Kapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi

July 16, 2008 at 4:29 am | Posted in Artikel: Wawasan | 1 Comment

Kapitalisme: Sebuah Modus Eksistensi*

Oleh: Husain Heriyanto

PENGANTAR

Saat ini tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya Perang Dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas. Kritik-kritik yang ditujukan terhadap kapitalisme justru bermuara kepada terkooptasinya kritik-kritik tersebut untuk lebih mengukuhkan kapitalisme.

Muncul pertanyaan lain, ke arah mana peradaban manusia akan dibawa oleh kapitalisme. Apakah gerangan yang menyebabkan ideologi ini tetap bertahan, dan bahkan, kian mendominasi dunia? Apakah hegemoni kapitalisme ini merupakan akhir sejarah umat manusia atau sebagai satu-satunya alternatif yang mesti diterima sebagaimana yang diperkirakan oleh Francis Fukuyama dalam The End of History? Masih berpeluangkah proyek emansipasi manusia dari dominasi kapital dan fetisisme komditas?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, diperlukan pemahaman yang tepat mengenai pengertian hakiki apa itu sesungguhnya kapitalisme.

I. PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN KAPITALISME

I.1. Pengertian Kapitalisme

Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya (Bagus, 1996). Ebenstein (1990) menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian. Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi.

Menurut Ayn Rand (1970), kapitalisme adalah “a social system based on the recognition of individual rights, including property rights, in which all property is privately owned”. (Suatu sistem sosial yang berbasiskan pada pengakuan atas hak-hak individu, termasuk hak milik di mana semua pemilikan adalah milik privat).

Heilbroner (1991) secara dinamis menyebut kapitalisme sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Logika formasi sosial yang dimaksud mengacu pada gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan dalam proses-proses kehidupan dan konfigurasi-konfigurasi kelembagaan dari suatu masyarakat. Istilah “formasi sosial” yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh Jurgen Habermas. Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebut kapitalisme sebagai salah satu empat formasi sosial (primitif, tradisional, kapitalisme, post-kapitalisme).

I.2. Sejarah Perkembangan Kapitalisme

Robert E. Lerner dalam Western Civilization (1988) menyebutkan bahwa revolusi komersial dan industri pada dunia modern awal dipengaruhi oleh asumsi-asumsi kapitalisme dan merkantilisme. Direduksi kepada pengertian yang sederhana, kapitalisme adalah sebuah sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di mana kekayaan yang terakumulasi diinvestasikan kembali oleh pemilik pribadi untuk memperoleh keuntungan. Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-batas lokal menuju skala nasional dan internasional. Pengusaha kapitalis mempelajari pola-pola perdagangan internasional, di mana pasar berada dan bagamana memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka. Penjelasan Robert Learner ini paralel dengan tudingan Karl Marx bahwa imperialisme adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme.

Sistem kapitalisme, menurut Ebenstein (1990), mulai berkembang di Inggris pada abad 18 M dan kemudian menyebar luas ke kawasan Eropa Barat laut dan Amerika Utara. Risalah terkenal Adam Smith, yaitu The Wealth of Nations (1776), diakui sebagai tonggak utama kapitalisme klasik yang mengekspresikan gagasan “laissez faire”1) dalam ekonomi. Bertentangan sekali dengan merkantilisme yaitu adanya intervensi pemerintah dalam urusan negara. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan negara (Robert Lerner, 1988).

Awal abad 20 kapitalisme harus menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang anti-monopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan. Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan meningkatnya tanggungjawab pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan ekonomi merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme. Transformasi ini, menurut Ebenstein, dilakukan agar kapitalisme dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Lahirlah konsep negara kemakmuran (welfare state) yang oleh Ebenstein disebut sebagai “perekonomian campuran” (mixed economy) yang mengkombinasikan inisiatif dan milik swasta dengan tanggungjawab negara untuk kemakmuran sosial.

Habermas memandang transformasi itu sebagai peralihan dari kapitalisme liberal kepada kapitalisme lanjut (late capitalism. organized capitalism, advanced capitalism). Dalam Legitimation Crisis (1988), Habermas menyebutkan bahwa state regulated capitalism (nama lain kapitalisme lanjut) mengacu kepada dua fenomena: (a) terjadinya proses konsentrasi ekonomi seperti korporasi-korporasi nasional dan internasional yang menciptakan struktur pasar oligopolistik, dan (b) intervensi negara dalam pasar. Untuk melegitimasi intervensi negara yang secara esensial kontradiktif dengan kapitalisme liberal, maka menurut Habermas, dilakukan repolitisasi massa, sebagai kebalikan dari depolitisasi massa dalam masyarakat kapitalis liberal. Upaya ini terwujud dalam sistem demokrasi formal.

II. PRINSIP-PRINSIP DASAR KAPITALISME

II.1. Tiga Asumsi Kapitalisme Menurut Ayn Rand

Ayn Rand dalam Capitalism (1970) menyebutkan tiga asumsi dasar kapitalisme, yaitu: (a) kebebasan individu, (b) kepentingan diri (selfishness), dan (c) pasar bebas.

Menurut Rand, kebebasan individu merupakan tiang pokok kapitalisme, karena dengan pengakuan hak alami tersebut individu bebas berpikir, berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada gilirannya, pengakuan institusi hak individu memungkinkan individu untuk memenuhi kepentingan dirinya. Menurut Rand, manusia hidup pertama-tama untuk dirinya sendiri, bukan untuk kesejahteraan orang lain. Rand menolak keras kolektivisme, altruisme, mistisisme. Konsep dasar bebas Rand merupakan aplikasi sosial dan pandangan epistemologisnya yang natural mekanistik. Terpengaruh oleh gagasan “the invisible hand” dari Smith, pasar bebas dilihat oleh Rand sebagai proses yang senantiasa berkembang dan selalu menuntut yang terbaik atau paling rasional. Smith pernah berkata: “…free marker forces is allowed to balance equitably the distribution of wealth”. (Robert Lerner, 1988).

II.2. Akumulasi Kapital

Heilbroner (1991) menelaah secara mendalam pengertian hakiki dari kapital. Apa yang dimaksud dengan kapital sehingga dapat menjelaskan formasi sosial tempat kita hidup sekarang adalah kapitalisme? Heilbroner menolak memperlakukan kapital hanya dalam kategori hal-hal yang material berupa barang atau uang. Menurutnya, jika kapital hanya berupa barang-barang produksi atau uang yang diperlukan guna membeli material dan kerja, maka kapital akan sama tuanya dengan peradaban.

Menurut Heilbroner, kapital adalah faktor yang mnggerakkan suatu pross transformasi berlanjut atas kapital-sebagai-uang menjadi kapital-sebagai-komoditi, diikuti oleh suatu transformasi dari kapital-sebagai-komoditi menjadi kapital-sebagai uang yang bertambah. Inilah rumusan M-C-M yang diperkenalkan Marx.

Proses yang berulang dan ekspansif ini memang diarahkan untuk membuat barang-barang dan jasa-jasa dengan pengorganisasian niaga dan produksi. Eksistensi fisik benda dan jasa itu merupakan suatu rintangan yang harus diatasi dengan mengubah komoditi menjadi uang kembali. Bahkan kalau hal itu terjadi, bila sudah terjual, maka uang itu pada gilirannya tidak dianggap sebagai produk akhir dari pencarian tetapi hanya sebagai suatu tahap dalam lingkaran yang tak berakhir.

Karena itu, menurut Heilbroner, kapital bukanlah suatu benda material melainkan suatu proses yang memakai benda-benda material sebagai tahap-tahap dalam eksistensi dinamiknya yang berkelanjutnya. Kapital adalah suatu proses sosial, bukan proses fisik. Kapital memang mengambil bentuk fisik, tetapi maknanya hanya bisa dipahami jika kita memandang bahwa benda-benda material ini mewujudkan dan menyimbolkan suatu totalitas yang meluas.

Rumusan M-C-M (Money-Commodity-Money) yang diskemakan Marx atas metamorfosis yang berulang dan meluas yang dijalani kapital merupakan penemuan Marx terhadap esensi kapitalisme, yaitu akumulasi modal. Dalam pertukaran M-C-M tersebut uang bukan lagi alat tukar, tetapi sebagai komoditas itu sndiri dan menjadi tujuan pertukaran.

II.3. Dorongan Untuk Mengakumulasi Kapital (Heilbroner)

Analisis kapital sebagai suatu proses ekspansif seperti yang diuraikan di muka, ditelaah lebih dalam lagi oleh Heilbroner melalui pendekatan psikoanalisis, antropologis, dan sosiologis. Menurut Heilbroner, gagasan kapital sebagai suatu hubungan sosial menyingkapkan inti hubungan itu, yaitu dominasi. Hubungan dominasi memiliki dua kutub. Pertama, ketergantungan sosial kaum yang tak berpunya kepada pemilik kapital di mana tanpa ketergantungan itu kapital tidak memiliki pengaruh apa-apa. Kedua, dorongan tanpa henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital.

Heilbroner melontarkan pertanyaan: Apakah alasan pembenaran dari proses tanpa henti ini? Ia menyebutkan bahwa dorongan ini digerakkan oleh keinginan untuk prestise dan kemenonjolan (realisasi diri)2. Dalam bahasa Abraham Maslow, dorongan mengakumulasi kekayaan yang tidak puas-puas ini merupakan manifestasi aktualisasi diri. Namun, Heilbroner mengingatkan bahwa kebutuhan afektif ini hanyalah suatu kondisi yang perlu (necessary condition) namun belum menjadi syarat cukup (sufficient condition) untuk dorongan mengejar kekayaan. Lalu Heilbroner menemukan bahwa kekayaan memberikan pemiliknya kemampuan untuk mengarahkan dan memobilisasikan kegiatan-kegiatan masyarakat. Ini adalah kekuasaan. Kekayaan adalah suatu kategori sosial yang tidak terpisahkan dari kekuasaan.

Dengan demikian, hakekat kapitalisme menurut Heilbroner, adalah dorongan tiada henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital sebagai sublimasi dorongan bawah sadar manusia untuk merealisasi diri, mendominasi, berkuasa. Karena dorongan ini berakar pada jati diri manusia, maka kapitalisme lebih merupakan salah satu modus eksistensi manusia. Mungkin inilah sebabnya mengapa kapitalisme mampu bertahan dan malah menjadi hegemoni peradaban global.

III. TINJAUAN KRITIS

Tinjauan kritis ini dibuat dengan asumsi bahwa analisis sosial memiliki keterbatasan-keterbatasan skematisasi dinamika kehidupan sosial. Tinjauan tentang kekuatan dan kelemahan kapitalisme lebih merupakan hipotesa.

III.1. Kekuatan Kapitalisme

Unsur-unsur apa yang dikandung kapitalisme sehingga ia saat ini tetap tangguh? Terdapat beberapa kekuatan yang memungkinkan kapitalisme masih bertahan hingga kini melalui berbagai kritikan tajam dan rintangan.

Pertama, daya adaptasi dan transformasi kapitalisme yang sangat tinggi, sehingga ia mampu menyerap dan memodifikasi setiap kritik dan rintangan untuk memperkuat eksistensinya. Sebagai contoh, bagaimana ancaman pemberontakan kaum buruh yang diramalkan Marx tidak terwujud, karena di satu sisi, kaum buruh mengalami pembekuan kesadaran kritis (reifikasi), dan di lain sisi, kelas borjuasi kapital melalui negara memberikan “kebaikan hati” kepada kaum buruh dengan konsep “welfare state”. Pada gilirannya, kaum kapitalis memperoleh persetujuan (consent) untuk mendominasi masyarakat melalui apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni ekonomi, politik, budaya; atau seperti yang disebutkan Heilbroner bahwa rezim kapital memiliki kemampuan untuk memperoleh kepatuhan massa dengan memunculkan “patriotisme” ekonomik.

Kedua, berkaitan dengan yang pertama, tingginya kemampuan adaptasi kapitalisme dapat dilacak kepada waktu inheren pada hakekat kapitalisme, yaitu dorongan untuk berkuasa dan perwujudan diri melalui kekayaan. Atas dasar itulah diantaranya, maka Peter Berger dalam Revolusi Kapitalis (1990) berani bertaruh bahwa masa depan ekonomi dunia berada dalam genggaman kapitalisme.

Ketiga, kreativitas budaya kapitalisme dan kapasitasnya menyerap ide-ide serta toleransi terhadap berbagai pemikiran. Menurut Rand, kebebasan dan hak individu memberi ruang gerak manusia dalam berinovasi dan berkarya demi tercapainya keberlangsungan hidup dan kebahagiaan. Dengan dasar pemikiran ini, Bernard Murchland dalam Humanisme dan Kapitalisme (1992) dengan penuh keyakinan menaruh harapan bahwa kapitalisme demokratis adalah humanisme yang dapat menyelamatkan peradaban manusia di masa depan.

III.2. Kelemahan Kapitalisme

Mengacu kepada asumsi-asumsi dasar kapitalisme, klaim-klaim pendukung kapitalisme dan praktek kapitalisme, terdapat beberapa kelemahan mendasar kapitalisme.

Pertama, pandangan epistemologinya yang positivistik mekanistik. Positivisme yang memisahkan fakta dan nilai, bahkan hanya terpaku pada apa yang disebut fenomena fakta dan mengabaikan nilai, terbukti sudah ketidakmampuannya menjelaskan perkembangan sains modern dan kritikan dari fenomenologi hermeneutik (human sciences). Pola pikir positivistik hanya satu dimensi, yaitu dialektika positif, yang pada gilirannya mereduksi kemampuan refleksi kritis manusia untuk menari makna-makna tersembunyi di balik fenomena-fenomena. Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1991) berkata: “… Kapitalisme, yang didorng oleh teknologi, telah mengembang untuk mengisi semua ruang sosial kita; telah menjadi suatu semesta politis selain psikologis. Kekuasaan totalitarian ini mempertahankan hegemoninya dengan merampas fungsi kritisnya dari semua oposisi, yaitu kemampuannya berpikir negatif mengenai sistem, dan dengan memaksakan kebutuhan-kebutuhan palsu melalui iklan, kendali pasar, dan media. Maka, kebebasan itu sendiri menjadi alat dominasi, dan akal menyembunyikan sisi gelap irasionalitas…”

Kedua, berkaitan dengan yang pertama, asumsi antropologis yang dianut kapitalisme adalah pandangan reduksionis satu dimensi manusia yang berasal dari rasionalisme Aufklarung. Temuan alam bawa sadar psikoanalisis menunjukkan bahwa banyak perilaku manusia tidak didorong oleh kesadaran atau rasionalitas, melainkan oleh ketidaksadaran dan irasionalitas. Asumsi kapitalisme yang mengandaikan bahwa distribusi kekayaan akan terjadi dengan sendirinya bila masyarakat telah makmur (contoh: konsep trickle down effect) melupakan aspek irasionalitas manusia yang serakah dan keji. Dorongan yang tidak pernah puas menumpukkan kapital sebagai watak khas kapitalisme merupakan bentuk patologis megalomania dan narsisisme.

Ketiga, keserakahan mengakumulai kapital berakibat pada eksploitasi yang melampau batas terhadap alam dan sesama manusia, yang pada gilirannya masing-masing menimbulkan krisis ekonologis dan dehumanisasi. Habermas (1988) menyebutkan kapitalisme lanjut menimbulkan ketidakseimbangan ekologis, ketidakseimbangan antropologis (gangguan sistem personaliti), dan ketidakseimbangan internasional.

Keempat, problem moral. Bernard Murchland (1992), seorang pembela gigih kapitalisme, mengakui bahwa masalah yang paling serius yang dihadapi kapitalisme demokratis adalah pengikisan basis moral. Ia lalu menoleh ke negara-negara Timur yang kaya dengan komponen moral kultural. Atas dasar problem etis inilah, maka Mangunwijaya (1998) dengan lantang berkata: “… ternyatalah, bahwa sistem liberal kapitalis, biar sudah direvisi, diadaptasi baru dan diperlunak sekalipun, dibolak-balik diargumentasi dengan fasih ilmiah seribu kepala botak, ternyata hanya dapat berfungsi dengan tumbal-tumbal sekian milyar rakyat dina lemah miskin di seluruh duia, termasuk dan teristimewa Indonesia….”

Kelima, implikasi dari praktek mengkomoditikan segenap ide-ide dan kegiatan-kegiatan sosial budaya, maka terjadilah krisis makna yang pada gilirannya menimbulkan krisis motivasi. Habermas (1988) mengatakan bahwa pada tataran sistem politik, krisis motivasii ni menimbulkan krisis legitimasi, atau menurut istilah Heilbroner (1991) dengan krisis intervensi.

IV. KESIMPULAN

Analisis Heilbroner di muka, jika dikembangkan lebih lanjut secara filosofis, akan membawa kita untuk berkesimpulan bahwa kapitalisme lebih daripada sekedar sistem ekonomi atau sistem sosial. Sebagai peradaban, kapitalisme dapat kita katakan sebagai suatu cara berada manusia, suatu modus eksistensi. Seorang kapitalis adalah orang yang melalui harta kekayaannya ia mewujudkan diri, menyingkap eksistensi diri. Ia mengaktualkan dirinya dengan dan untuk kapital. Dengan kapital, ia berharap memperoleh kekuasaan dan dominasi. Memiliki kapital berarti menguasai dunia. Sains, teknologi, seni, dan agama menjadi subordinasi dan pelayan atau pelegitimasi kapital. Itulah modus eksistensi kapitalisme.

Atas dasar pemikiran di atas, kita dapat memahami mengapa ideologi-ideologi seperti sosialisme, Marxisme, komunisme, humanisme, dan bahkan eksistensialisme-sekuler gagal menghadapi kapitalisme. Kaum sosialis telah gagal memahami kapitalisme sebagai modus eksistensi. Ini dimulai dari Karl Marx sendiri yang melihat kapital hanya sebagai “cara produksi” (modus produksi), konsep sentral yang digunakannya dalam Das Kapital. Akibatnya, banyak analiss dan ramalan Marx yang melenceng. Bahkan sosialisme akhirnya terkooptasi oleh kapitalisme. Konsep “welfare state” yang diterapkan di negara kapitalis adalah salah satu contoh upaya adaptasi kapitalisme merangkul semangat sosialisme ke dalam pangkuannya. Ideologi-ideologi sekuler dunia lainnya sekarang ini hanyalah ibarat anak-anak kapitalisme atau subordinasi kapitalisme global, kapitalisme konsumeris.

Kaum Mazhab Frankfurt sebagai pewaris semangat kritisi sosial Marx yang pada mulanya mencanangkan proyek pembebasan masyarakat dari hegemoni kapitalisme akhirnya juga jatuh kepada pesimisme. Mereka seakan-akan tidak melihat lagi adanya peluang untuk menciptakan dunia alternatif selain dunia ciptaan kapital. Mereka menganggap manusia modern telah kehilangan rasionalitas dan kesadaran kritis. Kini mereka seakan tak mampu lagi bersuara lantang menentang kapitalisme sebagaimana pendahulu mereka, katakanlah misalnya Herbert Marcuse yang menulis One Dimensional Man. Para pendukung teori kritis inipun seakan tidak bereaksi ketika Perter Berger, seorang pembela kapitalisme, dengan arogan mengatakan sosialisme adalah mitos, sedang kapitalisme adalah masa depan manusia.

Sementara itu, analisis Max Weber yang mengaitkan perkembangan kapitalisme dengan etos kerja Protestan kini juga bermuara kepada proses sekulerisasi yang tidak diperkirakan sebelumnya. Pada mulanya, motif religius menggerakkan orang untuk kerja keras, tekun, efisien, dan berprestasi karena perolehan kesuksusan duniawi diartikan sebagai tanda keselamatan ilahi. Namun, proses sekulerisasi terjadi sedemikian rupa sehingga Tuhan dan akhirat perlahan-lahan hilang dari kesadaran manusia. Aktivitas duniawi sama sekali tidak lagi digerakkan oleh motivasi agama, namun semata-mata oleh motif materialistik. Berger menyebutkan Protestanisme sebagai manifestasi yang paling sempurna dari proses dialektik di mana orientasi agama yang bersifat inner-worldly itu “menggali kubur” untuk dirinya sendiri.

Luar biasa memang pesona materi itu sehingga motivasi agama pun akhirnya juga terkooptasi oleh motivasi materialistik.

V. SARAN

Dengan menelaah secara tajam hakekat kapitalisme, kita dapat melihat kekuatan dan kelemahannya secara obyektif. Ini diperlukan agar proyek besar pembebasan manusia dari hegemoni kapitalisme – tentu saja yang berminat – dapat mengkonstruksi ideologi atau peradaban alternatif yang sungguh-sungguh antitesis kapitalisme secara mendasar, radikal dan menyeluruh.

Persoalannya, bagaimana kita merancang antitesis itu? Adakah modus eksistensi alternatif yang dapat menaklukkan kapitalisme menjadi sekedar metode atau manajemen bisnis? Perlukah lebih dahulu kita merombak secara revolusioner pandangan dunia (worldview) kita tentang antropologi, kosmologi, teologi?

Catatan:

* Makalah sesi kedua Short-Course kajian Ideologi, Peradaban dan Agama – HMI Cabang Depok dan FIKI-UI di PKTTI-UI Depok, 21 Des. 1999.

1) Istilah “Laissez Faire” berasal dari bahasa Perancis laissez faire la nature (let nature take its course); dapat diartikan sebagai sikap pembiaran kebebasan semaunya tanpa pengaturan dan kontrol.

2) Heilbroner mengutip pernyataan Adam Smith sendiri dalam Theory of Moral Sentiments (1976): “Orang kaya berbangga dalam kekayaan-kekayaan mereka, karena dia merasa bahwa kekayaan-kekayaan itu membuatnya diperhatikan dunia. Memikirkan hal ini membuat dia berbesar hati dan membuatnya makin mencintai kekayaannya.”

REFERENSI

  1. Bagus, L., Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996.
  2. Berger, P., Revolusi Kapitalis, (terjemahan), LP3ES, Jakarta 1990.
  3. Ebenstein, W., Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan), Erlangga, Jakarta, 1990.
  4. Habermas, J., Letigimation Crisis, Polity Press, Cambridge Oxford, 1988.
  5. Hayek, F.A., The Prinsiples of A Liberal Social Order, dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics, Oxford University Press, London, 1978.
  6. Heilbroner, R.L., Hakikat dan Logika Kapitalisme, (terjemahan), LP3ES, Jakarta, 1991.
  7. Lerner, R.E., Western Civilization, Volume 2, W.W. Norton & Company, Ney York-London, 1988.
  8. Mangunwijaya, Y.B., Mencari Landasan Sendiri, Esei Pada Harian Kompas 1 September 1998, Jakarta.
  9. Marcuse, H., One Dimensional Man, Beacon Press, Boston, 1991.
  10. Murchland, B., Humanisme dan Kapitalisme, (terjemahan), Tiara Wacana, Yogyakarta, 1992.
  11. Rand, A., Capitalism: The Unknown Ideal, A Signet Book, New York, 1970.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. KERJA SEBAGAI MANIFESTASI BEING-WITH-OTHERS

    Being-with-other, term ini jika ditempelkan pada manusia maka akan memperlihatkan manusia sebagai mahluk sosial. Manusia sebagai mahluk sosial juga tercermin dalam kehidupannya sehari-hari. Manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup tidak bisa bekerja sendiri untuk memenuhinya.

    Kebutuhan hidup manusia pada pokoknya mempunyai dua macam kebutuhan yaitu kebutuhan materiil dan spirituil. Kebutuhan materiil merupakan kebutuhan primer yang artinya berhubungan langsung dengan hidupnya karena tanpa kebutuhan ini manusia tidak dapat bertahan hidup, kebutuhan ini adalah makanan, pakaian, tempat tinggal. Sedangkan kebutuhan spirituil adalah kebutuhan yang bersifat sekunder, seperti pemeliharaan dan pengembangan jiwa serta pikiran. Kebutuhan ini relatif sifatnya namun perlu dan penting bagi kelangsungan hidup manusia untuk maju dan baik.

    Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang materiil manusia harus melakukan kerja produksi. Manusia harus melakukan kerja produksi karena alam tidak bisa serta merta menyediakan kebutuhan manusia secara langsung, lain dengan binatang. Kebutuhan primer manusia tidak dengan begitu saja dapat ditemukan di alam guna memenuhi hal ini manusia harus mengolah alam terlebih dahulu karena alam secara langsung tidak sesuai dengan kebutuhan dan hakikat manusia baik alam objektif maupun alam subyektif. Kalau binatang dapat secara langsung memenuhi kebutuhannya. Kerja dalam hal ini adalah merubah suatu obyek, alam atau sosial, menjadi yang lain dan berguna.

    Kerja dalam proses produksi tidak dapat ditangani sendiri oleh satu manusia saja, melainkan manusia memerlukan dan mengadakan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya, hal ini biasa disebut sebagai hubungan produksi, yaitu hubungan antar manusia untuk memproduksi sesuatu. Dapatlah dilihat bahwa produksi sebenarnya bersifat sosial karena produksi selalu merupakan hasil kerjasama, hasil hubungan bersama antar manusia.

    Sekiranya dalam hubungan antar subyektivitas, kerja menempati posisi yang penting. Jika “being-with- others” merupakan ciri fundamental eksistensi maka “being- with others” menemukan eksistensi dalam kerja yang bersifat sosial, yaitu kerja produksi. Dalam pengertian diatas seharusnya dalam hubungan produksi inilah “being-with-others” terjadi karena tepat dititik inilah manusia yang hakekatnya adalah mahluk sosial terlihat dan kondisi-kondisi yang menghalangi seharusnya dihapuskan karena kalau tidak maka keunikan eksistensi tidak dimungkinkan. Namun perjalanan sejarah memperlihatkan bahwa justru manusia mengalami alienasi dalam kerjanya. Apresiasi patut ditujukan kepada seorang Jerman yang bernama Karl Marx, yang telah memperlihatkan bahwa system kapitalisme yang sedang berjalan inilah yang menyebabkan keterasingan dalam kerja produksi saat ini.

    “Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia” .

    Kerja merupakan tindakan dasar manusia.

    Persamaan yang paling mendasar dari setiap mahluk hidup yang paling alamiah adalah bertahan hidup. Manusia sebagai salah satu organisme dari rantai makanan, naluri alamiah ini ada pada dirinya. Kerja merupakan tindakan dasar manusia karena untuk bertahan hidup manusia memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal. Kebutuhan primer ini hanya dapat dipenuhi lewat kerja.

    Kerja produksi juga merupakan salah satu ciri pembeda dengan binatang. Binatang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dapat ia dapatkan secra langsung dari alam tanpa melalui proses, artinya apa yang diproduksi oleh alam dapat langsung dipakai untuk mempertahankan hidupnya. Sedangkan manusia merupakan mahluk ganda dalam pengertian di satu sisi manusia membutuhkan alam untuk hidup namun manusia tidak seperti binatang karena apa yang dihasilkan oleh alam tidak sesuai dengan kebutuhan manusia sehingga manusia hartus memproses hasil alam ini terlebih dulu sebelum dipergunakan. Hal demikian juga dapat disebut sebagai salah satu kegiatan khas manusia.

    “ Binatang langsung menyatu dengan dengan kegitan hidupnya….Manusia membuat kegiatan hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya.. Memang, bintang juga berproduksi. Ia membangun sarang, tempat tinggal, seperti lebah, berang-berang, semut, dst. Tetapi bintang hanya memproduksikan apa yang dibutuhkannya secara langsung bagi dirinya atau keturunannya, sedangkan manusia berproduksi secara universal.., bebas dari kebutuhan fisik; ia baru berproduksi yang sesungguhnya dalam kekbebasan dari kebutuhannya…manusia berhadapan bebas dengan produknya. Binatang berproduksi hanya menurut ukuran dan kebutuhan jenisnya, sedangkan manusia berproduksi mneurut ukuran setiap jenis dan dimana-mana memkai ukuran objek yang inheren; oleh karena itu manusia berproduksi menurut hukum keindahan”

    Masih juga berbeda, binatang bekerja di bawah tekanan naluri untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan manusia dapat bekerja sesuai dengan kehendaknya atau bebas dalam arti bahwa manusia bekerja tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja namun manusia dapat bekerja meskipun bukan untuk kelangsungan hidupnya saja, misalnya membuat perhiasan.

    Selain itu, universalitasan kerja manusia adalah manusia dapat memakai pelbagai macam cara untuk merealisasikan tujuan yang sama ( berbeda dengan bintang, jika manusia akan bepergian kesuatu tempat dia dapat enggunakan mulai dari jalan kaki, lari sampai memanfaatkan bintang sebagai alat transportasi) dan pemanfaatan sumber daya alam juga tidak hanya sesuai kebutuhan saja ( misalnya besi, dapat dipakai untuk alat pukul, baju besi, mesin, senjata, pemberat pancing, dll). Dan sepertinya hanya manusia yang terbuka pada nilai estetik.

    Alienasi dalam Kerja

    Kerja adalah sarana realisasi diri, dimana manusia mengobjektivasikan diri. Realisasi diri dimana manusia dapat menyatakan dirinya. Seperti contoh seorang pelukis yang menerjemahkan fantasinya keatas kanvas secara bebas dan universal, yang dilakukannya adalah dengan bepergian ketempat-tempat dimana sang pelukis mendapatkan ide.

    Alienasi, terjadi jika kerja tkdak dilakukan secara bebas dan universal. Artinya kerja yang dilakukan adalah terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan juga karena alat produksi sebagi milik perseorangan maka yang terjadi adalah penghambaan antara yang tak punya alat produksi kepada pemilik alat produksi, tentu saja nanti hasil kerjanya dimiliki oleh pemilik alat produksi sementara tenaga kerjanya hanya diberi upah hanya untuk agar dia bertahan hidup saja guna meneruskan proses produksi, kontrol atas hasil produksi pun tidak ada lagi, sehingga seharusnya nilai hasil produksi adalah nilai pakai kini erubah menjadi nilai tukar. Uang adalah simbol dari keterasingan hal ini.

    Kerja Sebagai Manifestasi Being-with-others.

    Kerja adalah tindakan dasar manusia. Sudah kita ketahui mengapa kerja bersifat sosial, hal ini karena dalam proses produksi manusia yang satu membutuhkan manusia yang lain. Dalam hubungan produksi yang berwatak dan bersifat kerjasama hasil dari kerja sama yang terbentuk secara sukarela dan demi kepentingan bersama adalah sebagai milik bersama. Hal ini terjadi karena alat produksinya merupakan milik sosial.

    Dalam hubungan produksi ini, karena hasil produksi dapat dikontrol oleh produsen maka keterasingan yang terjadi karena pemilika alat kerja pribadi tidak dimungkinkan. Ketika hasil kerja kita dapat memenuhi kebutuhan orang lain ternyata membuat orang lain gembira. Dan penerimaan dia atas pemberian kita merupakan bentuk menghargai yang paling mulia, karena hasil produksi kita dibutuhkan oleh orang lain. Pengakuan dari orang lain pun datang kepada kita begitupun sebaliknya. Seharusnya inilah yang terjadi bahwa nilai guna/pakai lebih penting ketimbang nilai tukar.

    “Karena itu-andaikata struktur masyarakat mengizinkan- kita sebenarnya lebih senang menghadiahkan hasil kerja kita kepada orang lain daripada menjualnya. Kita merasa dihormati apabila hasil kerja kita diterima oleh orang lain. Pekerjaan adalah jembatan antar manusia ”

    Jadi kerja sebagai manifestasi dari Being-with-other terletak pada hubungan produksi dan hasil produksinya, karena persis disinilah sifat sosial kerja terlihat yang selama ini ditutup-tutupi oleh kapitalisme.

    Bahan Bacaan:

    1. Magnis-Suseno, Franz, Pemikiran Karl Marx; dari sosialisme utopis sampai perselisihan revisionisme, 2001, Jakarta, Gramedia.
    2. Sastrapratedja. SJ, M, Manusia dan Permasalahnnya; butir-butir refleksi filsafat, 2004, Jakarta, STF Driyakara.
    3. Macquarrie, John, Existensialim, 1973, New York, Penguin books


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: