model sain yang diajukan para pembicara tadi mampu menandingai keagungan dan kebesaran sain modern yang diusung Barat, menimbang semua negara, pemikir dan semuanya telah terkontaminasi oleh sain Barat itu. Sehingga definisi objektifitas sain Barat pun terkadang kita akui dan kita sepakati. Mereka menolak wilayah metafisik sebagai bahan kajiannya.

Penanya II:

Nama saya Srimulyani. Dari diskusi tadi saya tertarik sekali dengan apa yang dibahas mengenai sain Islam itu, hal itu untuk membedakan antara sain Barat dan sain Islam. Permasalahannya ketika sain harus berhadapan dengan agama apa yang harus dilakukan oleh para saintis? Dan yang kedua adalah bahwa upaya pengembangan sains yang ilmiah kita selalu menjorok kepada peradaban Barat. Ada orang yang mengatakan bahwa munculnya peradaban Barat dan secara langsung menandingi sain Islam, lalu bagaimana kita menghadapinya?

Penanya III:

Pertanyan saya simple sekali. Kenapa harus sains Islam padahal dalam kenyataannya kedua-duanya harus berkembang sama dan bersaing?

Moderator: Jubaidah

Terima kasih atas pertanyaanya semua. Mungkin langsung akan di jawab oleh para pembicara kita.

Mulyadi Kartanegara

Perlu kita ketahui oleh kita semua. Bagaimana persoalan kita melihat alam semesta ini yang sangat luas dan tak terhingga ini. Mungkin bagi orang awam alam semesta ini hanya terdiri dari benda-benda, dan ada juga ilmuan yang mengatakan bahw alam semest ini terdiri dari pikiran. Karena apa, karena alam ini terdiri dari waktu yang terus-menerus berputar dan menjadi peristiwa. Jadi solusinya bahwa kita tidak usah mempertentangkan antara akal, hati dan pikiran kita. Kita harus menyatukan itu semua. Karena warisan dari para cendikiawan muslim abad pertengahan selalu mempertemukan antara akal dan hati atau akal dan wahyu.

Bagi cendikiawan lain dalam memandang alam semesta. Iqbal misalnya mengatakan bahwa alam semsta ini terdiri dari ego-ego yang ada di mana-mana. Jadi inilh sebenarnya cara mereka melihat alam semesta ini yang amat luas dan tak terhingga ini. Sebagai contoh saja bahwa kita harus mengetahui bahwa cinta, dendam dan sebagainya itu sama tidak ada yang beda. Yang membedakannya tu adalah cara pandang kita yang berbeda.

Kemudian bahwa agama kita, Islam sejak dari dulu megajarkan umatnya untuk mencari ilmu bahkan sampai negeri Cina sekalipun. Masalahnya adalah mampukah manusia mencapai kebenaran? Saya kira kita semua tidak mungkin mencapai kebenaran yang mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah semata. Kalau kita lihat berbagai pandangan yang dilahirkan oleh masing-maising kita pasti semuanya tidak sama, semuany pansti berbeda dan berlainan.

Kemudian menyangkut ilmu psikologi Barat. Saya kira di sana ada ketimpangan dan ketidak konsistenan dalam menggunakan ilmu tersebut. Kalau defenisi mereka terhadpa ilmu psikologi bahwa ilmu psikologi adalah ilmu tentang jiwa dan tubuh lalu kenapa mereka hanya mengkaji yang fenomena saja, tubuh sebagi bentuk yng terlihat. Jiwa sebagai bagian dari organ yang dimiliki oleh manusi tidak di kaji. Saya kira disinilah kelemahan mereka dalam memandang ilmu psikologi.

Kemudian yang terakhir. Secara pribadi saya akan menerima apa saja yang baik bagi perkembangan Islam, baik dari Syi’ah, Khawarij, Sunni dan lain sebagainya, saya akan terim aitu selama itu baik. Karena apa karena kalau ada kelompok dari aliran itu menyumbang lebih besar bagi perkemabangan Islam kita harus ambil. Baik itu dari Sunni, Syiah dan sebagainya. Yang kita harapkan bahwa sebaiknya semua orang muslim menyuimbang untuk kepentingan Islam sendiri. Terimaksih.

Nirwan Ahmad Arsuka

Saya kira beberapa ilmuan dan filosof semuanya tahu bahwa setiap pembicaraan mengenai Tuhan tidak bisa dilakukan oleh rasio atau kognisi, karena memiliki keterbatasan jangkauan dalam mengetahui Zat yang serba sempurna itu. Maka daripada itu sebagai medium yang terbatas ini marilah kita mawas diri dan tahu diri dalam menggunakan akal tersebut. Secara jujur ia hanya bisa mengetahui wilayah emperis saja, adapun yang metafisis itu tidak dapat dilakukanoleh akal.

Lain halnya dengan para ilmuan dan filosof Barat yang tidak lagi mengakui Tuhan sebagai ciptaanya, mereka angkuh dan sombong sehingga akal mereka jadikan sebagai pengganti bgi kekuatan Tuhan itu. Karena akal bagi mereka adalah segala-galanya dalam mengetahui sesuatu. Kekuatan akan yang ada batasnya ini sebetulnya membuktikan ada kkuatan yang lebih di luar itu. Akan tetapi mereka tak tahu diri.

Salah satu yang bagus dalam sejarah sastra dan filsafat transendental. Bahwa Ibn ‘Arabi meskipun dia mengusung teori wihaat al-wujudnya, tetapi dia juga secara terang-terangan dan secara jelas mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan sebagai pencipta-Nya. Mengenai Islamisasi sain saya kira hal ini banyak digandrungi dan diminati para intelektual muslim seperti yang dilakukan dibelahan negara-negara arab dan sebagainya. Sebuah teori sesuatu dan dia bisa menjelaskan dan memprediksikan sesuatu itu kenapa kita tidak meyakininya. Namun masalahnya kita terlalu mencari legetimasi dari tauhid yang kita yakini ataupun dari syari’ah. Kita selalu mencari-cari dan mencocok-cocokan ayat-demi ayat dan setrusnya sehingga kita meyakini bahwa teori ini dan itu telah mendapat legalisasinya dari ajaran Islam. Ini sebetulnya yang kita sayangkan. Tetapi kita juga harus tahu bahwa ada yang kurang dari metodelogi sains ini. Belum apa-apa kita sudah mengklaim bahwa ini adalah sains Islam dan itu bukan sains Islam.

Moderator: Jubaidah

Langsung saj akita persilahkan kepada bapak Husein Heryanto untuk menjawab pertanyan-pertanyan yang telah disebutkan.

Husein Heryanto:

Memang ada kecenderungan resonansi mukhtahir taupun kecenderungan mistik. Karena kerinduan orang akan kesatuan alam. Teori of critic itu adalah bentuk lain dari kerinduan manusia akan alam untuk memahami status dalam sebuah kesatuan. Dan ini terjait juga dengan pandangan tasauf. Apalagi banyak saintis Islam menoleh ke tasauf. Tapi kita juga perlu ingat bahwa problemnya adalah problem kejelasan. Karena bahasa yang digunakan Ibn ‘Arabi tentu tidak sama dengan bahasa sains. Itu problem languagenya. Salah satu jalan keluar menurut saya kita cari modus pemikiran filsafat yang bisa menjembatani kedua kalangan rasio empiris dan kalangan rasio.

Dan kita juga tahu bahw tasauf Ibn ‘Arabi ini adalah tasauf filosofi, bukan tasauf seperti al-Ghazali. Jadi tasaufnya Ibn ‘Arabi itu sebenarnya bisa diimbangai secara filosofi dan itu sebenarnya yang dikerjakan oleh Mulla Sadra. Mulla Sadra adalah filosof pertama yang mencoba mengangkat jenis-jenis pikiran, semisal intuisi dalam tasauf Ibn ‘Arabi. Dan dalam filsafat itu bisa didemonstrasikan. Ndan menurut hemat saya pemikiran Mulla Sadra itu lebih realistis. Akan tetapi beda sekali dengan paha Wahdat al-Wujudnya dengan Ibn ‘Arabi.

Jadi kalau dalam konsep Wahdat al-Wujudnya Ibn ‘Arabi hampir menafikan alam semesta dan mengagapnya hanya sebagai bayangan. Tetapi dalam Mulla Sadra dia mengakui kenyataan tapi dalam tataran yang lebih rendah. Karena eksistensi adalah bentuk filosofis dari Wahdat al-Wujud itu. Jadi kalau kita mau memahami Mulla Sadra kita juga harus mamahami Ibn ‘Arabi. Tetapi kita juga harus memiliki kemampuan analitis yang baik dalam melakukan pembedaan-pembedaan.

Kemudian pertanyan yang ketiga. Tadi kan saya sudah bilang bahwa proplem manusia modern itu adalah problem spiritual. Padahal itu meruupakan problem hubungan. Manusia jauh dari Tuhan kan merupakan problem hubungan. Maka dari itu spiritualitas yang harus kita kembangkan adalah spiritualitas yang holistik yang mencakup semua hal. Betapapun pengalaman intuitif itu memang termasuk atau bisa disebut sebagi ilmu huduri. Itu tidak bisa dibahasakan. Akan tetapi konsep-konsep tentang itu bisa dibahasakan.

Jadi ada dua jenis pengetahuan, pengetahuan husuli dan pengetahuan huduri. Tetapi di sini saya tidak mau menjelaskan lebih lanjut. Bahwa filsafat Mulla Sadra itu bisa mengartikulasi keingnan manusia untuk tetap mengingat, tidak berbahasa, tetapi ada juga manusia yang ingin tetap berbahasa. Mungkin inilah yang dapat saya jawab. Terimakasih.

Osman Bakar

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada para penyanya. Pertama tadi menyentuh nama Ibn ‘Arabi tetapi sudah dijawab oleh pak Mulyadi. Akan tetapi saya hanya ingin menambahkan saja. Ibn ‘Arabi adalah filosof sains nomor satu yang merupakan topik perbincangan kita di sini. Merujuk kepada pertanyaan tadi bahwa matematika itu merujuk pada bahasa itu memang betul. Seperti yang saya katakan tadi bahwa alam semsta ini diterima sebagai sebuah buku atau kitab. Jadi kitab ini ditulis dalam bahasa apa? Menurut para filosof Islam dan segolongan filosof Barat bahwa bahasa alam semsta itu adalah bahasa matematika. Jadi alam semsta itu ditulis dalam bahasa matematik.

Itulah yang diyakini sains misalnya bahwa pada kenyataan ini buku alam ini ditulis dalam bahasa matematik. Bahasa matematika itu selain bagus dia juga sangat simpel daa praktis. Jadi sebenarnya ini dikatikan dengan pendapat Ibn ‘Arabi. Saya bertitik tolak bahwasannya Tuhan mempunyai banyak nama. Dia yang mengetahui, melihat, maha besar, agung perkasa kasih, pemurah dan seterusnya. Dan nama-nama ini dimanifestasikan pada alam ini. Jadi semuanya nampak dalam nama-nama Tuhan. Karena memang sebetulnya alam ini merupakan cermin dari diri Tuhan. Maksdunya nama-nama Tuhan ini cermin pada alam ini.

Jadi matematik itu bisa mengetahuai keberadaaan Tuhan. Ada teman saya namanya al-Mushawir. Jadi sampai dimanakah kita meneliti alam ini dengan pengetahuan matematik. Dan sesungguhnyha alam ini merupakan buku cahaya/alam cahaya. Allah merupakan cahaya dari cahaya. Ini merupakan mencerminkan sains modern. Jadi semuanya itu adalah cahaya. Diri ini merupakan cahaya. Ini merupakan ilmu ketuhanan menurut Ibn ‘Arabi. Jadi ibn ‘Arabi pencetus teori bagaimana kita bersatu dengan Tuhan.

Kemudian pertanyaan yang kedua soal kenapa Barat maju karena meninggalkan agamanya smentara Islam mundur karena memeluk agamanya. Kita itu mundur karena kita tidak memahami ajaran agama kita dan juga kita tidak mempraktekan ajaran-ajarannya. Saya kurang setuju kalau Barat itu maju karena meninggalkan agamanya. Meninggalkan agama selaku agama atau meninggalkan bebarapa ajaran agama saja. Sebab dalam banyak hal orang Barat mengamalkan ajaran agama yang dianjurkan oleh Islam. Jadi sebenarnya mereka tidak meninggalkan ajaran agama walaupun mereka bukan muslim. Tetapi mereka mengamalkan ajaran al-Qur’an. Kenapa mereka maju. Misalnya karena kegigihan, kerajianan dan keteguhan mereka dan mereka menjalankan tuntunan al-Qur’an itu.

Adapun mereka tidak beriman dan tidak beragama itukan soal lain, tetapi secara faktanya mereka menjalankan apa yang telah diajarkan oleh ajaran Islam. Jadui menurut saya Barat hanya meninggalkan ajaran agama Kristen saja, tetapi mereka melakukan apa yang diajarkan oleh agama Islam. Sehingga ada yang mengatakan bahwa apa yang Barat capai dengan kemajuan ilmu dan tekhnologi dan sebagainya karena mereka mengamalkan ajaran Islam. Akan tetapi kita juga harus mengingat bahwa kemajuan orang Barat itu adalah kemajuan yang tidak seimbang. Mereka maju kita harus akui, mereka maju dalam segi material saja, saintifik, ilmu-ilmu yang detail dan terperinci.

Akan tetapi apa yang membuat mereka tidak maju? Yaitu dalam ilmu-ilmu kemasyarakatan dan kemanuian. Skarang bagaimana ilmu tekhnologi, sain pengetahuan dan lain sebagaianya itu memberiukan kebaikand an kemaslahatan bagi orang banyak. Dan itu ada yang percaya dan sebagaian yang lain tidak percaya terhadapa hal itu. Amerika Serikat beriman kepada tekhnologi sebagai penyelesai masalah masyarakat bukan kepada agama, tetapi mereka cenderung merujuk kepada tekhnologi. Itulah bentuk keimanan mereka yng mereka yakini kebenarannya. Bagi penganut kebendaan (materlisme) tidak berlaku katesropi tekhnologi itu merupakan tamparan yang sangat hebat. Jadi sekarang iniBarat sedang mencari-cari teknologi macam apa untuk memajukan amsyarakatnya. Yaitu bagaimana mereka bisa memajukan masyarakat. Mereka merumuskan semua problem untuk menyelesaikan problem itu. Akan tetapi perumusan itu tidak menyelesaikan problem-problem dunia. Akan tetapi mereka menimbulkan problem baru yang sanagat menyulitkan kembali masyarakata dunia.

Itulah saya pikir sebagai problem dunia saat ini. Karena ilmu kemanusiaan itu tidak ada untuk mengawal tingkah laku manusia. Semestinya sains itu harus memecahkan masalah. Damn kita harus mengetahui bahwa sains modern itu berasal dari sains Islam. Sains modern itu berada karena sains Islam. Tanpa keberadaaan sains Islam maka sains Barat pun akan tidak ada. Perlu kita ketahui bahwa sains Islam itu modern sebelum wujudnya modern itu ada. Karena apa? Karena sains Islam itu modern menggunkan metode emperisme, eksperimen dan lain sebagainya. Artinya bahwa sains Islam itu yang melhirkan sains Barat seperti sekarang ini. Kita harus melihat prinsip-prinsip ilmiah yang terdapat pada sains Islam. Artinya walaupun ada berbedaannya kita harus merujuk kepada asalnya.

Perbedaan anatar Sunni dan Syi’ah itu lebih kecil, tetapi sekarang ini lebih besar. Karea kebanyakan dari kita hanya melihat perbedaanya saja bukan persamaanya. Kalau kita mau melihat perbedaannya kita harus bersikap bijak dan arif. Maka dari itu bagaimana kita mencari persamaan nya untuk menghindari banyaknya perbedaan ini yang sekarang terjadi dimana-mana. Walaupun terdapat sekte-sekte seprti Syi’ah, Sunni dan yang lainnya, mereka itu membangaun sains bukan karena untuk kepentingan golongan mereka akan tetapi untuk kepentingan sains Islam itu sendiri. Sebagai kesimpulan kita adalah bagaimana kita mengambil universalitasnya. Universalitas itu lebih penting dari paada aspek-aspek yang memisahkan. Terimakasih dari saya. Asslamu’alaikum Wr. Wb

Moderator: Jubaidah

Terimakasih kita ucapkan kepada Prof Osman bakar. Sebagai kesimpulan dari pembicaraan kita hari ini adalah bagaimana kita membangun kembali tradisi Islam yang pernah kita capai pada abad pertngahan. Selnajutnya adalah pemberian kenang-kenagan kepada Prof. Osman bakar yang akan diberikan oleh bpak Husein Heryanto sebagi Deputy Rektor ICIS. Terimakasih kita ucapkan kepada Prof. Osman Bakar yang telah memberikan seminarnya dan juga terimaaksih kepada para pembicara yang lainnya. Selanjutnya kami persilahkan kepada semuanya untuk mengambil makan siang yang telah disediakan oleh panitia. Sebagai Moderator saya ucapkan terimakasih dan yang terakhir Assalamu’laikum Wr. Wb.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: