Islam Saya dan Islam Cak Nur

July 15, 2008 at 4:51 am | Posted in Artikel: Wawasan | Leave a comment

Islam Saya dan Islam Cak Nur

Aan Rukmana

(ACRoSS Researcher & Managing Director of ACRoSS)

Sore itu langit Jakarta mendung diselimuti kabut kesedihan. Atmosfer pesimisme kolektif merebak seketika. Struktur bangunan kebangsaan seakan ambruk. Roda aktivitas pun terhenti sesaat. Sebuah momen historis kepergian Sang Guru Bangsa. Tepat pada 29 Agustus 2005 lalu bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur telah tiada.

Sore itu saya duduk termenung sendirian di pelataran kampus Paramadina. Tidak ada kata yang terlontar atau imajinasi yang terabstraksi. Semuanya mengalir begitu saja dalam keheningan. Memang menjadi kebiasaan saya merenung di sore hari. Tiba-tiba lamunan sore itu pun pecah ketika datang serombongan mobil mengiringi mobil jenazah. Menurut kabar Cak Nur telah pergi. Antara percaya dan tidak percaya saya pun menyaksikan momen sore itu dengan diam. Hati saya pun membatin, “Benarkah Cak Nur telah tiada?”

Imajinasi ini terbang melayang menelusuri jejak waktu yang telah lampau, pada tahun 2001 ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Paramadina. Itulah saat pertama saya berjumpa Cak Nur. Ketika masa pro-training akan dimulai, panitia mengumumkan kepada peserta bahwa Cak Nur akan membuka acara pro-training di hari pertama. Mendengar pengumuman itu seperti mendengar kabar dari langit. Apalagi bagi saya yang selama ini hidup jauh di pedalaman Banten. Melihat langsung sosok Cak Nur jauh lebih berharga buat saya daripada acara pro-training itu sendiri. Ini yang selalu saya tunggu-tunggu dari dulu, bertemu tokoh besar bangsa ini.

Saat penting itu pun datang. Cak Nur dengan penampilannya yang sederhana, berkaca mata tebal diiringi senyum masuk ke auditorium, tempat kami mahasiswa baru berkumpul. Di awal pidatonya, Cak Nur berkata: ”wahai anak-anakku, memasuki perguruan tinggi itu seperti memasuki samudera luas. Tidak ada batasan di dalamnya, karena batasan itu adalah batasan kita sendiri. Maka pergunakanlah keluasan itu untuk mengembangkan kreativitas kalian. Tidak usah takut gagal kalau sudah berusaha, karena kegagalan setelah berusaha itu mendapatkan nilainya sendiri.” Mendengar tutur Cak Nur yang begitu mengalir dan inspiratif saya teringat dengan ajaran yang dulu saya dapatkan di pesantren. Akan tetapi ulasan yang kontekstual dan diperkaya dengan ilustrasi terkini menjadikan pesan-pesan itu genial dan mencerahkan.

Hari itu saya seperti Musa yang menerima Sepuluh Pesan Tuhan di Bukit Thur Sina, atau Barman yang mendapatkan ”pencerahan hidup” setelah berjumpa dengan Humam seperti dikisahkan Kuntowijoyo lewat novel mistiknya, Khotbah di Atas Bukit. Hari itu menjadi momen erlebnis bagi perkembangan ke-Islaman saya. Sejak saat itu saya mulai mempelajari pemikiran Cak Nur.

Setelah sekian lama menelusuri pemikiran Cak Nur, saya menyadari bahwa Islam yang saya dapatkan selama ini adalah ”Islam Pedesaan” bukan ”Islam Perkotaan”. ”Islam Pedesaan” selalu menjadikan fiqih sebagai sentralnya, sedangkan ”Islam Perkotaan” meliputi seluruh dimensi ajaran Islam mulai dari fiqh, kalam, falsafah hingga tasawwuf. Otoritas tertinggi dalam ”Islam Perkotaan” terletak pada diri masing-masing. Penafsiran atas teks terbuka lebar bagi siapapun. Tidak ada ketentuan mutlak mana yang lebih benar dari sebuah penafsiran. Di sini teks menjadi otonom untuk ditafsirkan. Berbeda dengan ”Islam Pedesaan” di mana induk seluruh penafsiran bermuara pada pemegang tampuk institusi agama. Apakah itu seorang kyai, ustadz, rahib, pendeta atau pemangku jabatan keagamaan lainnya. Di sinilah terjadi institusionalisasi agama. Ukuran dari kebenaran adalah seberapa dekat kebenaran itu dengan kebenaran pemimpin agamanya. Posisi Tuhan telah diganti oleh pemimpin agama.

Fondasi yang melandasi seluruh dinamika ”Islam Perkotaan” adalah logos, sedangkan basis pembangunan ”Islam Pedesaan” adalah mitos. Andai logos itu cahaya maka mitos adalah kegelapan. Sebuah keniscayaan logis jika di balik ”Islam Perkotaan” itu muncul impian besar membangun peradaban luhur. Peradaban yang berpilarkan ilmu pengetahuan. Inilah model Islam modern yang dulu pernah lahir tapi kini hilang diterjang skeptisisme panjang akibat merebaknya model ”Islam Pedesaan” yang berbudayakan taklid.

Menurut Cak Nur sumber lahirnya peradaban luhur itu adalah tawhid (Madjid, 2005: 72). Ajaran tawhid (monoteisme radikal) membawa implikasi pada pembebasan manusia. Manusia bebas dari apapun (free from) dan untuk melakukan apapun (free for). Kebebasan ini merupakan anugerah terbesar manusia. Karena unsur kebebasan inilah konsep surga dan neraka menjadi sesuatu yang rasional. Sisi pertanggungjawaban manusia diafirmasi oleh adanya kebebasan manusia. Konsekuensi logis lainnya adalah manusia memiliki tugas menata dunianya. Penataan dunia menjadi proyek ilmu pengetahuan. Alam yang selalu bersembunyi di balik misteri tersingkap perlahan-lahan oleh ilmu pengetahuan. Manusia menjadi berani menjamah alam. Pada akhirnya alampun benar-benar mengalami desakralisasi. Meski manusia memiliki kebebasan mengeksploitasi alam, tapi pertanggungjawaban tetap ada pada dirinya. Menghancurkan alam sama dengan menghancurkan eksistensi dirinya sendiri.

Dari beberapa tulisan Cak Nur ditemukan bahwa dalam Islam tidak ada konflik antara agama dan sains. Dari awal kelahiran Islam, agama dan sains selalu berjalan harmonis. Alih-alih menjadi lawan, justru agama mendorong lahirnya gerakan intelelektual di dunia Islam. Berbeda dengan kondisi Eropa Abad Pertengahan di mana agama dan sains bermusuhan. Bahkan tidak jarang banyak ilmuwan diinkuisisi oleh kalangan agama karena penemuannya bertentangan dengan tafsir lahiriah Kitab Suci. Menurut Cak Nur yang muncul kemudian di dunia Islam adalah kejumudan akibat berhentinya ijtihad (berpikir). Untuk urusan ilmu pengetahuan seluruh umat Islam bersepakat, akan tetapi untuk urusan agama umat Islam terpecah belah ke dalam beberapa golongan. Perpecahan ini semakin mengkristal ketika masing-masing membawa simbol agama.

”Islam Perkotaan” di samping mendorong lahirnya ilmu pengetahuan juga mendorong terciptanya masyarakat yang egaliter di hadapan hukum. Siapapun—tanpa melihat jabatan yang disandangnya—berdiri sama di hadapan hukum. Tidak ada perlakuan khusus bagi si pelanggar hukum. Di sini antara kyai dan santri sama saja posisinya. Di sini posisi keadilan ditegakkan setinggi-tingginya.

Seketika saya terperanjat dari lamunan itu. Seorang teman menepuk punggung sambil berkata, ”ayolah jangan melamun terus, Cak Nur telah pergi, ayo kita bacakan al-Qur’an.” Saya baru sadar kalau tadi terbawa hanyut pengalaman lama ketika awal berjumpa Cak Nur. ”Oh demikian berartinya Cak Nur untuk pencarian Islam saya. Saya benar-benar merasa kehilangan dirinya.” demikian lirih saya ke sahabat yang tadi membangunkan.

Untaian pesan Cak Nur yang dulu di sampaikan pada awal perkuliahan kini kembali mengiang-ngiang di telinga. Bagi saya posisi Cak Nur jelas, ia ingin mengajarkan orang lain beragama sesuai dengan pencarian jati dirinya. Antara Islam seseorang dengan yang lainnya tentu berbeda. Cak Nur telah menempuh perjalanan panjang menuju Islam versi dirinya. Islam Cak Nur berbeda dengan Islam Saya.

Kadang muncul kekhawatiran pada diri saya karena tidak jarang kematian seorang tokoh besar meninggalkan jejak para penerus yang kaku. Mereka menjadikan tokoh itu ”penjara” bagi kebebasan mereka sendiri. Batasan kebebasan pemikiran sang penerus adalah sosok yang diteruskannya itu. Seringkali penganjur ”kebebasan” diikuti oleh orang-orang ”anti-kebebasan.” Proposisi ini tidak berlaku buat saya, apalagi bila dikaitkan dengan Cak Nur yang mana selama hidupnya mendorong orang lain untuk beragama otentik. Model keberagamaan otentik yang dimaksud Cak Nur adalah keberagamaan sebagai dinamika yang berproses menuju hakikat keberagamaan yang paling dalam. Beragama merupakan perjalanan panjang tanpa henti (becoming). Demikian wasiat Cak Nur yang hingga saat ini selalu menjadi pedoman pencarian keislaman saya. Semoga Cak Nur selalu mendapat ketenangan di alam sana.

Jakarta, 13 Juli 2008

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: