‘Filsafat Islam Perlu Dihidupkan Lagi’
January 13, 2009 at 6:44 am | In Uncategorized | Leave a CommentRepublika, Rabu, 07 Januari 2009 pukul 07:58:00
JAKARTA — Umat Islam diingatkan untuk menghidupkan kembali filsafat Islam. Inteletual Muslim, Dr Haidar Bagir mengatakan, kehadiran filsafat Islam yang telah ‘mati’ sangat diperlukan kaum Muslimin di era modern ini. Filsafat Islam, tutur dia, dapat memberi manfaat bagi kehidupan umat.
”Filsafat Islam bisa mengembalikan makna hidup yang sebenarnya,” ungkap pendiri Islamic College for Advanced Studies (ICAS) itu di sela-sela acara A Set of Conferences Across Java di Jakarta, Selasa (6/1). Presiden Direktur Mizan itu menambahkan, akibat tak mengetahui dan mengenal filsafat Islam, masyarakat Indonesia seakan telah kehilangan pegangan dan makna hidup.
Menurut Haidar, filsafat Islam bisa mendorong kaum Muslim benar-benar memahami kompleksitas persoalan pembangunan sistem-sistem kehidupan alternatif. Hanya dengan menguasai isu-isu filosofis mendasar, papar dia, kaum Muslim dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang.
Continue reading ‘Filsafat Islam Perlu Dihidupkan Lagi’…
Avicenna, the sage and the philosopher
November 18, 2008 at 4:26 am | In Uncategorized | Leave a Comment| Avicenna, the sage and the philosopher Fri, 14 Nov 2008 15:04:13 GMT Ismail Salami, Press TV |
|
Abu Ali Al-Husayn ibn Abdullah ibn Sina known as Avicenna was born into a middle class family in Afshanah, near Bukhara. His father was a governor of the Samanid dynasty. After the death of his father, he began a period of wandering and turmoil. He sojourned for some time in Gurgan, Qazvin, Hamadan and Isfahan. A precocious genius, he is said to have cured the Samanid Amir Nuh Ibn Mansur at the age of 17, and by the time he was 18, he was accomplished in all branches of science. Avicenna, also known as Shaykh al-Ra’is (Master and Head) died near Hamadan and was buried there. His scientific status won him different epithets such as Shaykh al-Ra’is, Hujjat al-Haq, Sharaf al-Mulk and Imam al-Hukama. Avicenna’s philosophy is composed of basic elements such as peripatetic philosophy of Aristotle, and a portion of Neoplatonic specific cosmological elements in synthesis with Islamic world vision. With all that, he is more a follower of Aristotle than others. Yet, he does not follow Aristotle blindly and imitatively. With his own initiatives, he shed light on the dark aspects of Aristotelian thought and endeavored to establish a new philosophical system by using Platonic and Neoplatonic thinking. |
Teori Evolusi Charles Darwin
November 1, 2008 at 8:46 am | In Uncategorized | 3 Comments3 Desember, 2007
TEORI EVOLUSI CHARLES DARWIN
Oleh: Drs. Bambang Agus Suripto, SU., M.Sc. (Dosen Fakultas Biologi UGM)
“In 1831 the Englishman set forth on his famous vayage in the Beagle. After 28 years he published Origin of Species, which revolutionized man’s view of nature and his place in it” (Loren C. Elseley, February 1956)
Pendahuluan
Sejak dahulu kala manusia selalu mempertanyakan asal-usul kehidupan dan dirinya. Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut ada tiga altenatif, yaitu penciptaan, transformasi, atau evolusi biologi.
Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek biologi yang dikaji. Beberapa definisi yang umum dijumpai di buku-buku biologi, antara lain: evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan-perubahan yang dialami makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang lama dan diturunkan, sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species baru: evolusi adalah perubahan frekuensi gen pada populasi dari masa ke masa; dan evolusi adalah perubahan karakter adaptif pada populasi dari masa ke masa. Evolusi telah mempersatukan semua cabang ilmu biologi.
Perubahan pemikiran Harun Yahya tentang Teori Evolusi
November 1, 2008 at 8:11 am | In Uncategorized | 6 CommentsDapat info dari mailinglistnya pak Andya Primanda (pengamat sains).
Beritanya dapat disimak di sini:
http://www.turkishdailynews.com.tr/article.php?enewsid=116328
Magister ICAS Enrollment Program 2009
October 31, 2008 at 9:08 am | In Uncategorized | Leave a CommentThe New Student Registration Program 2009
ICAS-Paramadina Jakarta – Indonesia
Master Degree (MA) of Islamic Philosophy and Islamic Mysticisms
Pre-Registration Requirement:
1.One Copy of Identity Card
2.Color Photo size 2 x 3 and 3 x 4 (@ 6 piece)
3.Copy of Certificate academic (legalized by the university)
4.Copy of Academic Transcript (legalized by the university)
5.To pay the registration and entrance test fee Rp 150.000
6.To fill the pre-registration form and follow the entrance test (Written Test & Interview)
The requirement to study at Preliminary semester:
The new student should pay the for course preliminary semester about Rp 1.500.000 (for tuition fee),
Other informations:
1.The Pre-registration period:
November 1, 2007 – to February 17, 2009
2.The entrance test will be held in ICAS Campus (Pondok Indah Plaza III, Blok F5, Jl. TB.Simatupang, South Jakarta Indonesia):
· Written Test: Thursday, February 19, 2009 at 9.30.am – end.
· Interview: Friday-Saturday, February 20-21, 2009, at 10.00 am – end (The schedule of the interview will be determined by the committee).
3.The announcement of the result of entrance test:
Februari 28, 2009.
4.The Re-registration period of the student who has passed the Entrance Test will be held:
on Februari 28, 2009 – March 10 , 2009.
5.The course start on March 14, 2009.
6.The course will be held at Saturday and Sunday (at 9 am to 5 pm)
7.For more information and detail of the program, please contact:
Islamic College For Advanced Studies (ICAS) Jakarta,
Pondok Indah Plaza III, 3rd floor, blok F-5, T.B Simatupang Street, South Jakarta 12310, Indonesia .
Phone: (021) 765-1534 , Fax. (021) 765-1601.
CP: Mr. Samantho, Mrs.Syaefuddin
E-mail: icas_jakarta@yahoo.co.id, ay_samantho@yahoo.com, ahmadsamantho@gmail.com
Website: http://www.icas-indonesia.org
Sains dan Pencarian Makna
September 22, 2008 at 4:04 am | In Seminar-seminar, Uncategorized | Leave a CommentSains dan Pencarian Makna
Menyiasati Konflik Tua antara Sains dan Agama*
Dr. F. Budi Hardiman
Di samping agama dan filsafat, sains merupakan salah satu bentuk pengetahuan manusia yang gigih mencari makna. Mungkin sains tidak menuntaskan banyak misteri kehidupan manusia, seperti misteri asal-usul kehidupan dan misteri kematian, namun langkah-langkah untuk memecahkan enigma-enigma seperti itu tampaknya berjalan progresif dalam sains. Kesan bahwa sains ingin menyaingi agama atau bahkan menggantikannya dalam perannya sebagai juru tafsir dunia cukuplah beralasan. Sains berambisi menjadi sistem pandangan dunia menyeluruh, dan itulah yang terjadi dalam scientism. Di dalam saintisme kesahihan agama dalam memaknai dunia ditolak. Di tengah-tengah dominasi saintistis itu di abad ke-20 terjadi suatu tren yang sebaliknya: Kesahihan sains dalam memaknai dunia juga dipersoalkan.
Secara garis besar ada tiga posisi untuk memahami hubungan antara sains dan agama dalam pencarian makna. Dengan “makna” di sini dimaksudkan terutama ‘kebenaran’. Pertama, sains dan agama memiliki teritorium yang berbeda dalam pencarian makna. Kedua, agama dan sains dapat dibawa ke dalam arena yang sama dalam pencarian makna. Dan ketiga, agama dan sains menerangi realitas yang sama namun dengan perspektif yang berbeda. Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bagaimana filsafat sains kontemporer bergerak ke posisi kedua dalam pencarian makna. Setelah itu saya ingin memberi evaluasi dengan mempertahankan posisi ketiga.
Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan
August 11, 2008 at 6:44 am | In Uncategorized | Leave a CommentWawancara dengan Anies Baswedan:
Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan
Wahyuana
Jakarta – Usianya baru 39 tahun, namun pemikiran Anies Baswedan dianggap begitu berpengaruh, sehingga majalah Foreign Policy menempatkan rektor Universitas Paramadina ini dalam urutan ke 60 dari 100 intelektual top dunia.
Mengkritisi dominasi pendekatan kebudayaan terhadap konflik-konflik Muslim-Barat, ia meyakini bahwa konflik-konflik itu tak dipicu oleh identitas budaya, agama atau peradaban, melainkan oleh sebuah kalkulasi kepentingan. Ia menjelaskan konsep ini ketika diwawancarai oleh jurnalis dari Jakarta, Wahyuana.
Continue reading Benturan Peradaban atau Kalkulasi Kepentingan…
A Philosophical Basis for Inter-Religious Dialogue: Dr. Max Stephens
July 21, 2008 at 7:06 am | In Uncategorized | Leave a CommentBeasiswa BA/S-1 International Islamic Studies at ICAS Jakarta 2008
July 16, 2008 at 4:04 am | In Uncategorized | Leave a Comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.











