Intelejensia & Kreatifitas: Berevolusi ataukah Permanen?
December 9, 2008 at 9:27 am | In Artikel: Wawasan, Foto-foto Seminar ACRoSS | Leave a CommentHari Ahad/Minggu, 7 Desember 2009 kemarin, Prof.Dr. Elisabet Shahtourist dan Prof.Dr. Osman Bakar, hadir di ICAS Jakarta dalam sebuah Dialog tentang: “Intelegensia dan Creativitas: berevolusi atau Permanen?”.
Dialog ini juga dihadiri oleh Prof.Dr. Mulyadhi Kartanegara, Dr. S.M. Tabatabei Yazdi (Direktur ICAS Jakarta), dan Husain Heriyanto, M.Hum (Direktur ACRoSS-ICAS), serta sekitar 20-an hadirin dari kalangan peneliti ACRoSS, Dosen-dosen ICAS dan beberapa Peneliti dari Universitas Indonesia serta para mahasiswa ICAS.
ROUNDTABLE DISCUSSION
BERSAMA
PROF. ELISABET SAHTOURIS
DAN
PROF. OSMAN BAKAR
“Apa itu Intelijensia? Apakah itu sesuatu yang berevolusi di sepanjang sejarah umat manusia? Ataukah sesuatu yang memiliki permanensi dalam waktu? Atau adakah kombinasi antara evolusi dan permanensi?”
Itulah beberapa pertanyaan yang ingin dieksplorasi lebih lanjut dalam Round Table Discussion (RTD) ACRoSS bersama Prof.Dr. Elisabet Sahtouris dan Prof.Dr. Osman Bakar pada 7 Desember 2008 di ICAS Jakarta. Tema dari RTD tersebut adalah “Intelegensia dan Kreativitas: Berevolusi atau Permanen?”
Continue reading Intelejensia & Kreatifitas: Berevolusi ataukah Permanen?…
After Darwin
November 29, 2008 at 6:08 am | In Artikel: Wawasan, Seminar-seminar | Leave a Commenthttp://www.big-picture.tv/transcripts/Elisabet Sahtouris.pdf
The following is mirrored from its source at: http://www.big-picture.tv/transcripts/Elisabet Sahtouris.pdf
After Darwin
Dr. Elisabet Sahtouris talks to Big Picture about reuniting
spirituality with science in order to form a new world view
30 August 2003
Wasan Island, Canada
a Barbara Luna Production
Part One:
Humanity in crisis, sustainability, learning from living systems
You may wonder what an evolution biologist is doing on a “World Commission for Global Consciousness and Spirituality” and that certainly is an interesting question. Because I wouldn’t have guessed myself that I would be doing this kind of work. But trained as a western scientist I came to feel that the world view I was taught was too narrow, like a suit one had outgrown, and was searching for the broader context for what a Western science would be. I’ve been working on that now for quite a few decades and have come to the view that consciousness is not a late emergent product of a material evolution but the exact opposite, the source of all material evolution. So I’ve come to believe that spirituality and science were separated only for historic reasons and that it’s time now to reunite them in a single world view that can encompass the best of our spiritual traditions and the best of our scientific traditions.
Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma
November 20, 2008 at 8:52 am | In Artikel: Wawasan | Leave a CommentCatatan Raedaksi:
Haidar Bagir meraih gelar Master di Harvard U, mengadakan penelitian di Indiana University dan menjadi Visiting Specialist di University of the Sciences di Philadelphia; ke semuanya sebagai Fulbrighter.
Haidar Bagir:
Diperlukan Perubahan Paradigma
– Ninuk Mardiana Pambudy & Bre Redana
SUKSES film ”Laskar Pelangi” dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.
Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang,” kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.
Continue reading Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma…
Alam Semesta sebagai Hologram
November 13, 2008 at 3:13 am | In Artikel: Wawasan | 2 CommentsAlam Semesta sebagai Hologram
— On Sun, 11/9/08, Yusuf Ahmad Shiddiq <yusufshiddiq@ …> wrote:
Date: Sunday, November 9, 2008, 12:19 PM
Your journey is towards your homeland. Remember you are traveling from the world of appearances to the world of Reality.
-’Abd’l-Khaliq Ghijuduwani
Consciousness and the New Physics:
http://twm.co. nz/consc_ phys.htm
Reality and Consciousness:
http://twm.co. nz/prussell. htm
Science proves mind’s power over matter
http://twm.co. nz/teleg_ PK.htm
Translated to Bahasa Indonesia taken from:
http://www.rense. com/general69/ holoff.htm
Alam Semesta sebagai Hologram
Buku: Michael Talbot – The Holographic Universe
Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain. Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.
A RESPONSE TO DR. HAIDAR BAGIR on Darwinisme
October 28, 2008 at 10:18 am | In Artikel: Wawasan | 2 CommentsA RESPONSE TO DR. HAIDAR BAGIR
Sources: www.darwinism-wacth.com
An article by Dr. Haidar Bagir titled “Islam and the Theory of Evolution – A Response to Harun Yahya” has appeared in the magazine Republika, which is published in Indonesia, the country with the world’s largest Muslim population. In this article, dated March 14, 2003, Dr. Bagir criticizes the author’s books and writings on the theory of evolution.
We would first of all like to express our delight that our Muslim brothers in Indonesia have great interest in and support for Harun Yahya’s works. In this way, Indonesian Muslims have once again revealed their enormous sensitivity to matters of faith, the basis of Islam, as well as displaying the exemplary behavior befitting believers.
Dr. Bagir’s article is also a most auspicious development. Even if we do not share the views he expresses, he has become a means whereby this important subject has once again been brought onto the country’s agenda.
Continue reading A RESPONSE TO DR. HAIDAR BAGIR on Darwinisme…
KEKUATAN SEBUAH TEORI
October 18, 2008 at 6:10 am | In Artikel: Wawasan | Leave a CommentKEKUATAN SEBUAH TEORI
DIBALIK PERISTIWA KEMERDEKAAN RI — 17 AGUSTUS 1945
(C) 2006—2008 — EE ONE S
BAGIAN PERTAMA
Quote:
Apa pun kata orang atau alasannya, secara implikasi logis kausalitas atau hukum sebab-akibat, seandainya tak ada Albert Einstein, Amerika Serikat tidak atau belum berhasil membuat bom nuklir pada 17 Juli 1945, dan Indonesia mungkin tidak atau belum merdeka pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan Indonesia memang adalah Rahmat Tuhan YME, dan Tuhan memberikan jalannya melalui realisasi Teori Khusus Relativatitas Einstein dalam proyek bom nuklir AS yang membumihanguskan dua kota inti di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pada 6 dan 9 Agustus 1945, sehingga Jepang bertekuklutut terhadap Sekutu, dan Indonesia Merdeka.
Sains tanpa agama adalah pincang, dan agama tanpa sains adalah buta.
Science without religion is lame, and religion without science is blind.
ALBERT EINSTEIN (1879–1955)
fisikawan dan kosmologiwan
Beyond Ideology
August 23, 2008 at 3:42 am | In Artikel: Wawasan | Leave a CommentBeyond Ideology
Dipresentasikan oleh E. Sri Mulyati pada kajian buku William Chittick
Science of the Cosmos, Science of the Soul
Salah satu aturan yang dimainkan oleh suatu tradisi intelektual adalah membantu memahami sifat-sifat ideology. Program sosio-politik apapun yang dibangun berdasarkan analisis-analisis tentang human nature (tabiat manusia) saat ini, cenderung rasional-saintifis. Dengan demikian, inilah ideology yang berakar pada teori humanistik-sekular yang tumbuh di masa pencerahan (renaisance). Ini tidak termasuk agama tradisional, yaitu bentuk premodern dari pemikiran religius, meski itu sudah termasuk macam-macam bentuk politisasi keagamaan yang lumpuh bersamaan sebagai fundamentalisme, bahwa mereka mewakili jenis tertentu dari pemikiran modern.
Ideology menyediakan suatu kerangka teoretis bagi seluruh pemikiran politik dan sosial di dunia moderm, jadi tidak bisa terlepas dari pengaruhnya. Tradisi intelektual bisa menyarankan beberapa cara, yang mana kita sebagai individu dapat mengarahkan kedatangannya.
Paradigm Shift in Philosophy of Science: into Islamic Epistemology
July 28, 2008 at 6:52 am | In Artikel: Wawasan | Leave a Comment
Holistics & Integralistics ParadigmÓ
By:
Ahmad Y Samantho,
“AND ALLAH HAS BROUGHT YOU FORT FROM THE WOMBS OF YOUR MOTHER – YOU DID NOT KNOW ANYTHING – AND HE GAVE YOU HEARING AND SIGHT AND HEARTS THAT YOU MAY GIVE THANKS.”
( QS AN-NAHL, 16: 78 )
I. INTRODUCTION
A. Multi Dimensional Crisis caused by Western-Secular Paradigm in Sciences’ Development
Dr. Armahedi Mahzar said in his Introduction for Hussain Heriyanto Book of “Paradigma Holistik” that in second medieval of the late century, there had been happen paradigm shift or inclination to changes into more new paradigm in sciences. Paradigm is a philosophical assumption that becomes basics or fundamental principles for any field of civilization such as science and technology. The dominant paradigm in the beginning of the last century is materialistic-mechanistic paradigm which known as Cartesian-Newtonian Paradigm.
The success of Newton theory of gravitation and mechanics, had strengthened by another theory such as hypothetic-deductive method which rational-speculative that develop by Rene Descartes, with ‘over’ (extreme) experimental-inductive and objective-empiric method, develop by Roger Bacon.
Continue reading Paradigm Shift in Philosophy of Science: into Islamic Epistemology…
Merayakan Keseluruhan: Menjajaki Padadigma Holistik dalam kehidupan Sosial
July 28, 2008 at 6:32 am | In Artikel: Wawasan | Leave a CommentMerayakan Keseluruhan:
Menjajaki Paradigma Holistik dalam Kehidupan Sosial[1]
Hardiansyah Suteja[2]
Abstraksi
Pandangan-dunia modern adalah logika keterpilahan dan keterpisahan serta subjektivisme-antroposentrisme. Secara filosofis, peradaban modern disinari paradigma Cartesian-Newtonian[3]. Suatu pandangan dunia mekanistik-deterministik-reduksionistik-atomistik- instrumentalistik-linearistik, yang menempatkan manusia sebagai bagian (parsial), sebagai pusat sesuatu secara keseluruhan. Manusia modern adalah nonpartisipan dalam menjalani kehidupan. Manusia modern adalah manusia yang teralienasi dan manusia ter-reifikasi. Manusia modern adalah manusia yang tanpa dunia-organis. Peradaban modern mewariskan, salah satunya, persoalan dualitas.
Rene Descartes (1596-1650), Bapak Filsafat Modern, dianggap orang yang kali pertama sukses membangun sistem filsafat secara sistematis dalam keterpilahan antara jiwa dan tubuh atau res cogitans dan res extensa. Pandangan Descartes diikuti maupun dikukuhkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Dalam perkembangannya, pandangan dualisme bersifat linear-deterministik-reduksionistik-atomistik- instrumentalistik. Pandangan ini melihat segala sesuatu secara serba terpilah dan dikotomis. Realitas yang kompleks, kesalinghubungan dipandang hanya sebagai kumpulan balok atom. Layaknya puzzle realitas dicopot satu per satu, kemudian dari pengamatan terpilah tersebut digabungkan, dan kemudian dikuantifikasikan.
Pandangan tersebut sejatinya, selain gagal dalam menangkap realitas secara utuh atau holisitik, pandangan ini, yang kemudian dikenal dengan paradigma Cartesian-Newtonian[4], turut menyumbangkan krisis kompleks dan multidimesional. Seperti, krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, serta ancaman krisis lainnya. Tulisan berikut berusaha menyoal itu. Dari mana pandangan-dunia modern mengakar? Apa saja implikasi dari pandangan ini? Kenapa pandangan ini tidak mampu membingkai realitas secara utuh dan menjawab persoalan secara holistik? Kemudian, mengingat paradigma tersebut muncul kali pertama pada ranah sains, bagaimana implikasi paradigma holistik pada ranah sosial, baik itu mulai dari ilmu-ilmu sosial (social sciences/studies) hingga kehidupan harian atau sosial?
Katakunci: alienasi, reifikasi, dualisme, worldview (pandangan-dunia), keseluruhan, modern.
Continue reading Merayakan Keseluruhan: Menjajaki Padadigma Holistik dalam kehidupan Sosial…
“Faith & Reason” by Seyyed Mohsen Miri, Ph.D
July 21, 2008 at 7:51 am | In Artikel: Wawasan | Leave a CommentPresentasi Seminar Faith and Reason oleh Dr. Seyyed Mohsen Miri Eisya, Ph.D
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.





